Artikel
05 September 2016 | 07:29 wib Home » Artikel » Detail

Memoar Kemah Bakti PKS

Sarana Pendidikan Yang Tak Tergantikan

image

Kemah Bakti dan Diksar Relawan PKS Jateng. (PKSFoto- Pratik)


Oleh Sholkhin Abu Izzuddin

 

Mengenangkan nasib perjuangan

Sahabat dan saudara seiman

Kami meninggalkan kemewahan

Kami pergi untuk berjuang

BEKAL TAQWA DAN NASI SAMBEL TERI

Bismillah. Berbekal taqwa dan nasi sambel teri kami mulai perjalanan ini. Perjalanan untuk melakoni saran tarbiyah yang tidak tergantikan: mukhoyam. Kami meninggalkan kemewahan. Kami letakkan semua atribut yang melekat sebagai guru, ustadz, pejabat publik, wakil rakyat, motivator, professional, dokter spesialis, hingga tukang serba bisa untuk menyahut panggilan iman sebagai relawan. Rela kami tinggalkan seluruh kesibukan lain yang melekat sehari-hari sebagai apapun untuk berbaris dalam peluit gerak dan menyambut sirine darurat yang meraung-raung. Kami relakan semua kenikmatan mewah fasilitas sehari-hari demi mendidik kebersihan hati dengan kebeningan ukhuwah, mencerdaskan pemikiran dengan wawasan kebangsaan nasional bahkan konstelasi kehidupan dan melatih kepedulian empati dengan keberanian meminimalkan sarapan sebutir telur, memasak bersama beras dan mie instan, serta menyeruput air alami tanpa takut kesakitan apalagi kematian karena yakin Allah yang menjadi tujuan.

Saudaraku, Kemah Bakti Nusantara (KBN) sebagai penyelaras istilah mukhoyam yang lebih membumi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai menjadi medan perjuangan yang meletihkan kesabaran dengan kenikmatan iman. Kemah adalah berkumpulnya sekian banyak hati, jiwa, dan raga dalam satu nafas kepedulian berkhidmat untuk rakyat. Kemah bakti bukan sekadar kemah tawa haha-hihi yang menghabiskan energi namun sebuah jalan bagi kesiapan diri membantu negeri dari berbagai bencana yang melanda.

Kami pergi untuk berjuang dan  kami belajar di tengah keterbatasan kami sematkan semangat juang di tengah egoisme kehidupan yang makin tak tertahankan. Tertatih dengan kaki pincang saudara kami berangkat dari Banyumas sendirian demia mengikuti sebuah kebersamaan iman. Perjalanan ini sekaligus mengingatkan pada semangat sahabat Amru bin Jamuh radhiyallahu ‘anhu yang cacat kakinya namun ingin benar-benar menginjakkannya di surga yang dirindukan. Berjalan di malam gelap naik ojek dari Magelang ke lokasi perkemahan di Bumi Sobleman menyusuri peta jalan terasa sekali ruh perjuangan para pahlawan negeri ini dalam membebaskan diri dari penjajahan. “Sebelum engkau menaklukkan gunung yang tinggi, taklukkan terlebih dahulu dirimu sendiri.” Begitu nasihat buat para pendaki agar selalu bersandar kepada Allah Rabbul ‘Izzati.

Dari arah timur kami susuri medan “pra-perkemahan” di rute Boyolali-Selo-Ketep-Sobleman berpacu langkah dan bersimpangan arah penuh deg-degan yang menghilangkan kantuk di jalan. Sebuah latihan mental tersendiri karena perjalanan ini disopiri seorang wakil bupati dengan penuh keberanian iman untuk menepatkan waktu kehadiran meski bukan predikat hadiah dan keteladanan yang kami perebutkan, namun sebuah bakti dari janji-janji yang kami ucapkan.

Subuh menjelang, di masjid terdekat dari “home stay full air conditioner alami” yang tak bisa diturunkan suhunya kecuali dengan sarung berukut atau sleeping bag yang rapat, karena udara yang masuk melalui atap seng yang terlepas mengkap-mengkap. Kami melangkah ke masjid dari kamar yang melimpah air tanpa cahaya lampu kecuali senter yang dibawa. Subuh yang menggetarkan dan terasa nikmat.

