Artikel
18 September 2016 | 10:48 wib Home » Artikel » Detail

Seni Memilih Pemimpin #4

image

Siapakah pemimpin pilihan rasulullah (panglima perang, ketua regu, pemimpin delegasi, penjaga kota dll) yang sempat menimbulkan kontroversi dikalangan shahabat? Beliau adalah sosok shahabat yang dijuluki Al Hibb bin Al Hibb, yakni :

Keempat, Usamah bin Zaid

Usamah adalah anak dari Zaid bin Haritsah. Zaid bin Haritsah adalah mantan budak nabi yang naik pangkat menjadi panglima perang. Beliau sudah menunjukkan kelasnya dalam banyak ekspedisi militer dengan catatan gemilang. Hingga akhirnya mati syahid sebagai jendral pertama pada perang Mu’tah. Jelang wafat, rasulullah melakukan mobilisasi umum untuk kembali berperang melawan pasukan Romawi di Syam. Kontroversi muncul saat Usamah bin Zaid ditunjuk sebagai panglima perangnya. Apa gerangan yang memancing kontroversi seorang Usamah bin Zaid?

Faktor Usia

Saat itu, usianya baru 18 tahun menurut pendapat yang masyhur. Perlu diketahui bahwa batasan seseorang dibolehkan mengikuti perang didalam Islam adalah usia 16 tahun. Pada saat terjadi perang Badar, Abdullah bin Umar sebenarnya ingin mengikuti, tetapi tidak diperkenankan karena belum cukup umur. Pada saat perang Uhud, Abdullah bin Umar baru diperbolehkan untuk mengikutinya. Saat itu usianya 16 tahun.

Dengan usia yang masih muda, Usamah bin Zaid pantasnya memang menjadi prajurit biasa. Terlebih yang dipimpinnya adalah generasi assabiqunal awwalun, baik dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Jauhnya medan dan jam terbang yang masih minim turut menjadi pertimbangan. Disaat rumor penolakan semakin kencang, rasulullah pun berseru “Jika kalian ragu, mengapa kalian tidak ragu dengan kepemimpinan ayahnya? Jika ayahnya pantas jadi pemimpin, maka anaknya juga pantas jadi pemimpin. Jika ayahnya adalah orang yang ku cintai, maka anaknya juga orang yang ku cintai”.

Terkadang, ada anak - anak muda yang memiliki bakat dan potensi untuk menjadi orang besar. Disini generasi tua harus aktif mendorong dan mengkaryakan dengan berbagai macam penugasan, agar kapasitasnya terasah dan pengalamannya meningkat. Jika ada keraguan (baca : penolakan), maka generasi tua harus memberikan support, baik legitimasi maupun pembelaan. Karena tujuan besar dibalik penugasan itu agar muncul bintang - bintang baru dan bibit - bibit unggul yang kelak akan menggantikan generasi tua.

Dalam situasi normal, kepemimpinan pasti dipegang oleh generasi tua. Kepemimpinan yang dipegang oleh anak muda bisa saja terjadi, namun bukan dari proses jenjang karir yang normal. Jalannya beragam, bisa penunjukkan langsung, bisa karena wasiat dan bisa pula melalui jalur kudeta. PR bagi generasi tua adalah bagaimana menumbuhkan jiwa - jiwa kepemimpinan pada generasi muda. Agar saatnya harus naik ke panggung, statusnya bukan pemimpin karbitan yang masih hijau, awam dan lugu.

Faktor Pribadi

Kendati dikenal sebagai pemuda yang shaleh, namun Usamah bin Zaid juga pernah melakukan kesalahan fatal di medan jihad. Yakni membunuh musuh yang mengucapkan kalimat syahadat. Kesalahan ini sama persis dengan kesalahan yang dilakukan oleh Khalid bin Walid. Respon dari rasulullah pun sama, yakni mengingkari secara terang - terangan dihadapan para shahabat. Harus dipahami bahwa mengingakaran suatu perbuatan secara terang - terangan oleh rasulullah itu menjadi sanksi sosial yang sangat berat bagi para shahabat.

Selain itu, seolah terasa ada aroma balas dendam didalamnya. Karena dahulu ayahnya (yakni Zaid bin Haritsah) gugur melawan Romawi di perang Mu’tah. Meski kaum muslimin meraih kemenangan saat perang Mu’tah, tapi Romawi masih bercokol di Syam. Berhubung misi yang diemban ayahnya belum tuntas, maka kali ini anaknya yang maju. Sedikit banyak, hal ini berpengaruh secara psikologis. Mungkin karena itulah, rasulullah membela Usamah bin Zaid dengan cara menghubung - hubungkannya kepada ayahnya, yakni Zaid bin Haritsah.

Terhadap masalah ayah dan anak, kita mendapatkan gambaran yang kurang lebih sama yakni pada saat Fathu Makkah. Sa’ad bin Ubadah sebagai salah satu pemegang panji berkata bahwa “Hari ini adalah hari pembantaian. Hari ini Ka’bah akan dihalalkan”. Saat Abu Sufyan menyampaikan hal itu kepada rasulullah, maka beliau mengoreksi ucapan Sa’ad bin Ubadah serta mencabut panji yang dipegangnya, lalu diberikan kepada anaknya, yakni Qais bin Sa’ad. 

