Artikel
26 September 2016 | 15:19 wib Home » Artikel » Detail

Semua Ada Waktunya #2

image

Oleh Eko Jun


Jika fase pertama penegakkan izzul islam wal muslimin adalah fase defensif yang penuh dengan seruan untuk bersabar. Maka selanjutnya adalah, ...

Kedua, Fase Ekspansif
Rasulullah sudah berhijrah ke Madinah serta memiliki pengikut yang siap membelanya baik dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Hanya saja, kaum muslimin bukanlah “Single Majority” di Madinah. Jumlah mereka malah hanya sepertiga, karena harus berbagi tempat dengan komunitas Yahudi dan kaum Paganis. Untuk membangun tertib sosial, mereka membuat perjanjian dengan suku lain berdasarkan basis geografis, bukan berdasarkan agama. Kita mengenalnya sebagai Piagam Madinah.

Berbekal modal sosial yang dimilikinya, kaum muslimin bergerak untuk mempertahankan eksistensinya. Baik dari agresi militer eksternal maupun makar musuh dalam selimut. Perang Badar, Uhud hingga Khandaq dilalui meski dengan kondisi tertatih dan kepayahan. Demikian juga dengan pengiriman ekspedisi militer kecil untuk melenyapkan gangguan. Mereka sukses mengkonversi kekuatan dan sumber daya internal untuk gerak ekspansi dakwah. Sebagiannya berhasil, sebagiannya kurang berhasil.

Pergerakan dakwah pada fase ini ditandai dengan pertumbuhan kader dan basis pendukung yang cukup besar, namun belum menjadi pemain utama. Statusnya berada dikalangan partai menengah, yakni sudah lepas dari strata partai gurem tapi belum bisa masuk menjadi partai besar. Kapasitas memenangkan kontestasi politik baik pada ajang Pemilukada maupun Pilpres bergantung sejauh mana kita mampu meramu modal sosial masyarakat dan mengkonversinya menjadi energi positif.

Sejumlah eksperimen politik pun dilakukan, baik dengan model spekulasi maupun perencanaan matang. Beberapanya berbuah kemenangan sebagaimana kasus di Jawa Barat dan Sumatra Utara, beberapanya harus menanggung kondisi kepayahan sebagaimana kasus di Kota Semarang dan Surakarta.

Menghadapi gerak dakwah yang berbeda, Al Qur’an turun untuk memandu jalan, menerangkan hakikat dan menyingkap tabir. Alhasil, para shahabat senantiasa yakin dan melangkah dengan pasti. Inilah salah satu ruang kosong pada pergerakan dakwah kita. Menghadapi gerak dakwah diera keterbukaan, tidak banyak para pemikir yang mendampingi dan memandu jalan, baik dengan ceramah maupun tulisan. Alhasil, banyak kegamangan dan keraguan melanda kader. Prasangka dan debat menjadi santapan, ketimbang ilmu dan pencerahan. Padahal dari luar, mereka juga menghadapai serangan pemikiran yang dahsyat dari kamar sebelah.

Dalam hal advokasi terhadap masyarakat muslim, sifatnya masih tebang pilih. Jika bisa diatasi dengan sumber daya internal, maka izzah islam akan ditegakkan. Misalnya pada kasus perang Bani Qainuqa. Dimana ada satu muslimah yang dilecehkan kehormatannya dan ada satu orang islam yang terbunuh, maka segera dilakukan mobilisasi umum untuk mengepung dan mengusir mereka dari Madinah.

Namun saat 70 orang ahli qur’an mati syahid pada tragedi Bi’r Ma’unah, rasulullah hanya mendoakan melalui qunut nazilah. Tidak ada mobilisasi bersenjata, ekspedisi militer maupun pemberangkatan sariyah untuk menuntut balas. Jadi, proses pembelaan terhadap komunitas muslim belum terjadi secara sempurna. Berbeda halnya dengan kondisi pada fase ketiga (fase ofensif, tulisan seri ketiga kelak).

Jika yang dicalonkan untuk maju berasal dari kalangan kader internal, maka pembelaan dan pemenangan akan dilakukan habis – habisan. Ada seruan mobilisasi umum untuk ta’awun, baik kepada kader, simpatisan maupun pihak eksternal. Namun jika kandidat yang diusung berasal dari kalangan eksternal, kapasitas energi pemenangannya maksimal berkisar 75%.

Demikian pula jika pemilukada dilaksanakan di daerah lain. Proses ta’awun dakwah antar sesama daerah memang terjadi, namun pembelaan belum bisa dilakukan secara totalitas. Dimaklumi saja, karena kondisi satu sama lain memang sama – sama belum mapan. Mobilisasi kader dari daerah luar untuk menunjang pemenangan pemilukada, baik sebagai anggota tim sukses, konsultan politik maupun tim pengamanan dilakukan secara terbatas.

Pada fase ekspansif ini, kita harus banyak berhitung dan mengkalkulasi faktor – faktor penyebab datangnya kemenangan. Meski sumber daya masih terbatas, namun dengan sedikit kreatifitas, keuletan dan kerja keras, kemenangan masih bisa diraih. Jika kesempatan terbuka, harus dimaksimalkan dan dikonversi menjadi gerak ekspansi dakwah kepada seluruh lapisan kader.

Kita harus berkaca pada komunitas muslim di Madinah, dengan jumlahnya yang hanya sepertiga tapi mampu melakukan banyak lompatan dan gerak ekspansi dakwah. Bukankah di Indonesia, jumlah ummat islamnya justru mayoritas? Bukankah hal itu bisa menjadi modal sosial yang bagus dan tempat pijakan yang kuat untuk meraih kemenangan?

( Haa )

Baca Lainnya:

UPDATE

02 Februari 2017 | 13:33 wib

Anda Jomblo? Mau Nikah? Silahkan Beli Hantaran Menarik Karya PKS Kota Semarang ini

Semarang, PKS Jateng Online – Bagi Anda yang jomblo dan hendak merencanakan menikah, pasti membutuhkan hantaran pernikahan.…


01 Februari 2017 | 16:40 wib

Habib Syech Do'akan Yaris Untuk Salatiga Hati Beriman

image Salatiga, PKS Jateng Online - Menjaga keteduhan hati masyarakat Kota Salatiga, masyarakat Kalibening Salatiga menggelar…


01 Februari 2017 | 13:48 wib

Ini Pesan KH Kamal Fauzi Untuk Kader PKS Menjelang Pilkada Serentak 2017

image Semarang, PKS Jateng Online - Memasuki tahun 2017, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah…


30 Januari 2017 | 14:55 wib

Tanamkan Jiwa Kepemimpinan, Anak Kader Diajak Main Di Luar

image Semarang, PKS jateng Online – Jiwa kepemimpinan harus ditanamkan sejak kecil,  mengingat berarnya beban yang…


30 Januari 2017 | 14:52 wib

Yaris Bersama Mayarakat Salatiga, Jaga Kesehatan Lestarikan Lingkungan

image Salatiga, PKS Jateng Online - Perhelatan akbar rakyat Kota Salatiga yang tinggal menghitung hari, tak dilepas begitu saja…

© 2014 PKS JATENG ONLINE
Jl. Kelud Utara No.46, Petompon, Gajahmungkur, Kota Semarang
Telp. 024-70776373 Fax. 024-8311244 Email: info@pksjateng.or.id