img

Gelaran Pilbup Pati 2017 Diapresiasi

img

PATI - Masa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang digelar serentak di berbagai kota/ kabupaten kini telah usai. Dalam prosesnya, ada satu kabupaten yang menjadi perhatian utama kalangan DPRD yakni Pati. 

Kabupaten tersebut merupakan daerah penyelenggara pilkada yang hanya memiliki satu pasangan calon (paslon). Sementara lawannya adalah kotak kosong.

Saat Komisi A DPRD Jateng berkunjung ke Kantor KPU Pati, Kamis (16/3/2017), Ketua KPU setempat Muhammad Nasiq mengatakan, pihaknya sudah mempersiapkan upaya yang terbaik dalam penyelenggaraan pilkada termasuk pengadaan kolom kosong serta menyiapkan legal standing. “Kami mempersiapkan segalanya dengan matang karena paslon tunggal cukup menyulitkan bagi kami. Sehingga, kami sering berkonsultasi dengan KPU pusat dalam penentuan keputusan yang akhirnya disepakati pembuatan kolom kosong. Keputusan itu membuat Pilkada Pati jadi berbeda dan menjadi sorotan media massa nasional adalah jumlah pemungut suara bagian kolom kosong cukup signifikan,” ujarnya.

Dia juga menambahkan langkah yang diambil oleh KPU Pati cukup membuat pro dan kontra di kalangan masyarakat. “Adanya pro kontra di kalangan masyarakat terkait keputusan yang diambil oleh KPU Kabupaten Pati. Namun, dibalik itu daya elektabilitas masyarakat terhadap pilkada naik menjadi 68% dibanding pada tahun sebelumnya. Hasil yang dicapai paslon tunggal sebanyak 74,57 persen sedangkan kolom kosong mendapat 25,48 persen. Itu menunjukan antusiasme pemilih Pati sangat baik,” imbuhnya.

Menanggapi hal itu, Anggota Komisi A DPRD Jateng Jasiman mengaku sangat apresiatif dengan pencapaian kinerja KPU tersebut. “Kami sangat apresiatif atas capaian kinerja tim komisioner dalam menyiapkan semuanya, termasuk keputusan kolom kosong. Hal itu menjadi sangat menarik karena dapat meningkatkan daya elektabiltas masyarakat Pati itu sendiri. Saya harap ke depannya ada persiapan yang baik dan matang agar yang maju dalam Pilkada nanti tidak hanya satu paslon saja,” harap legislator PKS itu.

Senada, Anggota Komisi A, Anisa Devy Ika Natalia, lebih menekankan pada jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT). Menurut dia hal itu sangat berpengaruh pada rekapitulasi hasil suara. 

Jumlah DPT yang ada, kata dia, harus sesuai dengan data dan pemilih pemula sehingga bisa menjadi target utama. Sedangkan data C6 Pilkada, jika memang DPT tersebut tidak ada, maka formulir dikembalikan dan tidak dapat disalahgunakan. 

"Karena, jumlah formulir C6, jika disalahgunakan, dapat mempengaruhi hasil hitung Pilkada dan dapat menjadi permasalahan cukup serius,” jelas politikus Partai Gerinda itu. (setyo/ariel)

Sumber: wartalegislatif DPRD Jateng