img

Karena perjalanan masih panjang… [Catatan Kembara Kebumen]

img

Peserta Kembara PKS Jateng menggunakan sarung dan membawa bendera merah putih berjalan menyusuri pantai laguna kebumen (PKSFoto - Tim)

Penulis :
Abiesha Elmaida
Peserta dari Tegal

Menapaki langkah-langkah berduri, menyusuri rawa lembah dan hutan
Hidup diantara tebing dan curam, semua dilalui demi perjuangan
Letih tubuh di dalam perjalanan
Saat hujan dan badai merasuki badan
Namun jiwa harus terus bertahan
Karena perjalanan masih panjang…

Lantunan nasyid ini mengiringi semangat para peserta Kembara Menengah I di Kebumen, 6-8 Oktober kemarin. Satu agenda wajib yang diikuti kader PKS untuk menggenapkan 10 muwasofat, yakni tarbiyah jasadiyah. Sebanyak 1.379 peserta berkumpul di pesisir Pantai Laguna. Mereka datang dari berbagai penjuru daerah di Jawa Tengah.

Kalau melihat bagaimana perjalanan selama Kembara, tentu tidaklah mengenakkan. Jalan juang itu pasti berdarah-darah. Lelah, lapar, dahaga, tapi melihat kemenangan di hasil akhir itulah yang mereka harapkan. Barangkali apa yang kader-kader PKS lakukan kemarin belumlah seberapa jika dibandingkan dengan para perjuangan pasukan kaum Muslimin saat perang badar, bagaimana persiapan mereka. Jumlahnya memang belum juga seberapa jika dibandingkan dengan pasukan yang dipimpin, Muhammad Al Fatih. Perang Badar jumlahnya 300ribu pasukan. Muhammad Al Fatih 250ribu pasukan. Sementara peserta kembara kemarin hanya seribu tigaratusan. Tapi cukup menambah rasa penasaran banyak orang bagaimana mereka bisa berkumpul? Apa rahasianya?

Mereka berkumpul dalam satu titik selama 3 hari. Diminta berbaris di sepanjang bibir pantai Laguna. Mulai dari matahari yang masih hangat hinggga mentari semakin menyengat. Membakar kulit-kulit mereka karena sengatan panasnya. Kulit wajah sampai mengelupas. Asupan makanan diberikan sekedarnya. Hanya beberapa butir kentang, jagung, ubi, dengan jumlah yang sangat terbatas, karena setelah dibagi ke jumlah kelompok, masing-masing dari mereka hanya kebagian 3 potong yang terdiri dari potongan ubi, jagung, dan kentang.

Dengan bekal seadanya, mereka melakukan perjalanan selama kurang lebih 13 jam. Semua perbekalan yang dibawa dari rumah, diamankan. Mulai dari ransum berisi makanan, kue-kue, suplemen. Selama tiga hari juga tidak bisa melakukan komunikasi karena handphone juga ikut diamankan. Dompet beserta isinya juga dikumpulkan, hingga tidak tersisa satu rupiah pun yang tertinggal di saku celana. Jadi meski mengenakan celana rimba, itu sebenarnya tak ada isinya.

Peserta kembara berjalan hanya berbekal ransel berisikan baju ganti, jas hujan, matras, alat masak, kompor, paraffin, dandang, dan sebatang tongkat. Air yang mereka perbolehkan bawa hanya satu botol berisi 600 ml. Jika ada botol berisi 1.5 liter, itu pun harus dikosongkan sampai tersisa 600 ml. Itu modal awal perbekalan, selebihnya selama perjalanan mereka harus mencari sendiri asupan makanan dari yang ditemui. Mulai dari kerang, belalang, bahkan sampai dedaunan. Minum air laut, air payau, dari sungai-sungai sudah biasa.

Mereka istirahat di bivak-bivak yang mereka dirikan dari jas hujan. Sekedar tempat berteduh untuk melepas lelah selama perjalanan. Ketika tidur pulas tiba-tiba dibangunkan dengan suara ledakan sebagai pertanda melanjutkan perjalanan. Sesekali perjalanan diiringi hujan. Ketika hujan tiba, langsung bergerak, mengemas semua perbekalan agar aman. Merasakan nikmatnya shalat malam dan shalat subuh dibawah guyuran hujan.

Lalu sebenarnya apa yang mereka cari dari perjalanan melelahkan ini? Untuk apa mereka berlelah-lelah? Mengorbankan waktu, meninggalkan anak istri, bahkan sampai rela cuti meninggalkan pekerjaan mereka? Sudah begitu bayar lagi dua ratus ribu. Fasilitas yang mereka dapatkan adalah apa yang tersedia di alam.

Jika bukan karena hati yang menggerakkan, kesepahaman fikrah, dan keterikatan ukhuwah, dan juga titian jalan dakwah mungkin mereka tak akan bisa dikumpulkan. Inilah satu fase dari serangkaian perjalanan PKS untuk menunjukkan kecintaannya pada NKRI. Teruslah berjuang, karena dengan berjuang PKS memiliki nafas panjang.