img

Legislator: Ada Keberkahan Ekonomi Dibalik Aktivitas Mudik Lebaran

img

Mudik Lebaran Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

SEMARANG, PKS Jateng Online – Kalangan legislator menyebut ada banyak manfaat aktivitas mudik Lebaran yang menjadi rutinitas tahunan mayoritas masyarakat di Indonesia. Selain dari sisi spiritual dan sosiolosgi, mudik ternyata juga berdampak dari tumbuh kembangnya sektor perekonomian.

“Jika ditinjau dari sisi spiritual, disitu ada anjuran silaturahmi, juga dari sisi sosiologis, jutaan pemudik bisa mengunjungi kampung halamannya untuk mengobati rasa rindu kepada keluarga dan sanak saudara, juga ada dampak ekonomi, yakni keberkahan ekonomi itu sendiri dari aktivitas mudik Lebaran,” kata Wakil Ketua Komisi D DPRD Jawa Tengah, Hadi Santoso pada Senin (19/6/2017) di Kota Semarang.

Salah satu lini positif yang akan sangat terasa pada musim mudik adalah manfaat mudik secara ekonomi.  “Pada periode Ramadhan dan Idul Fitri, kebutuhan uang di masyarakat baik tunai maupun nontunai mengalami peningkatan. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya kegiatan transaksi di masyarakat, “katanya lagi.

Menurut data, kata Hadi, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardjojo mengungkapkan peredaran uang tunai pada bulan suci Ramadhan 2017 diprediksi melonjak hingga 14 persen. Karena itu, pihaknya menyiapkan tambahan Rp 167 triliun untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan uang tunai selama Ramadhan, termasuk saat perayaan Hari Raya Idul Fitri alias Lebaran 1438 Hijriah.

Selain itu, kata Hadi, riset Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) menyebutkan jika total pengeluaran yang dikeluarkan pemudik selama arus mudik dan arus balik 2016 sebesar Rp 124,4 triliun. Proyeksi pemudik yang bertambah tahun ini juga akan mengerek jumlah uang yang beredar selama musim mudik 2017.

“Tentu angka ratusan triliun yang berputar selama musim mudik bisa dijadikan stimulan untuk mendongkrak aktivitas perekonomian nasional dan daerah. Pertama, aktivitas perekonomian berputar pada sektor riil contohnya mulai maraknya berbagai usaha mulai dari usaha kecil menengah (makanan, minuman, pakaian, sewa kendaraan) hingga usaha besar (transportasi, asuransi, dan telekomunikasi),”jelasnya.

Kemudian, kedua adalah perputaran uang yang terjadi saat mudik dapat menciptakan aliran aktivitas ekonomi dari kota besar, khususnya dari Jabodetabek menuju daerah pedesaan. Hal ini bisa dijadikan stimulus aktivitas produktif masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Ketiga, tradisi mudik juga memberikan dampak positif pada keberadaan infrastruktur. Kita ketahui bersama bahwa setiap tahunnya dalam rangka menyambut tradisi mudik ini pemerintah senantiasa melakukan perbaikan infrastruktur mulai dari perbaikan jalan sampai perbaikan tempat-tempat wisata,”tandas politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

Dari tiga manfaat tersebut, dia berharap pemerintah daerah harusnya bisa menangkap peluang dan perlu menjadikan mudik dan Lebaran sebagai momentum dalam menggerakkan ekonomi dan membuat berbagai terobosan.

“Sehingga tradisi mudik ini tidak hanya dijadikan sebagai seremonial yang sifatnya konsumtif. Pemerintah daerah diharapkan bisa melihat pemudik sebagai investor domestik yang sedang berkunjung, karena pengeluaran pemudik yang mencapai Rp 124,4 triliun seluruhnya dihabiskan untuk hal yang bersifat konsumtif. Praktis selama sebulan arus mudik dan arus balik, potensi perputaran uang tersebut tak memiliki banyak bekas,”ujarnya lagi.

Dia menyarankan harus ada langkah yang lebih strategis untuk menciptakan geliat ekonomi yang konsisten dengan menjadikan musim mudik sebagai stimulan. Perbaikan sarana infrastruktur harus berdimensi jangka panjang. Sehingga, aktivitas ekonomi pascamudik bisa memanfaatkan pembangunan infrastruktur yang digenjot rutin tiap tahun.

Begitu juga dengan sektor pariwisata, Hadi mengatakan bahwa selayaknya dalam mempersiapkan pelayanan kepada para wisatawan, pemerintah daerah harus meningkatkan pelayanan daerah masing-masing.

Sehingga, kata Hadi, para wisatawan tersebut dapat melihat potensi daerah tersebut mulai dari daerah wisata, sarana transportasi, hasil alam, kerajinan tangan yang berasal dari daerahnya yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

“Daerah memungkinkan memunculkan destinasi-destinasi wisata baru yang unik dan menarik. Sehingga, ikon wisata sebuah daerah tidak terpaku pada satu dua tempat semata. Ikon wisata baru ini akan membantu meningkatkan pendapatan asli daerah, meski di luar musim mudik. Mudik menjadi momentum yang sangat pas untuk melakukan promosi besar-besaran sebuah ikon wisata baru,”katanya lagi.

Potensi ekonomi zakat

Selain itu, Hadi mengatakan bahwa daerah mesti menangkap potensi pengeluaran yang besar agar menjadi sektor usaha yang produktif. Pemanfaatan zakat misalnya. Tak sedikit, saudara-saudara kita yang membagikan zakatnya secara langsung saat musim mudik.

Semangat UU No 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat bisa menjadi pintu masuk. Sebab menurut aturan, lembaga pengelola zakat resmi adalah Baznas dan lembaga amil zakat yang mengantongi izin pemerintah. Perpindahan pembayaran zakat secara langsung menjadi lewat lembaga resmi berpotensi mengubah paradigma penyaluran yang awalnya konsumtif menjadi lebih produktif.

“Hal ini baru dilihat dari segi pemanfaatan zakat semata. Belum menghitung potensi investasi usaha, tentu akan banyak kreativitas pemanfaatan dana besar yang berpindah tersebut menjadi penggerak ekonomi daerah yang sifatnya berkelanjutan. Secara psikologis, para pemudik tentu akan sangat senang jika melihat daerah asalnya maju dan berkembang secara ekonomi,”pungkasnya.