Usai subuh kami sarapan dengan bawaan nasi sambel teri dan telur rebus sekadarnya namun terasa nikmat sebab nasi ini sebagai bekal penuh kerelaan disamping bekal taqwa yang kami usahakan semampunya. Alhamdulillah bawaan nasi sebagai solusi bahwa relawan harus siaga setia bakti bukan mengharap bekal makanan dari panitia namun benar-benar mempersiapkan diri dengan apa yang akan terjadi. Kenyataan di lapangan “sarapan pagi” yang disediakan hanyalah sebutir telur rebus antara dhuha dan dhuhur, bukan nasi padang atau sego pecel plus lauk telur dadar apalagi hidangan full gizi yang dinanti. Prinsip relawan pertama: mandiri mengantisipasi apapun yang terjadi.

TAKBIR KEMERDEKAAN

Dengarlah ayah dengarlah ibu

Relakan kami pergi berjuang

Di bawah naungan panji Islam

Hingga dinul Islam cemerlang

Usai upacara pembukaan resmi yang tidak dimulai dengan acara sarapan kecuali bekal makanan yang dibawa secara mandiri, kami digembleng Wawasan Kebangsaan, Patriotisme dan Bela Negara oleh Bapak Mudjtahidin Danramil Kecamatan Sawangan. Sebuah gemblengan yang benar-benar penting untuk mengembalikan makna perjuangan dan kemerdekaan agar jiwa-jiwa relawan tak kenal menyerah sebelum mencetak. Ada tiga pesan penting beliau untuk membentuk jiwa relawan: pertama, jangan mengeluh apapun yang terjadi; kedua, jangan ada pengkhianatan di antara kita; ketika, NKRI Harga Mati.

Beliau dengan semangat membara juga menyampaikan tiga Jimat Jenderal Soediraman dalam setiap perjuangannya yakni menjaga niat ikhlas, selalu menjaga wudhu, dan senantiasa menjaga shalat tepat waktu. Pesan guru bangsa dan jenderal fenomemal ini mengingatkan kita pada sosok Bilal bin Rabah yang takbir adzannya menggema, sandal terompahnya sudah terdengan di surge, dan kedisiplinannya diakui Umar bin Khatthab sehinga diangkat sebagai “Pemimpin Kita.” Jimat Jenderal Soedirman ini memaduka makna takbir kemerdekaan dalam perjuangan membebaskan dari penjajahan dan mengisi kemerdekaan dengan amal unggulan. Tiga pekikan takbir kemenangan dan satu pekikan takbir merdeka. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Merdeka!

Setelah berbekal semangat juang dan wawasan kebangsaan yang membakar jiwa-jiwa relawan usia di atas empat puluh tahun,kami digembleng dengan patriotisme baris berbaris dari Rombongan Instruktur Polsek Sawangan agar membentuk pasukan relawan yang bershaf-shaf rapi bagaikan bangunan yang tersusun secara kokoh.

Filosofi barisan sesungguhnya adalah siap-siaga, berhitung mulai sebagai upaya muhasabah menghitung diri apa yang sudah kita perbuat untuk negeri ini dan Islam yang kita cintai. “Tanyakan apa yang sudah kau berikan untuk bangsa ini bukan bertanya tentang apa yang sudah bangsamu berikan padamu.” Dalam Islam ada nasihat “hidup-hidupilah dakwah Islam bukan mencari hidup dari dakwah Islam.”

Berikutnya maju jalan “mujahadah” penuh kesungguhan dalam setiap medan perjuangan dengan spirit kemah super. Surgakan peranmu sebagai apapun. Surgakan perkataanmu untuk memotivasi dan meraih ridha ilahi. Surgakan perasaanmu tanpa ada keluhan dalam pedih perihnya perjuangan. Surgakan perhatianmu dengan ukhuwah sepenuh hati memberikan yang terbaik alias itsar mendahulukan kepentingan sesama.

Langkah ketiga adalah istirahat di tempat, alias istirahat di surga Insya Allah.Inilah spirit agar husnul khatimah Happy Ending full baROkah atau HERO agar setiap relawan dimanapun ditempatkan menyiapkan amal unggulannya masing-masing karena itulah surga di dunia penuh bahagia untuk meraih surga abadi sejati yang dinanti.

