img

Belajar Membumikan Ucapan

img

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS 41 ayat 33)

Maha Besar Allah yang telah menciptakan organ-organ tubuh dalam diri manusia. Semua begitu sempurna. Seribu satu kegiatan bisa dilakukan manusia dengan kesempurnaan ciptaan Allah itu. Diantaranya sebuah lidah yang dengannya manusia mampu mengolah kata-kata: bicara, mencela, menghibur, juga mengajak.

Ada yang mampu memadukan kefasihan lidahnya dengan organ-organ lain dalam bentuk konsistensi perbuatan. Keterpaduan menjadi keindahan. Orang menjadi begitu tertarik dengan ajakannya, dan kemudian mengikutinya. Tapi, tidak sedikit yang akhirnya gagal.

 

Perbuatan lebih berpengaruh dari sekadar perkataan

Ada pelajaran menarik dari tingkah anak kecil. Pernahkah kita menyuruh tidur mereka? Biasanya anak kecil tidak begitu peduli dengan ucapan. Walaupun itu dari orang tuanya sendiri. Tetap saja si anak terus bermain walaupun malam kian larut.

Biasanya, seorang ibu punya cara sendiri agar si anak mau tidur. Selain ucapan lembut, si ibu mengajak anaknya berbaring bersama. Seolah ibu itu pun hendak tidur. Awalnya, anak kecil mencermati tingkah ibunya. Seriuskan, atau Cuma main-main. Tapi setelelah beberapa kali sang ibu dilihatnya terus terpejam, ia pun mulai paham dan yakin. Ia memang harus tidur.

Pelajaran lain ada dari penggalan kisah Rasulullah S.A.W. Ketika  peristiwa haji pertama, Rasulullah pernah menyuruh sahabat untuk menyembelih hewan korban. Tapi tak seorang pun yang melakukan. Mungkin para sahabat masih terkesima dengan hasil perjanjian Hudaibiyah yang baru saja ditandatangani Rasulullah. Mungkin, mereka menilai kalau perjanjian itu merugikan umat Islam. Melihat reaksi itu, Rasulullah agak marah.

Ketika masuk tenda, beliau disapa istrinya, Ummu Salamah. Ya Rasulullah, kenapa tidak kau sembelih dahulu hewan korbanmu. Saya sayakin, para sahabat akan mengikuti. Begitulah kira-kira ucapan Ummu Salamah kepada suami tercintanya.

Benar saja. Setelah beliau keluar dari tenda dan menyembelih hewan korban, para sahabat pun mengikuti perbuatan Rasul itu. Mereka seolah tersadar kalau Rasulullah serius menyuruh mereka untuk menyembelih hewan korban.

Seperti itulah kekuatan sebuah perbuatan. Dan seperti itulah Allah mengajarkan kekuatan perbuatan kepada hewan. Para penggembala banteng paham betul bagaimana menggiring ternaknya yang bisa berjumlah ratusan. Terutama ketika menyeberangi sungai. Para penggembala tidak perlu repot-repot memaksa semua banteng melalui sungai satu per satu. Cukup paksa satu induk banteng. Kalau sukses yang ratusan lainnya akan ikut menyeberang.

Begitu pula mengajak saudara kita kepada kebaikan. Pada tahap awal, perlu adanya pemahaman. Tapi setelah itu, semua tergantung pada keteladanan. Jika teori tidak sama dengan kenyataan, pemahaman akan buyar. Perlahan tapi pasti, orang yang kita ajak mulai menghindar. Setelah itu, ucapan dan ajakan kita tak lebih dari sekadar angin lalu.

 

Pengalaman merupakan pelajaran terbaik buat siapa pun

Di situlah mungkin ketika Allah swt mengiringi iman, amal, dan nasihat dalam satu paket agar terhindar dari kerugian. Firman Allah dalam surah al 'Ashr: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”

Iman saja belum cukup. Harus dibuktikan dalam bentuk perbuatan. Imannya hidup dalam keseharian diri, keluarga, masyarakat, dan negara. Mukmin seperti itulah yang akhirnya punya kekuatan dalam memberikan nasihat. Baik nasihat agar senantiasa dalam kebenaran, maupun kesabaran.

Amal kebaikan yang dilakukan dengan penuh ikhlas, bukan hanya melahirkan manfaat dunia dan akhirat. Tapi memberikan pelajaran tersendiri buat si pelakunya. Ia menjadi paham kenapa bisa gagal. Apa yang mesti disiapkan jika harus menempuh rute itu. Dan apa yang mesti diwaspadai ketika memilih rute yang lain.

Pengalaman menjadi bobot tersendiri dari nilai ucapannya. Itulah kenapa seorang murid lebih cepat paham jika diterangkan guru berpengalaman. Karena ia bukan sedang merangkai kata-kata. Tapi menggambarkan dunia nyata dalam bentuk kata-kata.

 

Jangan belajar bicara, tapi berlatih untuk berbuat

Sayyid Quthub pernah memberikan penjelasan, kenapa ada perbedaan mutu antara generasi para sahabat dengan generasi saat ini. Dalam buku Ma’alim fith Thariq, beliau mencatat keistimewaan sahabat Rasul. Diantaranya, para sahabat meresapi ilmu yang diterima dari Rasulullah semata-mata hanya untuk diamalkan. Bukan untuk dikliping, diolah menjadi kata-kata yang menarik dan sebagainya.

Tidak heran jika banyak sahabat Rasulullah yang berilmu sederhana, tapi punya kualitas amal yang luar biasa. Itulah yang dibuktikan dari sahabat Khalid bin Walid. Sahabat mulia ini tergolong belakangan masuk Islam. Yaitu pasca perang Uhud atau kurang lebih lima belas tahun setelah kerasulan Muhammad S.A.W. Tapi Khalid bin Walid lah yang akhirnya dikenal dunia sebagai saiful Islam (pedang Islam). Karena kegigihan dan kecanggihan beliau memimpin pasukan Islam menaklukkan negeri-negeri kafir termasuk Persi.

Jika kita berlatih untuk senantiasa belajar berbuat, bicara akan menjadi mudah. Bahkan ucapan dan ajakan akan menjadi sangat berbobot. Sedikit tapi padat. Sederhana tapi dalam. Karena ucapannya merupakan pantulan dari kuatnya sinar perbuatan.