img

Sudahkah Hati Bergembira Menyambut Ramadhan?

img

Mari jujur, kita bergembira atau sebaliknya kala menyambut Ramadhan? Bulan Ramadhan sudah kita kerap dengar sebagai bulan suci, bulan mulia. Kadang kita diingatkan agar menyambut tamu yang istimewa ini. Tentu dengan segala persiapan.

Setiap tahun jelang Ramadhan, kita selalu mendapatkan pengingatan sejenis. Lalu apakah kita atau minimal hati kita benar-benar menganggap Ramadhan sebagai tamu agung? Atau justru tamu yang menyusahkan?

Nampaknya, kita mesti berkaca lagi dan lagi dengan generasi terbaik umat ini. Ustadz A. Husein Sastranegara dalam Kajian Islam Sabtu Sore (KISS) DPW PKS Jawa Tengah menjelaskan jika generasi salaf -generasi terbaik umat ini- begitu amat serius menyiapkan diri menyambut Ramadhan.

Bahkan, sejak enam bulan sebelum Ramadhan sudah ada persiapan-persiapan yang dilakukan. Menurut beberapa riwayat yang masyhur, para sahabat, tabiin dan salafush salih minimal menyiapkan diri menyambut Ramadhan sejak bulan Rajab

Menurut Ustadz Husein, sunnah hasanah menyambut Ramadhan ini yang sudah mulai pudar di masyarakat. Menyambut berarti menyiapkan diri. Dengan perasaan gembira tentu saja. Tidak ada seseorang yang akan menyambut tamu yang ia nantikan jauh-jauh hari justru dengan perasaan muram.

Ini yang harus dihadirkan kembali, sikap gembira, sukacita dalam diri, keluarga, masyarakat untuk merasa senang dengan kehadiran Ramadhan. "Seandainya hilal Ramadhan muncul pada sore ini atau besok, sudahkah kita siap menyambutnya?" urai Ustadz Ahmad.

Mengapa menyambut Ramadhan harus dengan hati gembira dan kerinduan? Ustadz Husein menegaskan, kegembiraan hati kita akan hadirnya Ramadhan adalah bentuk maniestasi nilai ketakwaan. Artinya, orang yang bertakwa itu akan selalu merindukan datangnya bulan Ramadhan.

Dalam sebuah riwayat disebutkan enam bulan setelah Ramadhan, Rasulullah dan para sahabat mengevaluasi ibadah mereka. Sejauh mana madrasah Ramadhan memberikan efek pada amaliyah yaumiah mereka. Kita justru jauh lebih pantas mengevaluasi amalan-amalan harian setelah Ramadhan. Apakah kegiatan yaumiah sama denga kegiatan Ramadhan? apakah tilawah kita sudah menurun? apakah qiyam kita bolong-bolong? apakah sedekah kita tak lagi rutin?

Takwa adalah bagaimana kita menjaga diri dan hati dari hal hal yang dilarang Allah dan Rasul-Nya. Takwa mesti berkesinambungan. Syekh Yusuf Qaradhawi mengingatkan agar setiap manusia menjadi hamba Rabbani bukan hamba Ramadhani. Hamba Rabbani adalah hamba yang merealisasikan nilai luhur keislaman dalam keseharian baik ada maupun tiada Ramadhan.

Ia tetap datang jamaah lima waktu sekalipun diluar Ramadhan. Hamba Rabbani senantiasa sedekah tak kenal lelah meskipun di luar Ramadhan. Begitu dengan ibadah yang lain, qiyamnya, puasanya.

Bulan Ramadhan ibarat memintal benang sebuah baju.Baju ini akan selesai setelah Ramadhan. Baju ini akan dipakai sejak bulan Syawal hingga Sya'ban tahun berikutnya hingga bertemu Ramadhan lagi. Jika sudah memintal benang menjadi baju, yang harus dilakukan menjaga baju ini agar tetap bisa dipakai hingga Ramadhan selanjutnya. Harus dijaga kebersihannya, harus dijaga kualitasnya.

Hendaknya kita menjadikan bulan-bulan sebelum Ramadhan sebagai bulan untuk menanam. Sehingga Ramadhan adalah saat untuk memanen kebaikan. Para ulama salaf telah 'mencuri start' dalam melakukan kebaikan. Sehingga kebaikan Ramadhan sudah menjadi biasa karena dikerjakan pad bulan Rajab dan Sya'ban.

