img

Ora Ngiro

img

Oleh Ust Muhtadi Kadi Lc

Mendung ketakutan mengglayut tebal di langit-langit hatinya. Pekat. Sehitam suasana di gua itu. Bayangan penyiksaan tepat di depan matanya. Pedang-pedang tajam berkelebat-kelebat seolah menyincang tubuhnya. Abu Bakar merinding dalam ketakutan. Wajahnya pucat pasi. Tak terasa tubuhnya bergetar hebat. Bagaimana tidak, dari celah gua itu ia mampu melihat para pemburu berada di atas kepalanya. Sayembara telah ditempel di setiap sudut kota. Pundi-pundi intan permata menggantikan kepala mereka berdua. Para algojo Quraisy beradu memburu mereka berdua seperti srigala mengincar mangsanya.

Sama sekali Abu Bakar tidak mengkhawatirkan keselamatannya. Kematian baginya bukan apa-apa, ia hanya lelaki biasa. Sedang untuk lelaki mulia yang kini ada di sampingnya, keselamatan di atas mati dan hidupnya. Bagaimana bumi jika harus kehilangan sinar purnama. Bagaimana dunia tanpa benderang penyampai wahyu. Sungguh, ia tak gentar dengan tajam mata pedang para algojo Quraisy yang akan merobek lambung serta menumpahkan darahnya. Sungguh, ia tidak khawatir runcing tombak yang akan menghunjam setiap jengkal tubuhnya. Ia hanya takut, mereka membunuh Muhammad, nabi junjungannya.

Abu Bakar setengah berbisik, "Wahai Rasulallah, jika mereka melihat ke kaki-kaki mereka, sungguh, mereka akan melihat kita." Rasulullah memandang Abu Bakar penuh makna. Ditepuknya punggung sahabat dekatnya ini pelan sambil berujar, “La tahzan, innallaha ma’ana…” (Janganlah engkau takut dan bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita).

Sisi manusiawi, sebenarnya mereka berdua dirundung mendung ketakutan. Yang membedakan adalah penyikapannya. Yang satu didominasi nalar logika. Dan satunya lagi didominasi nalar keimanan. Abu Bakar menggunakan hitung-hitungan akal, algojo-algojo itu pasti akan menemukannya, lalu membantainya. Namun baginda Nabi meyakini bahwa Allah tidak akan membiarkan kulitnya tergores oleh pedang-pedang musuhnya. Keyakinan atas Ilahiyah memadamkan jilatan api keraguan dan ketakutan orang-orang sekitar.

Orang-orang Qurays itu tidak melangkahkan kakinya ke gua tempat persembunyian mereka berdua karena nalar logikanya telah dibungkam oleh akalnya sendiri. “Tidak mungkin Muhammad dan Abu Bakar di dalam gua ini karena dipintu gua itu ada rumah laba-laba!!”  Seru mereka dalam kesepakatan. Pertolongan dari Allah berupa sesuatu yang tidak bisa dinalar oleh logika. Sungguh ora ngiro, alias tidak menyangka.  
 
Kita seringkali menyelesaikan perkara kehidupan ini hanya dengan logika akal. Sakit pergi ke dokter. Agar menang pilkada pergi ke dukun. Hati lagi galau, berwisata. Suami agar tak selingkuh, pasang mata-mata dimana-mana. Piutang tak dibayar, kirim dept collector. Agar mulus dalam urusan birokrasi, salam tempel telah disiapkan. Agar cepat dapat jodoh, FB dan WA penuh dengan applaud foto yang terkini dan terseksi.

Itu cara standar menghadapi masalah hidup. Dan ketika mendapatkan perkara yang rumit bin mbundet hingga nalar logikanya tidak menampung, akhirnya bingung tujuh keliling, lalu stres. Itulah cara orang biasa seperti kita. Adapun baginda nabi Muhammad bukan hanya ikhtiar lahiriah tetapi menggerakkan ruh yang dapat menggoyang langit sehingga sang Penguasa Jagad raya turun tangan memberi pertolongan.
 
Dan yang menarik penyelesaian dari Allah sangat sepele, ora nyongko blas. Tidak serumit yang kita bayangkan. Bingung mencari jodoh, ternyata ora ngiro dapat anak tetangga. Pusing mencari obat sakit perut yang sudah menahun, padahal sudah berobat ke dokter spesialis, pengobatan alternative, segala bentuk obat herbalis, bahkan ke dokter super spesialis, ternyata Allah menyembuhkan dengan makan cacing tanah. Bingung menganggur, melamar pekerjaan diperbagai kota hingga luar Jawa, ma’ benduduk, diterima kerja di tetangga desa.

“Siapa yang bertaqwa Allah akan memudahkan urusannya dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka” (QS. At-Thalaq: 4) Itu garansi dari sang Maha Pencipta. Masalahnya adalah, apakah kita sudah pantas mendapatkan kemudahan itu. Kalau kita menyadari belum pantas, mari sama-sama kita memantaskan diri di hadapan-Nya. []