Artikel
04 Agustus 2016 | 12:18 wib Home » Artikel » Detail

Mewarisi Kebesaran

image

Oleh Eko Jun

PKS Jateng Online - Sejarah panjang yang telah dilalui oleh sebuah bangsa akan berpengaruh pada karakter dan obsesi secara komunal. Orang hebat akan mewariskan karakter hebat dan impian besar kepada anak keturunannya. Sebaliknya, mereka yang lama terkungkung hidup sebagai budak dengan sendirinya akan mewariskan sifat inferior kepada anak cucunya pula. Hal seperti ini bukan hanya terjadi dalam skala personal, tapi juga pada skala bangsa dan negara. 

Bangsa Indonesia memiliki sejarah panjang sebagai bangsa besar. Banyak hal - hal besar ada di Indonesia, mulai dari candi terbesar hingga tambang emas terbesar. Namun saat ini, kita seolah menjadi bangsa kerdil ditengah percaturan internasional. Kisah - kisah tentang kebesaran, kehebatan dan kejayaan hanya sekedar romantisme sejarah dialam khayalan. Itu hanya kisah dimasa lalu alias asaatirul awwaliin, bukan kisah maka kini. Karena itu, salah satu PR besar bagi para pemimpin dan generasi mendatang adalah mengembalikan harga diri dan kehormatan sebagai bangsa besar.

Fase - Fase Kebesaran

Kehebatan, kejayaan dan kebesaran awalnya diperjuangkan. Untuk meraihnya, mereka bahkan rela mengorbankan banyak kesenangan hidup. Seperti halnya Mahapatih Gadjah Mada yang mengucapkan “Sumpah Palapa”, bahwa dia tidak akan makan buah pala sebelum berhasil mempersatukan Nusantara. Buah pala diwaktu itu adalah lambang kemakmuran, mungkin nilainya sama seperti nilai buah anggur dimasa sekarang. Alhasil, kerajaan Majapahit tampil menjadi kerajaan nasional Indonesia kedua dengan teritori sangat luas. Gadjah Mada pun disejajarkan dengan para “Penakluk Dunia” lainnya seperti Hannibal, Jenggis Khan, Iskandar Zulkarnain dll.

Setelah tercapai, kebesaran itu diwariskan. Ada yang bisa mempertahankan kebesaran sebagaimana Nabi Sulaiman mewarisi kebesaran kerajaan ayahnya (Nabi Daud). Nabi Sulaiman bukan hanya mempertahankan, tapi juga meningkatkan kebesarannya sehingga beliau dikaruniai kebesaran yang belum pernah diberikan kepada seorangpun, baik kepada orang sebelumnya maupun sesudahnya. Tapi ada juga yang tidak mampu mempertahankan kebesaran masa lalunya, sebagaimana Musthafa Kemal Attaturk yang memilih untuk menghancurkan khilafah Utsmani dan berkiblat ke barat. Atau seperti kaum Yahudi yang lebih memilih untuk duduk menunggu ketimbang harus berperang demi meraih tanah yang dijanjikan untuknya.

Fase - fase kebesaran seperti ini harus dipahami benar oleh generasi penerus. Agar mereka memiliki identitas sebagai bangsa yang unggul meski kondisinya tengah terpuruk. Agar mereka tetap bisa melihat cahaya meski berada ditengah gua yang pekat. Agar mereka bisa optimis ditengah situasi krisis. Itulah hakekat dari kisah mukjizat pembuatan parit dalam perang khandak. Itulah esensi dari nubuwah kejayaan Islam, yakni akan tegaknya lagi khilafah ‘ala minhajin nubuwah diakhir zaman. 


“Karena secara prinsip, seorang pemimpin adalah anak dari masyarakatnya”

Menyemai Jalan Kejayaan

Melihat situasi yang dialami oleh Bangsa Indonesia yang cukup terpuruk, wajar kiranya jika kita bermimpi memiliki pemimpin besar seperti dimasa lalu atau seperti pemimpin dari negeri lain. Keduanya sangat mungkin bisa dicapai tanpa harus mengimpor dari luar atau harus menanti selama sekian generasi sebagaimana Bani Israil menanti kelahiran Musa. Karena secara prinsip, seorang pemimpin adalah anak dari masyarakatnya. Masyarakatlah yang melahirkan pemimpin, sebelum pemimpin tersebut membawa masyarakatnya ke tingkatan tertentu.