Namun berbeda halnya dengan Umar bin Khathab, beliau dikenal sangat anti nepotisme. Kala menjabat sebagai Amirul Mukmini, tidak ada anggota keluarganya yang diperkenankan untuk berbisnis. Jika ada anggota keluarganya yang melanggar ketentuan syariat, maka hukumannya digandakan. Terakhir, saat menunjuk 6 shahabat sebagai ahli syura, dia tidak mengikut sertakan Abdullah bin Umar sebagai anggotanya. Abdullah bin Umar hanya diperintahkan sebagai pencatat, namun tidak memiliki hak bicara dan  suara.

Kami menyampaikan hal ini agar kita bisa bersikap bijaksana ditengah realita politik yang kompleks. Menunjuk anak untuk meneruskan perjuangan orang tuanya, itu ada contohnya dari rasulullah. Memagari keluarga agar tidak terlibat dalam urusan bernegara, itu juga ada contohnya dari umar. Tinggal mana yang lebih maslahat untuk dipilih, tentu disesuaikan dengan konteks lokal. Mengingat dalam tradisi politik di Indonesia, tumbuh subur praktek KKN dan dinasti politik. Mulai dari Bani Soekarno, Bani Soeharto, Bani Gus Dur hingga Bani SBY. Jika kita telaah lebih lanjut ke daerah, maka jejaring hubungan kekeluargaan seperti ini akan semakin luas. Pandai - pandainya kita membaca situasi serta menimbang maslahat dan madharatnya.

Faktor Kondisi Mutakhir

Meski sudah ditetapkan oleh rasulullah serta melakukan mobilisasi awal, namun pasukan tersebut urung berangkat ke Syam. Karena tersiar kabar rasulullah wafat, terjadi perdebatan panjang di Saqifah, banyak suku yang murtad dll. Pendek kata, situasinya cukup mengkhawatirkan apabila pasukan tersebut tetap berangkat. Bisa jadi, Madinah akan diserang oleh suku dari luar. Jikapun tetap memberangkatkan, maka opsi mengemuka agar panglima perangnya diganti. Namun, Abu Bakar tetap bergeming sambil berkata kepada Umar “Rasulullah telah mengangkatnya. Apakah sekarang engkau akan menyuruhku untuk memecatnya?” 

Dengan ketegasan Abu Bakar ini, berangkatlah pasukan Usamah bin Zaid ke Syam. Mereka pulang dengan membawa kemenangan dan harta rampasan perang. Bukan cuma itu, suku - suku yang memberontak juga akhirnya tidak berani menyerang Madinah. Ekspedisi Usamah bin Zaid sendiri bukan dimaksudkan untuk mengusir Romawi dari Syam, tapi hanya melenyapkan gangguan mereka saja. Sedangkan pengusiran pasukan Romawi dari Syam terjadi pada perang Yarmuk, dibawah komando Khalid bin Walid, dimasa kepemimpinan Avu Bakar.

Faktor kondisi mutakhir sebenarnya layak dijadikan pertimbangan. Terutama pada detik - detik terakhir ditutupnya pendaftaran calon kepala daerah oleh KPUD. Detik demi detik, situasinya bisa sangat dinamis. Tiba - tiba ada calon baru yang muncul, ada isu dan berita yang dihembuskan, ada manuver dari personal maupun institusi. Boleh saja kita menyesuaikan diri dengan perkembangan mutakhir, namun jangan sampai membuat rencana yang disusun sekian lama jadi berantakan. Bahwa kita bergerak memang berdasarkan mekanisme dan prosedur yang baku, bukan digerakkan oleh isu dan manuver yang senantiasa berubah. Berpeganglah dengan wasiat dari Allah “Fa idza ‘azamta fatawakkal ‘alallah. Innallaaha yuhibbul mutawakkiliin”

( Haa )

Baca Lainnya:

UPDATE

02 Februari 2017 | 13:33 wib

Anda Jomblo? Mau Nikah? Silahkan Beli Hantaran Menarik Karya PKS Kota Semarang ini

Semarang, PKS Jateng Online – Bagi Anda yang jomblo dan hendak merencanakan menikah, pasti membutuhkan hantaran pernikahan.…


01 Februari 2017 | 16:40 wib

Habib Syech Do'akan Yaris Untuk Salatiga Hati Beriman

image Salatiga, PKS Jateng Online - Menjaga keteduhan hati masyarakat Kota Salatiga, masyarakat Kalibening Salatiga menggelar…


01 Februari 2017 | 13:48 wib

Ini Pesan KH Kamal Fauzi Untuk Kader PKS Menjelang Pilkada Serentak 2017

image Semarang, PKS Jateng Online - Memasuki tahun 2017, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah…


30 Januari 2017 | 14:55 wib

Tanamkan Jiwa Kepemimpinan, Anak Kader Diajak Main Di Luar

image Semarang, PKS jateng Online – Jiwa kepemimpinan harus ditanamkan sejak kecil,  mengingat berarnya beban yang…


30 Januari 2017 | 14:52 wib

Yaris Bersama Mayarakat Salatiga, Jaga Kesehatan Lestarikan Lingkungan

image Salatiga, PKS Jateng Online - Perhelatan akbar rakyat Kota Salatiga yang tinggal menghitung hari, tak dilepas begitu saja…

© 2014 PKS JATENG ONLINE
Jl. Kelud Utara No.46, Petompon, Gajahmungkur, Kota Semarang
Telp. 024-70776373 Fax. 024-8311244 Email: info@pksjateng.or.id