Artikel
25 September 2016 | 07:45 wib Home » Artikel » Detail

Semua Ada Waktunya #1

image

[Ilustrasi]


Oleh Eko Jun


Diantara perkara yang sering mengemuka saat ajang pemilukada adalah ucapan dari Umar bin Khathab ra “Ya Rasulullah, bukankah kita orang islam? Bukankah kita berada diatas kebenaran? Bukankah musuh kita berada diatas kebatilan? Mengapa kita memberikan kehinaan kepada agama kita?”.

Terjemahan kontekstualnya dalam ajang pemilukada kira – kira senada dengan ungkapan “Mengapa kita tidak mengusung kader terbaik kita untuk maju sebagai kepala daerah? Mengapa kita malah bergabung dalam koalisi untuk mendukung calon yang bermasalah (baik secara kapasitas, akhlak maupun reputasi) ?”.

Jika kita membuka kitab sirah nabawiyah, kita akan mendapati ungkapan Umar bin Khathab ra tersebut dalam dua kondisi. Pertama, saat dia baru masuk islam. Umat islam masih sedikit, lemah dan bergerak secara siriyah. Umar yang penuh kekuatan dan izzah berontak dengan kondisi itu dan mengungkapkan isi hatinya agar umat islam bergerak terbuka serta bangkit melawan kedzaliman kaum quraisy.

Kedua, saat sulhul hudaibiyah. Kondisinya berkebalikan, dimana umat islam sudah kuat, jumlahnya besar dan siap berperang demi menuntut balas atas ditawannya Utsman bin Affan. Lalu tiba – tiba ada perundingan damai tetapi dengan syarat – syarat yang tidak menguntungkan bagi umat Islam. Sekali lagi, Umar bin Khathab ra mendidih darahnya sehingga terucapkan lagi perkataan yang sama kepada rasulullah.

Saat kita melakukan musyarakah politik dengan partai dan kandidat pasangan calon, sangat mungkin kondisinya tidak ideal. Ada calon yang ingin kita dukung tapi menutup pintu komunikasi, ada partai yang ingin didukung penuh tanpa harus mengetahui siapa bakal calon yang akan diusungnya, ada calon yang siap berkomunikasi dan bersepakat atas beberapa agenda dakwah yang kita sodorkan namun figurnya memiliki resistensi yang tinggi. Mengetahui situasinya cukup rumit, sebagian kader lalu mengungkapkan isi hatinya “Mengapa kita mencalonkan kader terbaik kita saja untuk berlaga di arena pemilukada?”


Semua Ada Waktunya

Dalam melakukan suatu rekayasa sosial, para perencana dan arsitek pergerakan memang harus pandai – pandai menggabungkan antara idealita dengan realita. Mereka harus bisa berfikir secara global, tapi bertindak secara lokal. Mereka harus berharap hal yang terbaik, tapi bersiap untuk hal yang terburuk. Salah dalam berhitung, maka gerak dakwah akan macet, mundur bahkan bisa bubar.

Diantara kisah dakwah para nabi, dakwahnya Nabi Muhammad adalah yang paling sukses. Nabi Ibrahim tidak berhasil mengislamkan kaumnya, malah dia dibakar. Nabi Musa memang berhasil menghancurkan Fir’aun dan membawa Bani israil keluar dari Mesir, tapi beliau tidak berhasil membawa kaumnya ke “tanah yang dijanjikan”. Meski dibantu oleh kaum hawariyun, ternyata Nabi Isa juga terancam hingga harus dibawa ke langit. Betul, Nabi Muhammad lah yang paling sukses. Pada tahun ketiga kenabian, beliau berkhutbah dibukit shafa seorang diri mengawali fase jahriyatud dakwah dan didustakan oleh kaumnya. Namun pada tahun kesepuluh hijriyah, saat haji wada’ beliau berkhutbah diikuti oleh 130 ribu shahabat yang membenarkan risalahnya.

Perjalanan dakwah Nabi Muhammad harus diterjemahkan, ditafsirkan dan dikontekstualisasikan sesuai kondisi “kekinian dan kedisinian” oleh para arsitek pergerakan. Gagal menafsirkan, gagal pula dalam berkesimpulan dan mengambil sikap. Sebuah kesalahan besar apabila gerakan dakwah kita masih berada pada kondisi fase Makkah, tapi memaksakan diri mengambil pola pergerakan fase Madinah. Demikian pula sebaliknya.

Dalam menegakkan izzul islam wal muslimin, setidaknya kita melihat 3 fase kebijakan rasulullah.

Pertama, Fase Bersabar

Memang ada individu kuat dan berpengaruh yang bergabung seperti Hamzah, Umar, Ustman, Sa’ad dll, namun secara umum umat islam masih lemah. Mereka tidak bisa memberikan pembelaan yang memadai kepada seluruh anggotanya. Meskipun pembelaan secara sporadis dan individu dibolehkan, sebagaimana yang dilakukan oleh Sa’ad bin Abu Waqash, Abu Bakar, Umar dll. Namun kebijakan umumnya adalah bersabar. Karena itu, diantara ciri ayat Makkiyah adalah perintah “fashbir”. Betul, fashbir shabran jamiila.