BUGAR UNTUK KARYA BESAR

Jangan kembali pulang

Sebelum kita menang

Walau mayat terkapar di medan juang

Itulah mujahid berjuang

 

Jika spirit juang sudah digembleng, kekokohan barisan sudah dilatihkan, maka kebugaran jiwa raga digerakkan dengan senam PKS Nusantara. Dari Lereng Merbabu di Lembah Sobleman Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang, 248 relawan dipandu gerak harmoni oleh Cak Narto dan Mas Teguh agar terbangun fisik yang bugar demi menghasilkan karya yang besar. Gerak senam ceria bercita rasa nusantara benar-benar melenturkan fisik-fisik sepuh yang awalnya kaki dan mudah linu menjadi segar bugar bersemangat muda belia layaknya anak SMA yang lagi Baper dan Caper.

Olahraga sebagai kebutuhan untuk menjadi “Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.” Benar-benar terasa bahwa kebugaran sangat dibutuhkan oleh para relawan disamping sebagai hiburan inspiratif maupun gerak memotivasi kesadaran bahwa sehat itu mahal dan tidak sehat jauh lebih mahal. Karena sudah tua-tua, maka para relawan ini bergerak sekenanya tidak harus sama persis namun yang penting semangatnya. Itulah makna “hikmatusy syuyukh wa hamasatusy syabab” sikap bijak para sesepuh dalam semangat membara para muda.

Senam PKS Nusantara ini begitu besar manfaatnya bagi perjalanan relawan agar tidak mudah patah dan menyerah di setiap langkah. Usia bukan lagi halangan dalam perjuangan, karena Mbah Hadi Sastro berusia 63 tahun ternyata tak kalah semangat dengan para muda belia. Ini mengingatkan kita pada Abu Hurairah sang ahlus sufah yang masuk Islam di usia 60 tahun dan meriwayatkan 5374 hadits.  

Perjuangan memerlukan kemandirian tanpa membebani orang lain dan kebersamaan untuk mencapai tujuan perjuangan diantaranya dengan masak-memasak dengan alat dan bahan seadanya namun mencukupi semua anggota. Inilah pendidikan perkemahan yang tidak tergantikan berupa membumikan nilai-nilai ukhuwah secara nyata serta meraup maknah keberkahan dalam kebersamaan berjamaah. Beras yang sedikit dengan empat mie instan, 4 butir telur, dan empat lembar ikan asin ternyata bisa dimasak dan mencukupi kebutuhan satu regu yang berjumlah 11 orang. Bukan soal banyak sedikitnya makanan namun keberkahan.

Dimulai dengan pembagian peran untuk menuntaskan tugas sehingga siaga setia bakti benar-benar terwujud di sini. Ketua regu sang tukang serba bisa memimpin team. Motivator membagi peran dan menyalakan kompor kehiduan. Seorang dokter spesialis avasin menanak nasi, anggota dewan memasak mie instan, para pengusaha dan professional menyediakan berbagai sarana yang diperlukan. Setelah siap dan matang disantap nikmat dengan lauk tawadhuk dan bumbu keikhlasan. Akhirnya sang ustadz al-hafidz menyediakan diri menjadi juru bersih perangkat masak sehingga semua kembali kembali bersih dan tertata rapi.

Terimakasih Ya Allah, Engkau anugerahkan jiwa-jiwa Rabbani yang berhati bersih untuk berperan apapun dengan ketulusan dan keikhlasan. Ya Allah terimalah amal sederhana kami dengan rahmat, ridha dan barakah dari sisi-Mu.

 

POS PENDAKIAN KESABARAN

Jumat, 2 September 2016. Setelah mendapatkan curahan materi inspiratif dari seorang instruktur perkemahan yang sudah malang melintang di berbagai belahan dunia dan pengalaman kehidupan tentang wawasan nasional dan global, seluruh relawan disiagakan untuk istirahat sejenak sembari berjaga dengan menghidupkan malam serta bersiaga menyahut panggilan tugas menembus hutan di tengah malam.

Jam 02.00 dinihari pasukan dibangunkan dengan raungan sirine dari lelap istirahat sejenak untuk berbaris dan bergerak melalukan pendakian awal. Tema besar adalah kesabaran. Dalam kegelapan hanya dengan membawa senter, mantel ponco, matras alas tidur, korek api, jaket atau sleeping bag, pisau survival, dan garam. para relawan menapaki setapak pendakian di lereng merbabu yang licin oleh air hujan dengan penuh kesabaran. Dengan selalu menyebut asma Allah kami melangkah agar dikuatkan pijakan kaki di saat kantuk menyerang dan tidak terhuyung jatuh ke dalam jurang.

