Artikel
20 April 2016 | 08:54 wib Home » Artikel » Detail

Refleksi Milad PKS ke-18

image

Kamal Fauzi


Oleh: Kamal Fauzi

Hari Rabu ini (20/4) PKS genap berusia 18 tahun. Meskipun PKS dideklarasikan pada 20 April 2002, namun sejarahnya adalah kelanjutan dari PK yang dideklarasikan pada 20 Juli 1998. Proses metamorfosa ini akibat dari kegagalan PK memenuhi Electoral Treshold sebesar 2% pada pemilu 1999 yang mengharuskan PK berganti nama. Inilah mengapa milad PKS besok dihitung sebagai usia ke-18, bukan ke-14.

 

Sebagai partai dakwah, PKS hadir dan bersentuhan dengan ormas dakwah yang telah eksis sebelumnya. Baik NU, Muhammadiyah, Persis, Hidayatullah, Masyumi, dll. PKS juga berinteraksi dengan paham – paham lain diluar islam, mulai dari nasionalis, sosialis, sekuler hingga abangan. Harus diakui bahwa proses interaksi yang terjadi sangat dinamis, mulai dari kerjasama, kompetisi hingga konflik. Dan itu terjadi baik ditingkat elit, diparlemen hingga pada tataran akar rumput.

Membentuk Jati diri

Sebuah entitas baru biasanya muncul dengan ide baru, atau muncul sebagai antitesa dari ide dan konsepsi lama. Begitu pula dengan PKS. Ia tidak membuat hal yang baru. Namun ia mengemas konsepsi lama dengan bahasa yang menyesuaikan zaman, dengan spirit religiusitas yang tetap bercorak ideologis.

Jika mau menelisik lebih dalam, PKS sebenarnya juga menjadi rumah bagi banyak kalangan. Ada yang berlatar belakang nahdiyin, muhammadiyah, persis, dan lainnya. Sebagiannya, bergabung ke PKS dengan corak amaliyah ibadahnya masing – masing. Ada yang senang berziarah, tahlilan, yasinan, istighosah, qunut, tapi adapula yang tidak mengamalkan. Meskipun isinya beragam, tapi publik lebih sering sering mengasosiasikan PKS sebagai golongan yang anti terhadap amaliah tersebut. Ini pergumulan PKS diantara kalangan Islam.

Interaksi budaya entitas PKS dengan kalangan nasionalis dan abangan juga mengalami problematika tersendiri. Sebagian mulai melebur namun masih lebih banyak yang menjaga jarak dengan tradisi dan adat budaya sekitar pernikahan, kelahiran, kematian, sedekah bumi, kesenian wayang.

Interaksi Agama dan Budaya

Islam tidak diturunkan diruang hampa. Syariat islam diturunkan pada sebuah komunitas yang memiliki adat, tradisi dan paham tertentu. Ternyata, pola interaksi yang terjadi cukup beragam, tidak tunggal sebagaimana sangkaan sebagian pihak.

 Ada diantara tradisi lokal (Quraisy) yang dikukuhkan dan dikuatkan. Contohnya adalah tradisi bermusyawarah. Ada kebiasaan yang diatur dari praktek sebelumnya. Misalnya masalah poligami dan perceraian. Dan adapula adat yang dilarang seperti praktek riba, minum khamr dll yang sudah tertanam kuat. Selama ini, kader PKS umumnya terpaku pada pola yang ketiga dimana budaya yang tidak berasal dari Islam, tidak lahir dari kultur islam berstatus haram dan harus dijauhi.

 Beragamnya pola interaksi antara syari’at dan budaya tersebut harus bisa menjadi cermin bagi PKS. Ini bukan sekedar masalah halal haram, tapi dimaknai proses perubahan dalam bingkai dakwah yang harus berjalan secara bertahap. Ini juga tentang kemampuan beristinbath para ulama yang berada di dewan syari’ah, khususnya metode qiyas, istihsan, maslahah mursalah, maqashid syari’ah, urf, dan sebagainya.

 Alhasil, ada banyak produk budaya dan amaliyah yang bisa dilakukan oleh PKS secara massif. Diantaranya adalah budaya gotong royong, konsep narimo ing pandum, pemakaian batu akik, dan hal lainnya yang bisa dilakukan oleh PKS. Tapi terhadap budaya metani, karakter jail methakil, tradisi lembu peteng, memang harus dijauhi. Tentu dengan bil hikmah wal mau’idzatil hasanah wa jaadilhum billati hiya ahsan.

