Artikel
28 September 2016 | 13:02 wib Home » Artikel » Detail

Semua Ada Waktunya #3

image

Oleh Eko Jun

 

Pada fase pertama, rasulullah menekankan strategi defensif dengan meminimalisir konflik terbuka dan perintah untuk bersabar. Pada fase kedua, rasulullah menggariskan strategi ekspansif dengan mengibarkan bendera perlawanan dan tindakan pengamanan untuk mempertahankan basis teritorial. Fase selanjutnya adalah ...

Ketiga, Fase Ofensif

Pada fase ketiga, izzul islam wal muslimin dijalankan secara paripurna. Diantara penyebabnya adalah Madinah telah bebas dari pengaruh yahudi dan bangsa Quraisy sudah “menyerah” dalam upayanya untuk menaklukkan Madinah. Jika titik cut off fase kedua adalah peristiwa hijrah, maka titik cut off fase ketiga adalah pasca perang khandaq. Sebagaimana sabda rasul usai berakhirnya perang khandaq “Sekarang, gantian kita yang akan menyerang mereka”.

Penting bagi qiyadah untuk memperhatikan situasi dan kondisi dalam menentukan cut off suatu marhalah dakwah. Ketika suatu marhalah dakwah yang baru sudah ditetapkan, otomatis strategi dan style-nya berbeda. Dalam proses pemilukada, kita harus punya rancangan yang jelas kapan mendukung dan kapan mengusung, kapan berkoalisi dan kapan berkompetisi. Entah dengan firasat, kajian maupun survei lalu muncul statemen politik “Sekarang, saatnya kita mengusung kader sendiri”. Saat ini, relatif hanya PDI-P yang memiliki pola ini, dimana mereka bebas memutuskan siapa yang akan diusung dan semua partai seolah “dipaksa” menunggu kabar dari Bu Mega dalam merumuskan langkah selanjutnya. Dalam beberapa kasus, Gerindra juga memiliki otonomi yang cukup besar dalam penentuan kandidat.

Sayap Diplomasi

Pada fase ofensif ini, rasulullah mensejajarkan diri sebagai pemain besar. Beliau membuat perjanjian dengan suku Quraisy dalam peristiwa sulhul hudaibiyah. Harus dipahami, suku Quraisy adalah suku yang paling terpandang di jazirah Arab. Hanya suku Quraisy saja yang mampu memobilisasi suku – suku lain dalam koalisi besar. Ancaman militer terbesar datang dari suku Quraisy, bukan dari suku yang lain. Membuat perjanjian damai dengan suku Quraisy adalah kemenangan besar besar yang akan mengantarkan pada Fathu Makkah. Wajar jika surat yang turun pasca ditekennya sulhul hudaibiyah adalah surat Al Fath.

Saat ini, kita masih berada dikalangan partai kelas menengah. Titik cut off dari partai kelas menengah ke partai besar dimulai saat kita memiliki daya tawar yang tinggi dikalangan partai besar. Bukan hanya sebagai pelengkap koalisi, tapi benar – benar sebagai mitra koalisi yang memiliki pengaruh untuk menentukan pasangan kandidat dan merubah peta politik. Ini adalah kondisi pendahuluan untuk menapak jalan sebagai pemain besar. Terlebih jika partai – partai besar sudah memandang kita sebagai lawan kompetisi yang serius, berarti kita memang sudah menjadi pemain besar. Tandanya sederhana, yakni memiliki magnet besar bagi partai dan lain dan mereka menunggu diajak berkoalisi oleh kita.

Hal lain juga ditunjukkan saat mengirimkan surat – surat dakwah kepada para pemimpin dunia. Dalam manhaj haraki, kita mengenalnya sebagai fase internasionalisasi dakwah (intisyarul islam fil ardhi). Kali ini rasulullah memposisikan dirinya bukan lagi sebatas pemimpin Madinah, tapi juga pemimpin jazirah Arab yang sejajar kedudukannya dengan pemimpin kerajaan – kerajaan besar dunia saat itu.

Umumnya, hubungan antar negara dilakukan oleh kepala negara baik dalam konteks bilateral, regional maupun multilateral. Pola yang sama juga bisa terjadi pada level yang lebih rendah, yakni antar daerah dan provinsi. Dalam hal ini, sebuah gerakan dakwah telah berhasil menempatkan kadernya sebagai kepala presiden, gubernur, bupati/walikota. Namun hubungan internasional juga bisa dilakukan oleh aktor non negara, seperti ormas, parpol, NGO, MNC dll. diluar negeri, wajar ketua parpol dari suatu negara bertemu dengan kepala negara dari negara lain dan/atau sebaliknya.

