Artikel
01 April 2011 | 17:23 wib Home » Artikel » Detail

Idealisme Komunikasi Politik PKS


Oleh Muchamad Yuliyanto

MENYAMBUT Musyawarah Wilayah (Muswil) II Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jateng pada 8-10 Oktober 2010 perlu analisis kontemporer terkait kiprah, dinamika, dan masa depan partai ini. Kondisi geopolitik di provinsi ini sejak Pemilu 1955 belum mengalami perubahan signifikan karena masih didominasi warga politik berlatar nasionalis. Partai nasionalis yang dominan sejak pemilu zaman reformasi adalah Partai Golkar, PDIP, kemudian menyusul Partai Demokrat, Gerindra, dan Hanura dengan dukungan perilaku politik konstituen yang tidak memedulikan persoalan agama sebagai moral values dalam mengelola amanat rakyat, baik di legislatif maupun eksekutif. 

Sementara, PKS memiliki tujuan ideologis sebagaimana tertuang dalam Anggaran Dasar Pasal 5, yakni terwujudnya masyarakat madani yang adil dan sejahtera yang diridai Allah SWT, dalam NKRI. Pemaknaan oleh masyarakat Jateng yang dikenal abangan dan egaliter dalam berperilaku sosial terkait agama, PKS Jateng ketika tetap mengedepankan moralitas agama sebagai basis ideologi partai, akan menghadapi tantangan berat berwujud respons apatis publik ataupun kesulitan membangun komunikasi politik dengan parpol lain. Partai yang awalnya dikenal dengan nama Partai Keadilan dan mengusung platform keislaman yang terkesan eksklusif serta basis konstituen yang juga menyendiri, belum memperoleh respons positif pada Pemilu 2004. 

Namun begitu memperkuat posisinya sebagai partai kader, yang rajin menyambangi dan melayani masyarakat Jateng maka partai ini menuai hasil pada Pemilu 2009, yang terbukti mampu membentuk fraksi di DPRD Jateng. Karenanya peserta muswil kali ini perlu menyadari bahwa kenaikan perolehan suara di seluruh Jateng lebih karena kerja-kerja sosial partai, kesetiaan menjalankan peran partai kader untuk merawat konstituen dan juga performa aktivis partai di masyarakat, yang mulai menemukan karakteristik kader bersih dan jujur menjalankan amanah, dibanding politikus partai Islam lainnya.

Menciptakan Tokoh

Perlu juga mengedepankan evaluasi terkait pola komunikasi politik. Partai ini sesungguhnya dirindukan masyarakat Jateng karena dinilai layak menjadi alternatif untuk kanalisasi ekspektasi publik tentang bagaimana mewujudkan pengelolaan kepercayaan publik yang jujur dan memberi teladan nyata di masyarakat. Pada sisi lain, kehidupan politik di Jateng dilanda badai transaksionalisme ditopang perilaku pragmatis yang sering mengecewakan masyarakat.

Perilaku komunikasi politik PKS perlu memperoleh perhatian pada saat menyikapi perpolitikan di aras lokal, pertama; komunikasi politik PKS yang mengedepankan aspek bersih dan jujur sering bertabrakan dengan parpol lain. Karena itu, butuh penguatan kapabilitas membangun wacana dan koalisi atas dasar moralitas berpolitik supaya jangan sampai politikus PKS bungkam sebelum tampil menyuarakan fungsi dirinya membawakan keputusan partai.

Kedua; komunikasi politik PKS sering dinilai licin dan mencari untung sendiri seperti kemaruk kekuasaan dengan dalih fungsi partai lebih optimal ketika mendudukkan kadernya secara penuh di semua alat kelengkapan parlemen tanpa mempedulikan kehadiran dan political sharing dengan parpol lain. 

Ketiga; kemampuan komunikasi politik politikus PKS belum merata, artinya partai belum mampu men-setting upaya menciptakan penokohan bagi kadernya secara merata. Hanya kader tertentu yang mampu tampil mendominasi wacana perpolitikan saat di gedung Dewan. Sudah saatnya partai itu menjalankan apa yang ditawarkan Ardial (2009:79-84) yakni membangun ketokohan kemantapan lembaga (parpol) melalui media relations yang baik agar mampu memunculkan politikus profesional, bersih, dan kritis, terutama yang di kabupaten/kota. 

PKS diprediksi tetap bisa masuk empat besar di Jateng bila konsisten membangun konstituen, merawat ketokohan politik, rajin membangun komunikasi politik yang berbobot, diikuti kerja-kerja pelayanan yang tidak kenal lelah. Bukan sebaliknya, yakni ikut mainstream politik transaksional dengan argumentasi miskin modal material dan ketakutan psikologis lantaran banyak mengalami kekalahan dalam pilkada.  (10)    
 
— Muchamad  Yuliyanto, dosen komunikasi FISIP Undip, peneliti pada LPPD Jateng, serta analis komunikasi politik dan demokrasi lokal

Sumber: Suara Merdeka

( Muchamad Yuliyanto )

Baca Lainnya:

UPDATE

02 Februari 2017 | 13:33 wib

Anda Jomblo? Mau Nikah? Silahkan Beli Hantaran Menarik Karya PKS Kota Semarang ini

Semarang, PKS Jateng Online – Bagi Anda yang jomblo dan hendak merencanakan menikah, pasti membutuhkan hantaran pernikahan.…


01 Februari 2017 | 16:40 wib

Habib Syech Do'akan Yaris Untuk Salatiga Hati Beriman

image Salatiga, PKS Jateng Online - Menjaga keteduhan hati masyarakat Kota Salatiga, masyarakat Kalibening Salatiga menggelar…


01 Februari 2017 | 13:48 wib

Ini Pesan KH Kamal Fauzi Untuk Kader PKS Menjelang Pilkada Serentak 2017

image Semarang, PKS Jateng Online - Memasuki tahun 2017, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah…


30 Januari 2017 | 14:55 wib

Tanamkan Jiwa Kepemimpinan, Anak Kader Diajak Main Di Luar

image Semarang, PKS jateng Online – Jiwa kepemimpinan harus ditanamkan sejak kecil,  mengingat berarnya beban yang…


30 Januari 2017 | 14:52 wib

Yaris Bersama Mayarakat Salatiga, Jaga Kesehatan Lestarikan Lingkungan

image Salatiga, PKS Jateng Online - Perhelatan akbar rakyat Kota Salatiga yang tinggal menghitung hari, tak dilepas begitu saja…

© 2014 PKS JATENG ONLINE
Jl. Kelud Utara No.46, Petompon, Gajahmungkur, Kota Semarang
Telp. 024-70776373 Fax. 024-8311244 Email: info@pksjateng.or.id