img

Madrasah Ramadhan, Madrasah Alquran

img

Ilustrasi membaca Qur'an (Photo by Tsuyoi)

Kita ini sedang dalam perjalanan. Perjalanan pulang menuju kampung akhirat. Dalam setiap perjalanan, selalu ada masa-masa rehat sejenak. Sejenak saja guna mengatur nafas, mengisi tenaga, meneguhkan orientasi. Bahkan kerap untuk membersihkan diri.

Kehidupan kita juga melewati banyak terminal. Allah SWT menyiapkan banyak terminal dalam kehidupan manusia. Ada terminal harian,  shalat lima kali. Ada terminal pekanan dalam wujud shalat Jumat. Dan ada terminal tahunan, Ramadhan. Sesungguhnya pos ini sengaja dihadirkan oleh Allah SWT agar setiap Mukmin tidak lalai dengan kehidupan dunia.

Ustadz A. Husein Sastranegara dalam Kajian Islam Sabtu Sore (KISS) di Kantor DPW PKS Jawa Tengah, Sabtu (3/6) menguraikan dengan indah betapa manusia membutuhkan terminal istirahat. Sebaik-baik pemberhentian adalah ibadah kepada Allah SWT. Ustadz Husein mengisahkan jika Rasulullah SAW merasa penat, maka Beliau SAW memanggil Bilal RA kemudian bersabda, "Ya Bilal istirahatkanlah kami dengan shalat."

Ramadhan dihadirkan Allah SWT sebagai sebuah terminal. Jika seorang hamba, termasuk kita memanfaatkannya dengan baik, maka maghfirah akan menanti. Ramadhan adalah bulan tarbiyah. Waktu yang disediakan oleh Allah agar manusia menempa dirinya selama sebulan penuh.

Seiring berjalannya waktu, lewatnya hari, bulan, tahun manusia kadang lupa, lalai terhadap tujuan kehidupan di dunia. Allah SWT sengaja menghadirkan Ramadhan sebagai bulan tarbiyah yang utuh. Allah SWT menginginkan agar manusia ingat orientasi kehidupan manusia di dunia yakni al ubudiyah. Ramadhan itu madrasah imaniyah, madrasah takwa membentuk insan yang terus ingat kepada Allah SWT.

Kita tanpa sadar melalui Ramadhan selama 24 dengan berbagai ibadah. Sebelum Subuh sudah bangun untuk akan sahur. Beberapa mungkin menambah qiyam. Kemudian shalat subuh berjamaah ditambah mendengarkan taklim berupa kultum. Pagi, siang, sore diisi dengan puasa Ramadhan. Malam diawali dengan ibadah berbuka, shalat tarawih, tadarus Alquran dan ibadah lainnya. Belum ibadah lain seperti infak dan sedekah.

Inilah sejatinya yang Allah inginkan dengan hadirnya Ramadhan. Untuk mengembalikan arah kehidupan. Kita dihadirkan di muka Bumi bukan hanya untuk bersenang-senang tanpa pertanggung jawaban. Allah sengaja menghadirkan kita untuk berlomba dalam kebaikan sehingga tahu mana amal yang baik dan amal yang kurang baik.

Kita kerap mendengar jika Ramadhan mampu membentuk pribadi yang bertakwa. Sesungguhnya pribadi bertakwa yang akan mendapatkan naungan dan cahaya Allah. Ustadz Husein menjelaskan jika hidayah Allah, cahaya Alquran hanya bisa dinikmati oleh orang yang bertakwa. Allah SWT berfirman, "Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa." (QS al-Baqarah : 2)

Melalui bulan Ramadhan ini, kita menginginkan ita agar termasuk dalam jiwa-jiwa yang bertakwa. Jika sudah bertakwa bisa dengan mudah menerima hidayah Alquran, mudah menerima nilai yang terkandung dalam Alquran.

Ramadhan juga adalah bulan yang paling mulia sebab diturunkannya Alquran. Dalam Ramadhan juga ada malam yang paling mulia, lailatul qadar yang di dalamnya Allah turunkan Alquran. Dan pribadi yang paling mulia, ujar Ustadz Husein, adalah orang yang selalu belajar serta mengajarkan Alquran. Sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari Muslim)

Ini sederat bukti siapapun yang dekat dengan Alquran, siapapun yang menjadikan Alquran sebagai panglima akan ikut mulia. Ustadz Husein mengatakan para ulama, salafus saleh kalau sudah datang Ramadhan lalu menghentikan aktivitas lain dan hanya fokus kepada Alquran.

"Imam Malik di luar Ramadhan mengampu kajian hadis, saat masuk Ramadhan kajian hadis diliburkan diganti dengan tilawah Alquran. Imam Syafi'i selama Ramadhan mampu mengkhatamkan Alquran dua kali sehari," papar Ustadz Husein.

Bulan Ramadhan adalah saatnya memperbanyak interaksi dengan Alquran. Tilawah, tadabur bahkan mendengarkan lantunan ayat Allah SWT. Akhlak Rasulullah adalah Alquran. Artinya, sebagai seorang Mukmin maka Alquran lah yang harus tercermin dalam tingkah laku keseharian.

Jika kita lulus dalam interaksi dengan Alquran selama Ramadhan, maka kita akan bawa semangat itu di luar Ramadhan. Manusia adalah hamba Rabbani bukan hamba Ramadhan. Derajat takwa yang ia raih selama Ramadhan akan terus bertahan meskipun di luar Ramadhan.

Tujuan berikutnya dalam madrasah Ramadhan adalah menjadi hamba yang bersyukur. Dalam kehidupan kita, tidak ada alasan untuk tidak bersyukur. Banyak nikmat Allah yang diberikan kepada manusia tanpa harus dipinta jumlahnya lebih banyak dibanding jumlah nikmat yang diminta.

Kita mungkin amat jarang meminta agar esok hari mata masih bisa melihat, tangan masih bisa bergerak, kaki masih bisa melangkah, telinga masih bisa mendengar dan sebagainya. Namun, Allah SWT memberikan nikmat tersebut kepada kita tanpa harus kita memintanya setiap hari. Alasan ini saja sejatinya harus membuat manusia terus membasahi lisannya untuk bersyukur.