Dua orang relawan dengan tiga kaki alias kruk bergerak mantap tanpa keluhan. Perjalanan ini mengingatkan kita pada sebuah perjalanan hijrah Nabi di malam gelap dalam ancaman sergapan musuh.Fakku roqobah, ayat yang diterjemahkan pada diri Abu Bakar seorang sahabat Nabi yang rela menapaki jalan mendaki lagi sukar.

Sungguh memoar ini mencatatkan banyak sekali makna bagi para relawan yang telah mengikatkan hatinya dalam berkhidmat untuk rakyat. Ada makna berat namun nikmat, sebab seberat apapun pendakian akan terasa nikmat jika ridha Allah yang menjadi tujuan. Allahu ghayatuna.

Ada makna kesabaran dalam ketaatan, sabar menjauhi maksiat hati,lisan, dan pikiran, sabar dalam menerima musibah sehingga masih ada ruang peduli pada sesama mengikis egois dari kamus kehidupannya. Minuman yang sebotol untuk bersama sebagai bukti mendahulukan sahabatnya. Berhenti sejenak agar tetap kompak dan tak terpisahkan barisan adalah cara mewujudkan ukhuwah.

Ada nikmat kantuk yang Allah berikan dalam tetesan air hujan dan sergapan rasa dingin saat kaki dilangkahkan ditambahkan tiupan angin yang menerpakan kantuk tak tertahankan. Sehingga kepada Allah pijakan kaki ini dimohonkan agar dikuatkan. Ya Hayyu Ya Qayyuum itulah doa-doa yang dilantunkan.

Jelang shubuh sampai di pos pertama untuk menanti saat adzan dikumandangkan dari penjuru kampung di pinggiran hutan. Para relawan membelah gelap malam lantunan Qur’an dan mendirikan shalat malam. Suara kokok ayam begitu nyaring terdengar seindah nasihat Luqmanul Hakim, “Wahai anakku, janganlah kamu menjadi lebih lemah dari seekor ayam jantan, karena ia telah berkokok pada waktu pagi hari sedangkan kamu pada waktu itu masih terbaring di atas tempat tidurmu.”

Hingga pagi terang benderang ujian bagi relawan semakin gamblang yakni kesabaran dan ketabahan untuk benar-benar ribath (berjaga-jaga) dalam setiap situasi dan kondisi. Karena sudah dikunci oleh Danramil untuk tidak mengeluh maka waktu usai shubuh digunakan untuk mengisi ruh dengan bacaan Qur’an dan mencari makan apa yang bisa dimakan di sekitar tempat berteduh. Tanpa makanan dan hanya sedikit bekal air minum yang pas-pasan sebagai relawan harus pintar mengisi waktu agar tidak jenuh dan bosan. Karena solo survival, maka setiap relawan mesti mandiri dan tetap berpikir positif.

Saat itulah kami menemukan inspirasi bahwa menjadi relawan benar-benar harus melepaskan semua pikiran buruk. Tiada makanan menjadi keberuntungan dan kegembiraan agar tidak banyak buang air besar. Darimana mau membuang atau mengeluarkan karena nggak ada yang dimasukkan, dan itu disyukuri sebagai anugerah agar berbahagia. Taka da minuman berarti agar tidak sering buang air kecil sehingga bisa tetap focus dan konsentrasi. Tak ada sarana komunikasi berupa handphone disyukuri agar ketika telah merelakan hati di jalan ini mesti harus berkonsentrasi. Bahkan ketika kemah bakti tidak ada ada acara game beraneka ragam menyadari bahwa inilah saat berbakti untuk negeri bukan lagi untuk bermain-main. Inilah kemah yang sesungguhnya. Inilah potret kehidupan yang sesungguhnya.

Menjadi relawan berarti harus benar-benar ridha, bukan sekadar rela. Ridha dengan ketentuan Allah dan berpikir kreatif untuk menemukan jalan dan menghadirkan solusi. Sehingga yang dipikirkan adalah memberikan yang terbaik.