Sayap Advokasi

Pembelaan terhadap terhadap komunitas muslim mencapai puncaknya. Kesimpulan ini kita ambil dari beberapa kasus, diantaranya peristiwa bai’atur ridwan. Rasulullah keluar Madinah bersama 1.400 orang dengan maksud berumrah. Lalu terjadilah beberapa rangkaian peristiwa yang membuat Utsman ditawan oleh suku Quraisy. Demi membebaskan Utsman, seluruh yang hadir berbai’at, siap berperang menyerbu Makkah. Jika kita renungkan, situasinya sungguh sangat heroik. Ukhuwahnya sangat tinggi karena siap berperang demi membebaskan 1 orang saja. Nyalinya sangat besar karena siap menyerbu basis musuh meski tidak membawa senjata.

Kasus lain terjadi pada perang Mu’tah. Rasulullah mengirim utusan untuk menyampaikan surat dakwah kepada Raja Bushra. Sesampainya di Muktah, utusan itu dibunuh. Padahal dalam aturan internasional, seorang kurir tidak boleh dibunuh. Untuk membalasnya, rasulullah mengirim 3.000 pasukan ke Mu’tah.  Hal yang kurang lebih sama juga terjadi pada perang Tabuk. Rasulullah berangkat bersama dengan 10.000 pasukan, dimana salah satu alasannya adalah untuk menuntut balas atas terbunuhnya Ja’far bin Abu Thalib yang gugur di perang Mu’tah.

Negara besar dan kuat akan memberikan perlindungan ekstra kepada warga negaranya. Terusik sedikit, berarti menyulut perang frontal. Dalam sejarah, kita tahu Raja Kubilai Khan mengirim pasukan besar ke Jawa untuk menghukum Kertangara, Raja Singosari yang melukai (memotong telinga) Meng Chi (utusan mongol). Sedangkan Jenghis Khan mengirim pasukan yang sangat besar hingga menghancurkan daulah Dani Abbasiyah di Baghdad, hanya karena beberapa pedagang Mongol dibunuh oleh Daulah Khawarismi. Saat ini, praktis hanya Amerika yang mampu melakukan hal seperti ini.

Penentuan pasangan kandidat dalam arena pemilukada tidak selalu dalam kondisi ideal. Kadang ada kandidat yang diusung demi membela kehormatan partainya. Mungkin karena partainya dilecehkan, mungkin karena partainya merasa dikhianati oleh calon kandidat dll. Jika kondisi demikian terjadi, mereka akan mengumumkan perang bubat dengan menginstrksikan seluruh kader dan simpatisannya untuk bertempur habis – habisan. Dibeberapa daerah, kita sudah mampu melakukan hal ini. Namun secara umum, hanya partai besar dan mapan saja yang bisa berperilaku demikian.

Khatimah

Betul, semua ada saatnya. Ada masanya kita defensif, ada masanya kita ekapansif dan adapula masanya kita ofensif. Pandai – pandainya kita membaca situasi dan meningkatkan kapasitas organisasi agar kita bisa naik kelas, dari partai menengah menjadi partai besar. Saat itulah kita bisa menjalankan fungsi partai dengan efektif, yakni melahirkan para pemimpin berkualitas dari rahim kita sendiri. Wallahu a’lam.

( Haa )

Baca Lainnya:

UPDATE

02 Februari 2017 | 13:33 wib

Anda Jomblo? Mau Nikah? Silahkan Beli Hantaran Menarik Karya PKS Kota Semarang ini

Semarang, PKS Jateng Online – Bagi Anda yang jomblo dan hendak merencanakan menikah, pasti membutuhkan hantaran pernikahan.…


01 Februari 2017 | 16:40 wib

Habib Syech Do'akan Yaris Untuk Salatiga Hati Beriman

image Salatiga, PKS Jateng Online - Menjaga keteduhan hati masyarakat Kota Salatiga, masyarakat Kalibening Salatiga menggelar…


01 Februari 2017 | 13:48 wib

Ini Pesan KH Kamal Fauzi Untuk Kader PKS Menjelang Pilkada Serentak 2017

image Semarang, PKS Jateng Online - Memasuki tahun 2017, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah…


30 Januari 2017 | 14:55 wib

Tanamkan Jiwa Kepemimpinan, Anak Kader Diajak Main Di Luar

image Semarang, PKS jateng Online – Jiwa kepemimpinan harus ditanamkan sejak kecil,  mengingat berarnya beban yang…


30 Januari 2017 | 14:52 wib

Yaris Bersama Mayarakat Salatiga, Jaga Kesehatan Lestarikan Lingkungan

image Salatiga, PKS Jateng Online - Perhelatan akbar rakyat Kota Salatiga yang tinggal menghitung hari, tak dilepas begitu saja…

© 2014 PKS JATENG ONLINE
Jl. Kelud Utara No.46, Petompon, Gajahmungkur, Kota Semarang
Telp. 024-70776373 Fax. 024-8311244 Email: info@pksjateng.or.id