img

Listyo Nugroho, Murobbi yang Dermawan itu Telah Berpulang

img

Listyo Nugroho

KELUARGA besar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah barus saja kehilangan kader terbaiknya, Listyo Nugroho, yang meninggal dunia pada Senin (14/8/2017) seusai sakit stroke. Beliau sebenarnya akan mengantarkan putra pertamanya menikah, namun ternyata Allah SWT berkata lain, beliau dipanggil menghadap Allah SWT sebelum menyaksikan putranya menikah.

Redaksi PKS Jateng Online beberapa waktu lalu pernah berjumpa dan berbincang dengan beliau. Berikut tulisan hasil diskusi dengan Ustadz Listyo.

Listyo Nugroho adalah salah satu generasi awal tarbiyah di jawa Tengah. Dia mengikuti dauroh rekrutmen bersama Agus Abdul Latif pada tahun 1988. Pertama mengikuti halaqoh, Listyo bersama sang Murobbi Samsul Balda. Pada awalnya, sebelum Listyo mulai aktif berdakwah, dia termasuk kategori mahasiswa yang cerdas, maklum jurusannya sesuai dengan cita – citanya, yakni menjadi Direktur Bank, maka dia kuliah di jurusan Ekonomi manajemen Uiversitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Dirinya selalu mendapatkan IPK 4,00, dan juga pernah mendapatkan beasiswa jarum dari semester 5 sampai semester terakhir.

Namun demikian, setelah mengetahui bahwa ekonomi sekuler itu riba dan sebagainya, pikiran ekstrimnya kemudian menguasai, sehingga dirinya mulai malas kuliah, bersamaan dengan itu, dakwah pun datang kepadanya, ikut liqo di kampus BPPI di LDK FE UNS, dengan Ustadz Samsul Balda, sang pendiri PK.

Pada tahun 1991, Listyo Nugroho menikah saat masih mahasiswa dengan Umi Hasanah, pada semester 9. Pertemuan keduanya memang karena baik Listyo maupun Umi adalah aktivis Masjid, Listyo aktif di LDK, sedangkan Umi aktif di IKADAI (lembaga Mentoring Kampus). Dengan menikahnya mereka berdua, semakin menambah semangat Listyo untuk membina dan berdakwah. Listyo menjadi kader dakwah yang semakin produktif dalam membina.

Banyak binaannya menuai sukses di dalam dakwah, salah satunya adalah Madi Mulyana, yang saat ini juga sebagai partner Listyo di DPRD Provinsi Jawa tengah. Namun, demikian, walau dirinya dikampus, Listyo tetap melakukan aspek pembinaan di luar kampus, dikampung – kampung dan sebagainya. Dan justru dari luar kampus inilah binaannya semakin banyak dan berkembang, dan bahkan ada orang cina dan nasrani yangs ering konsultasi dengan Listyo.

Saat melakukan proses pembinaan di luar inilah yang dibidik Listyo adalah anak – anak SMA, dengan membantu solusi untuk kuliah lagi. Sehingga Listyo bisa juga disebut perintis dakwah di Kabupaten Wonogiri dan Sukoharjo, karena daerah tersebut adalah daerah sasaran Listyo untuk melakukan proses rekrutmen dakwah.

Selain produktif dalam membina, Listyo Nugroho juga merupakan sosok pengusaha yng tekun dan ulet dalam berusaha. Sejak masih kuliah, Listyo gemar berbisnis, mulai dari pegawai Toko Kain rabbani sejakk tahun 1989- 1991. Kemudian pada tahun selanjutnya, yakni tahun 1992, Listyo mendirikan usaha konveksi. Usaha konveksi inilah yang sampai sekarang juga masih berjalan. Pernah suatu ketika dia mengerjakan kaos sejumlah 5000 dari Partai Golkar.

Selain konveksi, usaha yang terus dilakukan Listyo, bersama sang Istri adalah jualan kerudung di Pasar Klewe Surakarta. Bisnis lain Listyo Nugroho adalah biro. Oleh karena ketekunannya dalam berusaha, dia dan istrinya akhirnya dapat menyekolahkan anak – anaknya yang berjumlah 7 orang. Yang pertama di Unair, dan nomor 2 di khusnul khatimah.

Listyo Nugroho banyak berkecimpung di dunia pembinaaan dan pengkaderan, sehingga berkat tangan dingin Listyo, beberapa waktu lalu Wonogiri menjadi daerah basah para aktivis dakwah. Pada tahun 2000 – 2008, Listyo Nugroho diamanahi sebagai bendahara Umum DPW PKS jawa Tengah, dan pada tahun selanjutnya, Listyo mengemban amanah di DPP Wilda Jatijaya.

Pengalaman dakwah parlemen Listy Nugroho juga dirintis dari DPRD Kabupaten Sukoharjo, pad atahun 2004-2009. Kemudian seiring kepercayaan masyarakat Jawa Tengah, Listyo terpilih menjadi Aleg Provinsi Jawa tengah untuk periode 2009-2014. Dan banyak hal yang ia dapatkan selama mengemban amanah sebagai aleg.

Salah satu cerita inspirasinya adalah ketika Listyo yang hobinya membantu orang lain ini didatangi orang pada pukul 01.00 WIB dini hari yang meminta sragam hansip, yaitu di Desa Ngadirejo Kartosuro. Akhirnya karena keinginannya mmebantu masyarakat sangat tinggi, walaupun waktu itu gaji DPRD lebih rendah, dia akhirnya memabntu membelikan seragam para hansip.

Dikarenakan hobi yang cukup unik dari sosok Listyo, yakni membantu warha tidak mampu, pernah suatu ketika Listyo mengadvokasi Jampersal di Komisi C DPRD Provinsi. pun demikian ketika dia berhasil membuat salah satu pasien hidrosepalus, setelah melakukan advokasi di RS Margono Banyumas, anak tersebut bisa melihat, bisa gojek sama ibuknya. Dan kemudian seluruh penduduk mengucapkan terimakasih PKS. Walaupun pada akhirnya selang berapa bulan, masuk rumah sakit kembali dan akhirnya meninggal.

Kepeduliannya terhadap masyarakat kurang mampu juga ditunjukkan saat Listyo mengdvokasi anak tidak jelas, dari RS kebumen ke Sarjito, dapat matanya ada tumor 4 cm. Dan pada akhirnya bisa dioperasi dengan baik di RS sarjio. Juga ketiak Listyo mengadvokasi Mas romadhon yang kena tumor di bagian mata, pasien tidak mampu, dirujuk dirumah sakit kariadi. 

Kepedulian seorang Listyo juga diberikan di bidang pendidikan dengan menjadi penyandang dana bagi Sekolah IT, kemudian membantu mengadvokas agar kemajuan prestasi lebih banyak dan optimal. Pernah juga saat menjadi aleg di Sukoharjo, Listyo memberikan mobil ambulan untuk DPD PKS Sukoharjo.

Bagi sosok Listyo, apapun yang dilakukan oleh seorang kader dakwah adalah menyesuaikan dengan perkembangan dakwahh dan zaman, ketika saat ini mihwar dauli, maka pemahaman dan pemikirannya harus dauli, agar tidak salah arah. Bahwa kader harus siap untuk mengikuti ritme, dan yang terpenting istiqomah dalam berdakwah.

Kini beliau sudah berpulang, meninggalkan sejuta kenangan bersama dakwah. Selamat jalan Ustadz Listyo.