 

POS KEDUA MENULISKAN AMAL UNGGULAN

Hari Sabtu, 3 September 2016. Di Pos kedua adalah pos yang benar-benar menjadi ujian kehidupan relawan. Tidur di seberang jalan pinggiran hutan yang sewaktu-waktu ada yang melintas. Daripada terlintas keburukan, maka saat menempati pos dua dengan waktu yang tidak jelas sampai kapan saat itulah saat tepat untuk mendesain amal unggulan. Para relawan mulai mengisi waktunya dengan lantunan quran sehingga ada yang hendak menuntaskan sampai lima juz Al-Qur’an. Meski tidak harus laporan namun amal harus terus ditunaikan karena kematian mempunyai tiga sifat. Mati itu pasti maka kita harus bersiap diri. Mati itu ghaib maka jangan pernah bermain kemaksiatan. Mati itu tiba-tiba sehingga kapanpun datangnya sambutlah dengan amal mulia.

Di pos dua mesti bertahan hidup mencari makan apa yang bisa dimakan. Alhamdulillah seorang relawan menemukan buah seperti bunga yang kecil meski sepet rasanya namun tetap penting untuk bertahan hidup. Ada yang mencicipi bonggol rumput gajah dan nikmat. Bila bonggol bamboo alias rebung saja nikmat maka bonggol rumput gajah tak kalah nikmat. Ini menjadi inspirasi untuk membuat industry kreatif kuliner dari rumput gajah.

Prinsip penting di pos dua agar bisa bertahan hidup adalah kreatif yakni kere tapi aktif, atau berprestasi di tengah keterbatasan adalah sebuah kepahlawanan dalam bentuk yang lain. Relawan hidup sebagai panggilan jiwa sehingga kapanpun tugas memanggilnya dirinya senantiasa siaga. Lagunya dilantunkan oleh Ustadz Hakim, Sunnah Berjuang.

Berjuang menempah susah
Menanggung derita menongkah fitnah
Itulah gelombang hidup samudera duka
Seorang mujahid membela tauhid

Dipisah dia berkelana
Dibelenggu dia uzlah menagih mihnah
Namun jiwa tetap mara memburu cinta
Membara demi Allah dan rasulNya

Berjuang tak pernah senang
Ombak derita tiada henti 
Tenang resah silih berganti
Inilah sunnah orang berjuang

 

Malamnya bagai rahib merintis sayu
Dihiris dosa air mata
Siangnya bagaikan singa dirimba
Memerah keringat mencurah tenaga

Berjuang memang pahit
Kerana syurga itu manis
Bukan sedikit mahar yang perlu dibayar
Bukan sedikit pedih yang ditagih

Berjuang ertinya terkorban
Rela terhina kerna kebenaran
Antara dua jadi pilihan
Dunia yang fana...atau syurga

 

POS KETIGA BADAI DI TENGAH HUJAN

Berjalan di deras hujan

melangkah di terik mentari

Berulang terhenti

berhenti menoleh untuk cinta


Menerjang penuh luka

jalan-jalan berduri

Tak perduli lagi

setelah menoleh untuk cinta

Seperti lagunya SAS, Episode Jingga. Barangkali ini wujud nyata setiap relawan, berjalan di deras hujan itu yang paling berat. Untuk tetap teguh dan kukuh di jalan yang penuh onak duri mesti menyiapkan diri ketegaran dalam iman. Tidak cengeng karena lambaian cinta, meski harus diyakinkan juga : pergi karena kerja (di jalan Allah), dan pulang karena cinta. Sebab relawan bukanlah pencari bayaran namun mereka adalah pencari ganjaran. Nggak usah ragu meski “pulang malu, nggak pulang rindu.” Begitulah dunia relawan sejati, bakti kami adalah bukti kami.

Sabtu, 3 September 2016, jelang maghrib harus berjalan dan terus berjalan. Sampailah di pos ketiga. Pos pertahanan. Pos yang memungkinkan adanya sumber-sumber makanan sebelum adanya sumber air kehidupan. Di pos ini setiap relawan layaknya para pejuang harus survive yakni mencari makanan yang bisa dimakan untuk bekal dan pertahanan hidup. Mereka bergerak di semak-semak mencari makanan.

Alhamdulillah kami mendapatkan jagung lima buah, ketela lima buah, dan wortel enam buah. Untuk menegakkan punggung yang mulai terhuyung, makanan tersebut disantap seadanya dalam keadaan mentah dan nikmat sekali rasanya mengalahkan rasa di restoran termahal. Mengapa? Karena lapar. Teringat sebuah nasihat, “Makanlah di saat kamu lapar dan berhentilah sebelum kenyang.” Karena tidak kenyang maka nikmatnya begitu terasa. Alhamdulillah Ya Allah.