Sumayyah mati syahid dan rasulullah hanya bisa menghibur Amar bin Yasir untuk bersabar. Demikian pula saat banyak kaum mustadh’afin datang mengeluhkan nasibnya. Pada tahun kelima, rasulullah malah menyerukan agar sebagian kaum muslimin berhijrah ke Habasyah. Tentu saja banyak alasan dan hikmah, tetapi salah satu sebabnya dikarenakan umat islam belum bisa memberikan pembelaan yang semestinya kepada kaum muslimin yang dianiaya oleh Quraisy.

Frase “jihad”sebenarya sudah turun pada era Makkiyah, namun masih dimaknai defensif. Jihad dalam arti offensif baru turun saat era Madinah. Pernahkan kita merenung, apa jadinya jika saat itu rasulullah memerintahkan untuk angkat senjata? Dengan jumlah yang sedikit dan kondisi lemah, mereka akan mudah dibabat habis oleh kaum Quraisy. Selanjutnya, kisahnya mungkin akan mirip dengan kisah dakwah Nabi Ibrahim. Yakni belum punya kekuatan memadai, tapi berani menantang kaumnya dengan menghancurkan berhala seorang diri. Akhirnya beliau dibakar dan diusir dari negerinya dan selesailah gerak dakwah dinegerinya. Pada kasus dakwah rasulullah, berhala disekeliling Ka’bah dihancurkan pada saat Fathu Makkah.

Mari kita menimang dan merenung, bagaimana posisi kekuatn dakwah kita didaerah sendiri. Yang bersimpati dan memuji mungkin banyak, tapi yang siap bergerak dan berkorban seperti prajurit bisa jadi tidak banyak. Kader baru mulai tumbuh, sebagiannya memang para aghniya yang tajir, tapi mayoritasnya jelas masih berstatus sebagai gharimin. Kita belum memiliki figur – figur seperti Utsman bin Affan atau Abdurrahman bin Auf yang mampu membiayai pasukan perang sebagaimana partai lain memiliki konglomerat untuk membiayai perhelatan pemilu dan pemilukada.

Jika kondisinya masih seperti ini, maka mencalonkan presiden dan/atau kepala daerah dari calon internal jelas bukan langkah yang bijaksana. Karena konsekuensinya sangat jelas, dimana kader akan diperas dan dibebani dengan biaya operasional dan pemenangan yang sangat besar. Sedangkan mereka yang bersimpati dan mendorong kita tampil berlaga ke arena, sangat sedikit yang tergerak ikut menyumbang. Jumlahnya pun tidak seberapa.

Secara umum, fase pertama adalah fase bersabar. Belum saatnya kita mengambil opsi perang dengan mencalonkan kandidat internal. Jika kandidat eksternal yang kita dukung memiliki sejumlah kebaikan, bersyukurlah dengan syukur yang banyak. Tetapi jika ternyata memiliki sejumlah catatan, bersabarlah atas segala cacian, hujatan dan makian yang datang bertubi - tubi. Fashbir shabran jamiila.


[Bersambung ...]

( Haa )

Baca Lainnya:

UPDATE

02 Februari 2017 | 13:33 wib

Anda Jomblo? Mau Nikah? Silahkan Beli Hantaran Menarik Karya PKS Kota Semarang ini

Semarang, PKS Jateng Online – Bagi Anda yang jomblo dan hendak merencanakan menikah, pasti membutuhkan hantaran pernikahan.…


01 Februari 2017 | 16:40 wib

Habib Syech Do'akan Yaris Untuk Salatiga Hati Beriman

image Salatiga, PKS Jateng Online - Menjaga keteduhan hati masyarakat Kota Salatiga, masyarakat Kalibening Salatiga menggelar…


01 Februari 2017 | 13:48 wib

Ini Pesan KH Kamal Fauzi Untuk Kader PKS Menjelang Pilkada Serentak 2017

image Semarang, PKS Jateng Online - Memasuki tahun 2017, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah…


30 Januari 2017 | 14:55 wib

Tanamkan Jiwa Kepemimpinan, Anak Kader Diajak Main Di Luar

image Semarang, PKS jateng Online – Jiwa kepemimpinan harus ditanamkan sejak kecil,  mengingat berarnya beban yang…


30 Januari 2017 | 14:52 wib

Yaris Bersama Mayarakat Salatiga, Jaga Kesehatan Lestarikan Lingkungan

image Salatiga, PKS Jateng Online - Perhelatan akbar rakyat Kota Salatiga yang tinggal menghitung hari, tak dilepas begitu saja…

© 2014 PKS JATENG ONLINE
Jl. Kelud Utara No.46, Petompon, Gajahmungkur, Kota Semarang
Telp. 024-70776373 Fax. 024-8311244 Email: info@pksjateng.or.id