Artinya, jika kita ingin melahirkan pemimpin hebat, terlebih dahulu kita harus berubah menjadi masyarakat yang unggul. Tidak mungkin kita memiliki pemimpin hebat jika masyarakatnya bobrok, hukumnya bisa dipermainkan dan suara politiknya bisa dibeli. Karena perubahan sosial itu adalah hasil amal jama’i, bukan amal infiradhi. Menaklukkan Konstantinopel bukanlah prestasi Muhammad Al Fatih semata, tapi prestasi komunal dari generasinya Muhammad Al Fatih. Menaklukkan Palestina bukanlah kerja dari Shalahuddin Al Ayyubi seorang, tapi kerja komunal dari generasinya Shalahuddin Al Ayyubi.

Pemimpin hebat yang lahir dari masyarakat yang sakit akan berakhir tragis. Kita mengenal seorang Musa bin ‘Imran. Keistimewaannya sangat banyak, kekuatannya sangat dahsyat. Sekali memukul, prajurit qibti langsung mati. Bahkan pada riwayat lain, pukulannya membuat malaikat maut sampai terlepas bola matanya. Semestinya, dia bisa tampil menjadi seorang panglima besar dimedan perang seperti Thalut atau Khalid bin Walid. Tapi taqdir menentukan, dia hidup dizaman yang salah sehingga segala potensinya tidak bisa diledakkan secara maksimal, karena ketiadaan daya dukung dari masyarakatnya. Istilahnya, The Right Man in The Wrong Place (Time). 

Jalan kita untuk melahirkan pemimpin yang hebat mungkin masih panjang. Dalam konteks sekarang, perlu melalui beberapa proses pemilu dan pilkada. Sudah cukup pelajaran mahal bagi kita atas Tragedi Habibie. Dia sungguh orang yang hebat, tapi sayangnya naik tahta dari kendaraan yang salah, mewarisi stigma negatif serta memimpin di zaman edan. Sehingga hanya sedikit saja dari kehebatannya yang bisa tersalurkan dan diwujudkan dalam bentuk prestasi. Kita perlu menyemai jalan kejayaan, agar orang - orang besar seperti “The Next Habibie” bisa tampil dari kendaraan yang baik, tidak memiliki dosa warisan dari masa lalu serta rakyatnya mampu memberi daya dukung maksimal.

Khatimah

Sebagai bangsa dengan masa lalu yang panjang, kita tentu sangat paham dengan segala kebesaran, kehebatan dan kejayaan dari nenek moyang. Namun saat ini, kita juga kelak akan mewarisi sebuah negeri salah urus, dengan kondisi carut marut dan setumpuk hutang yang menggunung. Sebagai generasi penerus, kita punya pilihan - pilihan peran dan karakter dimasa depan. Mereka yang cinta dengan negeri ini pasti memilih untuk mewarisi hal - hal baik dan peran - peran positif untuk negeri ini. Jika kejayaan belum bisa terwujud diera kita, setidaknya kita sudah memberikan jalan yang lapang dan pondasi yang kuat untuk diteruskan oleh generasi berikutnya. Wallahu a’lam.

( Haa )

Baca Lainnya:

UPDATE

02 Februari 2017 | 13:33 wib

Anda Jomblo? Mau Nikah? Silahkan Beli Hantaran Menarik Karya PKS Kota Semarang ini

Semarang, PKS Jateng Online – Bagi Anda yang jomblo dan hendak merencanakan menikah, pasti membutuhkan hantaran pernikahan.…


01 Februari 2017 | 16:40 wib

Habib Syech Do'akan Yaris Untuk Salatiga Hati Beriman

image Salatiga, PKS Jateng Online - Menjaga keteduhan hati masyarakat Kota Salatiga, masyarakat Kalibening Salatiga menggelar…


01 Februari 2017 | 13:48 wib

Ini Pesan KH Kamal Fauzi Untuk Kader PKS Menjelang Pilkada Serentak 2017

image Semarang, PKS Jateng Online - Memasuki tahun 2017, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah…


30 Januari 2017 | 14:55 wib

Tanamkan Jiwa Kepemimpinan, Anak Kader Diajak Main Di Luar

image Semarang, PKS jateng Online – Jiwa kepemimpinan harus ditanamkan sejak kecil,  mengingat berarnya beban yang…


30 Januari 2017 | 14:52 wib

Yaris Bersama Mayarakat Salatiga, Jaga Kesehatan Lestarikan Lingkungan

image Salatiga, PKS Jateng Online - Perhelatan akbar rakyat Kota Salatiga yang tinggal menghitung hari, tak dilepas begitu saja…

© 2014 PKS JATENG ONLINE
Jl. Kelud Utara No.46, Petompon, Gajahmungkur, Kota Semarang
Telp. 024-70776373 Fax. 024-8311244 Email: info@pksjateng.or.id