Untuk persediaan Alhamdulillah mendapatkan kembali 7 jagung untuk konsumsi makan malam jelang pagi agar bisa terus bertahan sampai esok. Seperti Nabi yang makanan hari itu dimakan untuk hari itu. Beliau tidak pernah menyimpan makanan berhari-hari karena keimanan dan ketawakalan beliau agar janji dari Allah. Allah yang memberi rezeki, bukan jabatannya, karirnya atau atasannya. Inilah tauhid rububiyah bagi relawan agar yakin akan jaminan rezeki dari Allah.

Usai shalat maghrib terjadilah hujan deras yang benar-benar deras sehingga harus bertahan dalam bivak agar bisa bernafas. Hujan tidak segera reda dan untuk menembus pos berikutnya tidak memungkinkan karena kabut yang pekat maka relawan memutar jalan untuk mencari kehidupan dan melanjutkan perjalanan.

Inilah ujian yang besar. Semangat mencari jalan keluar kadang menuai ketersesatan jalan. Semangat boleh dan ketelitian serta kecermatan adalah keniscayaan. Karena tersesat jalan maka harus memutar haluan. Inilah hikmah kehidupan. Rela mengakui kesalahan dan memperbaiki arah agar selamat.

Dalam gelap cahaya sekecil apapun sangat berharga. Melangkah itu penting namun melihat cahaya itu jauh lebih penting agar tidak salah langkah. Banyak pelajaran penting di sini yakni menahan diri untuk tidak mengeluh. Tidak menyalahkan yang sudah melangkah. Tidak menyalahkan yang didepan. Tidak menyalahkan cahaya. Tidak terlalu menyalahkan diri. Namun terus menata kembali langkah agar Allah menyelamatkan.

Alhamdulillah setelah berbagai rute dan episode dijalani, ada banyak kenikmatan yang penting untuk disyukuri. Banyak hati yang begitu bersandar kepada Allah Rabbul ‘Izzati sehingga Allah kokohkan pijakan kaki. Menjadi relawan bukan sekadar kuatnya fisik, banyaknya materi, pintarnya akal, namun kebersihan hati yang harus dimiliki.

Saudara, perkemahan inilah sebuah tarbiyah yang tidak tergantikan. Inilah sebuah pelajaran kehidupan yang sesungguhnya. Ini bukan permainan karena resikonya adalah kematian. Inilah jalan kami.

Terimakasih atas kebersamaan dalam Kemah Bakti Nusantara di Sobleman baik kepada anggota regu maupun seluruh relawan. Mohon maaf atas segala kekhilafan dan kekurangan dalam tulisan ini. Mari terus saling menguatkan dan mendoakan agar Allah kuatkan kita dalam mewakafkan hidup kita di jalan-Nya. 

( Haa )

Baca Lainnya:

UPDATE

02 Februari 2017 | 13:33 wib

Anda Jomblo? Mau Nikah? Silahkan Beli Hantaran Menarik Karya PKS Kota Semarang ini

Semarang, PKS Jateng Online – Bagi Anda yang jomblo dan hendak merencanakan menikah, pasti membutuhkan hantaran pernikahan.…


01 Februari 2017 | 16:40 wib

Habib Syech Do'akan Yaris Untuk Salatiga Hati Beriman

image Salatiga, PKS Jateng Online - Menjaga keteduhan hati masyarakat Kota Salatiga, masyarakat Kalibening Salatiga menggelar…


01 Februari 2017 | 13:48 wib

Ini Pesan KH Kamal Fauzi Untuk Kader PKS Menjelang Pilkada Serentak 2017

image Semarang, PKS Jateng Online - Memasuki tahun 2017, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah…


30 Januari 2017 | 14:55 wib

Tanamkan Jiwa Kepemimpinan, Anak Kader Diajak Main Di Luar

image Semarang, PKS jateng Online – Jiwa kepemimpinan harus ditanamkan sejak kecil,  mengingat berarnya beban yang…


30 Januari 2017 | 14:52 wib

Yaris Bersama Mayarakat Salatiga, Jaga Kesehatan Lestarikan Lingkungan

image Salatiga, PKS Jateng Online - Perhelatan akbar rakyat Kota Salatiga yang tinggal menghitung hari, tak dilepas begitu saja…

© 2014 PKS JATENG ONLINE
Jl. Kelud Utara No.46, Petompon, Gajahmungkur, Kota Semarang
Telp. 024-70776373 Fax. 024-8311244 Email: info@pksjateng.or.id