Terhadap amaliyah yang telah diwariskan oleh para ulama terdahulu seputar tradisi pernikahan, kelahiran, kematian, dan sebagainya, maka PKS menganggapnya sebagai masalah khilafiyah. Baik para ulama yang menerima maupun yang menolak sama – sama memiliki dalil dan hujjah. Jadi pertimbangan PKS lebih pada dipenuhinya hak – hak berukhuwah dan hidup bermasyarakat.

Gotong Royong : Watak asli orang Indonesia

PKS yang lahir dan besar di Indonesia dan bercampur dengan tradisi lokal yang ada, ingin menyegarkan kembali nilai-nilai luhur bangsa yang mulai terkikis. Gotong-royong, salah satunya. Gotong royong, yang sejatinya adalah konsep saling membantu ini, dapat diaplikasikan ke berbagai macam bentuk dan jenjang struktural bermasyarakat.

Masyarakat Indonesia sejatinya, selalu melestarikan konsep ini, baik secara kultural maupun struktural. Bentuk gotong royong struktural dapat kita lihat dengan hadirnya kelompok Gemar Menanam, Perpustakaan Keliling, Bank Sampah, hingga Sedekah Rombongan. Bentuk struktural, juga telah digulirkan melalui Korporasi, seperti aplikasi kegiatan-kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility).

Gotong royong di setiap lini kehidupan masyarakat, sejatinya sudah kita lakukan. Hanya saja, dewasa ini mulai terkikis dan jika tidak ada pelopor di masyarakat, lambat laun akan hilang. Sebagai contoh, di tingkatan terkecil, lingkungan tempat tinggal kita. Jika ada jalan umum yang lubang kecil-kecil, secara gotong royong, langsung ditambal oleh masyarakat sekitar. Bukan pada mindset, menunggu proyek dari pemerintah, untuk mengatasi hal ini. Pada tingkatan antar daerah, dapat dilakukan dengan Gotong Royong regulasi. Seperti pada reklamasi Tanjung Mas, yang kemudian berdampak pada hilangnya beberapa desa di Kabupaten Demak. Hal ini seharusnya dapat dilakukan dengan gotong royong yang baik antar daerah. Hal tersebut dapat dilakukan dan membutuhkan hadirnya tokoh pelopor.

PKS yang juga sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, telah lama menjadi bagian dari budaya gotong royong ini. Paling jelas adalah gotong royong secara kultural. Sebagai contoh yang terjadi di Jawa Tengah, pada bencana longsor di Banjarnegara, PKS menurunkan kadernya dari luar Banjarnegara untuk membantu, secara bergiliran.

Saat ini PKS mengemas kembali konsep tersebut dalam payung Rumah Khidmat PKS. Rumah Khidmat tersebut, terdiri dari Rumah Cerdas, Rumah Sehat, Rumah Peduli, Rumah Konsultasi Syariah, Rumah Aspirasi dan Rumah Dakwah. Hadirnya Rumah Khidmat ini diharapkan menjadi bagian dari pemantik Gotong Royong dimasyarakat, secara kultural.

 

Dimuat dalam Wacana Harian Suara Merdeka tgl 22 April 2016

( Ped )

Baca Lainnya:

UPDATE

02 Februari 2017 | 13:33 wib

Anda Jomblo? Mau Nikah? Silahkan Beli Hantaran Menarik Karya PKS Kota Semarang ini

Semarang, PKS Jateng Online – Bagi Anda yang jomblo dan hendak merencanakan menikah, pasti membutuhkan hantaran pernikahan.…


01 Februari 2017 | 16:40 wib

Habib Syech Do'akan Yaris Untuk Salatiga Hati Beriman

image Salatiga, PKS Jateng Online - Menjaga keteduhan hati masyarakat Kota Salatiga, masyarakat Kalibening Salatiga menggelar…


01 Februari 2017 | 13:48 wib

Ini Pesan KH Kamal Fauzi Untuk Kader PKS Menjelang Pilkada Serentak 2017

image Semarang, PKS Jateng Online - Memasuki tahun 2017, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah…


30 Januari 2017 | 14:55 wib

Tanamkan Jiwa Kepemimpinan, Anak Kader Diajak Main Di Luar

image Semarang, PKS jateng Online – Jiwa kepemimpinan harus ditanamkan sejak kecil,  mengingat berarnya beban yang…


30 Januari 2017 | 14:52 wib

Yaris Bersama Mayarakat Salatiga, Jaga Kesehatan Lestarikan Lingkungan

image Salatiga, PKS Jateng Online - Perhelatan akbar rakyat Kota Salatiga yang tinggal menghitung hari, tak dilepas begitu saja…

© 2014 PKS JATENG ONLINE
Jl. Kelud Utara No.46, Petompon, Gajahmungkur, Kota Semarang
Telp. 024-70776373 Fax. 024-8311244 Email: info@pksjateng.or.id