img

Gaya Atau Nggaya

img

Oleh Muhtadi Kadi, Lc

Dulu, ketika masih di bangku sekolah, pak guru Fisika menjelaskan tentang makna gaya. Adalah,  suatu kekuatan –tarikan atau dorongan- yang mengakibatkan benda yang dikenainya akan mengalami perubahan posisi atau kedudukan serta berubah bentuk. Dengan ini dapat ditarik benang merah bahwa seluruh hidup dan kehidupan manusia di dunia ini tidak bisa dilepaskan dari gaya.

Hidup butuh gaya. Tanpa gaya tak ada hidup. Maka, orang yang sudah mati tak bisa bergaya. Masak ada mayit tiba-tiba berselfie. Dan yang bisa bergaya hanya orang yang masih hidup. Selagi masih hidup, maka bergayalah asal jangan nggaya. Karena kata “nggaya” sudah ada tambahannya. Jadi, gaya adalah kebutuhan, sedangkan “nggaya” adalah berlebih-lebihan. Menghias diri adalah anjuran, tapi kalau berlebihan justru memuakan.

Dalam rumus Fisika, gaya bisa didapatkan dari usaha dibagi perpindahan. Jika ingin mendapatkan nilai gaya yang besar maka harus diberikan usaha yang besar dan melakukan perpindahan yang kecil. Dari rumus ini kita temukan, setiap orang sukses pasti besar dan banyak usahanya. Sedangkan orang yang tidak sukses sangat kecil dalam berusaha. Ia hanya pandai nggaya. Dan nggaya, selain bermakna berlebih-lebihan, ia juga dekat dengan kepura-puraan.

Maka dari itu, jika kita ingin sukses dan bergaya besar maka berusahalah sebesar mungkin dan jangan suka melakukan perpindahan. Dalam merajut kebahagiaan hidup, janganlah Anda suka berpindah-pindah. Dari istri pertama pindah ke istri selingkuhan.  Dari satu tempat kerja ke tempat kerja yang lainnya. Karena setiap usaha yang sukses butuh waktu yang lama dan tidak berpindah-pindah tempat. Terkhusus dalam masalah cinta.

Di era kecanggihan teknologi telah membuat mata kita kabur tuk membedakan antara kebutuhan hidup, gaya hidup, dan nggaya hidup. Kebutuhan hidup dan nggaya sudah menjelma menjadi gaya hidup. Dalam abad gaya hidup ini, penampilan diri menjadi dewa kehidupan. “Kamu bergaya maka kamu ada!” adalah ungkapan yang mungkin cocok untuk melukiskan kegandrungan manusia modern terhadap nggaya.

Dan gaya hidup dapat dijadikan jendela dari kepribadian masing-masing invidu. Padahal, biaya gaya hidup itu sangat mahal, terkadang harus kehilangan harga diri, bahkan menggadaikan kebahagiaan akhiratnya di Neraka. Sedangkan biaya hidup itu murah, karena hidupnya tidak neko-neko, juga tidak diperbudak oleh kepura-puraan serta kebohongan. Hidup itu murah, merek yang bikin mahal. Hidup itu sederhana gengsi yang bikin keki.

Mari sejenak kita lihat kehidupan pak Tani di desa Pabelan ini. Ia hanya menggarap dua setengah petak sawah. Dan ia harus menghidupi tiga anaknya yang sudah duduk di bangku sekolah. Meskipun demikian, ia tidak pernah minta-minta ataupun pergi ke bank setiap awal bulan untuk membayar angsuran. Sekecil apapun uangnya akan cukup bila digunakan untuk hidup. Tapi sebanyak apapun uangnya tak akan pernah cukup jika untuk memenuhi gaya hidup.

Sedangkan diantara kita yang menjadi guru, dosen, bisnisman, dan tampak kecukupan, namun selalu dililit kekhawatiran karena selalu dibayang-bayangi tagihan hutang. Yang sedikit akan cukup jika dipakai untuk kebutuhan hidup. tapi yang banyak akan terasa kurang jika dipakai untuk memenuhi gaya hidup.
Hidup akan terasa sangat indah bila dijalani tanpa kepura-puraan. Jangan-jangan, saya nulis seperti ini juga termasuk nggaya. Na’udzubillah.

Dimuat dikoran jawa pos radar karisedenan kedu