Ustadz Husein menguraikan, ada tiga golongan manusia dalam menyambut Ramadhan. Golongan pertama adalah yang merasa berat menyambut Ramadhan. Orang-orang ini belum menjiwai kemimanan dan keislaman. Datangnya Ramadhan terasa amat berat. Kenapa harus bersusah payah berpuasa sebulan penuh? Pertanyaan-pertanyaan itu yang lebih dulu menguasai jiwa mereka.

Golongan kedua adalah mereka yang menganggap puasa dan Ramadhan sebagai rutinitas. Sebagai sebuah kewajiban yang berulang dalam satu tahun. Rutin saja. Tidak ada kesiapan yang berarti baik dirinya, keluarganya maupun komunitasnya dalam menyambut Ramadhan.

Golongan ketiga adalah Muslim senantiasa gembira dan merindukan datangnya Ramadhan. Seorang Mukmin yang gembira dan rindu sebab memiliki nilai ketakwaan dalam hatinya. Kegembiraan yang hadir dalam hatiny bukanlah kegembiraan anak anak atau kegembiraan semu. Kegembiraan ini timbul dari kesadaran jiwa yang amat menggebu.

Lantas, kenapa orang beriman mesti gembira menyambut Ramadhan? Allah SWT paham akan karakter manusia, makhluk cipataannya. Allah Dzat yang Maha Rahman dan Rahim membeirkan banyak pos dan terminal kebaikan. Allah memberikan terminal harian, mingguan, bulanan, tahunan bagi manusia untuk berhenti sejenak. Allah ingin mengingatkan diri manusia tentang keberadaan Allah SWT.

Ramadhan adalah salah satu terminal kebaikan yang dihadirkan Allah SWT. Bukan hanya sekadar terminal pemberhentian, tetapi terminal pencuci dosa jika dosa besar ditinggalkan.

Rasulullah SAW bersabda, "Shalat fardhu lima waktu, shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antara masa tersebut seandainya dosa-dosa besar dijauhkannya.” (HR Muslim)

Pada bulan Ramadhan juga, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan dibelenggu dan malaikat menyeru para pencari kebaikan. Rasulullah SAW bersabda, “Ketika masuk bulan Ramadhan maka setan-setan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ramadhan adalah musim kebaikan. Allah SWT menjanjikan banyak fadhilah pada bulan ini. Ramadhan, dari awal hingga akhir seluruh isinya adalah kebaikan.

Ramadhan adalah bulan persaudaraan, bulan ukhuwah. Jika di luar Ramdhan, keluarga jarang berkumpul, tetangga jarang menyapa, kawan karib jarang bercengkrama, beda halnya saat Ramadhan. Keluarga berkumpul saat sahur dan berbuka, menyapa tetangga saat tarawih berjamaah, bertemu kerabat dalam taklim-taklim bersama. "Ramadhan bisa menjadi cikal takliful ummah menjadi umat yang wahidah. jika sudah selesai Ramadhan, masih terasa nikmat ukhuwah," ujar Ustadz Husein.

Alasan selanjutnya kenapa seorang Mukmin mesti bergembira menyambut Ramadhan adalah lailatul qadar. Satu malam yang isinya bernilai seribu malam kebaikan. Tidak ada kesempatan yang Allah SWT berikan yang amat besar seperti lailatul qadar di malam-malam biasa di luar Ramadhan. Maka, semestinya baik yang merasa terhinakan dengan dosa-dosa yang menggunung, ataupun yang sudah terbiasa larut dalam nikmat khalwat dengan Allah SWT mestinya merasa sama-sama gembira menyambut Ramadhan.

Kesempatan mencuci dosa, bertobat, kembali kepada Allah SWT dengan ampunan-Nya yang amat luas haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sementara bagi pemburu amal, inilah saatnya berlari lebih kencang mengumpulkan bekal sebesar-besarnya untuk nanti pulang ke kampung akhirat. Pertanyaannya lagi, sudahkah kita gembira menyambut Ramadhan?

Transkrip Kajian Islam Sabtu Sore PKS Jateng yang dibawakan Ust A. Husein Sastranegara

Ditulis oleh: Hafidz Muftisany