img

Catatan Ibu Hamil, Peserta Latansa

img

Bu Pipiet sedang bersiap untuk jalan menuju lokasi acara selanjutnya dalam acara pelatihan perempuan siaga PKS Jateng (PKSFoto - IQ)

Beneran mau ikut bu?
Memang mau ngapain di sana?
Beberapa ikhwah bertanya dengan nada khawatir, melihat kondisi hamil yang sudah tri semester ke 3, perut besar dengan jalan yang sudah seperti kura-kura.

Biasanya hanya saya jawab dengan senyum simpul. He..he... mau silaturahim saja bu dengan akhwat se Jateng, mumpung ada momen. Atau mau jalan-jalan dan refreshing.

Dan saya tidak menyesal ikut La Tansa sebab banyak hikmah bertebaran yang didapatkan.

Yang pertama belajar mengelola niat.

Hal ini diingatkan kembali oleh ustadz Kamal Fauzi dalam taujihnya, bahwa datang ke acara La Tansa adalah bagian dari pemenuhan janji (muahadah) untuk berkomitmen dalam dakwah. Bukan karena perintah murobbi, tidak enak jika tidak ikut, atau menunjukkan bahwa "ini lho saya ikut meski dengan segala keterbatasan yang dimiliki."

Yang terakhir ini,saya merasakan sendiri. Kadang banyak lintasan fikiran. "Ngapain sih ikut? kan ada rukhsoh yang bisa diambil." "Mau unjuk diri ya,agar diapresiasi?" Maju mundur. Tapi memang begitulah perjalanan niat, yang perlu terus menerus diluruskan. Niat akan berdampak pada hikmah apa yang bisa diambil dan membekas pada keseharian.

Yang kedua belajar tentang makna taat.

Ada seorang peserta dari Pemalang menyampaikan bahwa setelah ada taklimat dan juknis La Tansa ini,mereka memperhatikan dan mentaati betul instruksi yang ada. Melatih fisik dengan sit up,push up bahkan berenang. Segala rupa peralatan juga dipersiapkan jauh hari. Hmm...jadi merasa tertohok. Mereka tidak hanya cepat merespon perintah, tapi bersungguh-sungguh tanpa banyak bertanya ini itu, keringanan apa yang mereka dapatkan.

Yang ketiga belajar makna pengorbanan.

Peserta berasal dari seluruh kabupaten kota Jawa Tengah. Sebagian besar tentu berangkat pagi dini hari agar sampai di lokasi pukul 06.00 pagi sesuai jadual yang ditentukan. Memang benar,jam 06.00 pagi,lapangan sudah hampir penuh dengan peserta dari beragam usia dan kondisi. Ada yang sudah bercucu, ada yang jomblo, ibu-ibu menyusui, ibu-ibu dengan batita, ibu-ibu hamil bahkan calon pengantin yang beberapa hari ke depan melangsungkan akad nikah.

Ibu-ibu yang juga masih menyempatkan untuk memerah ASI untuk ananda tercinta. Juga suami yang rela hujan-hujan datang ke lokasi untuk mengambil ASI, atau yang pagi sampai dengan sore bertahan menggantikan mengasuh putra putrinya.

Belum lagi dana yang dikeluarkan,mulai dari iuran menyewa transportasi,infak kegiatan atau dana untuk menitipkan anak ke pengasuh.

Barangkali juga pengorbanan untuk mengkondisikan pasangan dan anak-anak yang ditinggal di rumah.

Masya Alloh,jadi meleleh hati ini menyaksikan kesungguhan mereka.

Yang keempat, belajar qonaah,ridho dan mengendalikan diri.
Infak kegiatan La Tansa ini lumayan besar,Rp.100.000. Biasanya dengan infak sebesar ini, paling tidak mendapatkan snack dan satu kali makan siang dengan lauk ayam atau ikan. Kemarin ahad 19 Nopember 2017, peserta disuguhi hidangan istimewa. Kentang dan pisang kukus untuk sarapan pagi serta jagung dan ubi rebus untuk makan siang. Sehari tanpa nasi. Semua menerima tanpa protes. Untuk menghibur diri, peserta di sebelah saya mengatakan saat memakan kentang, ia membayangkan sedang makan siomay atau batagor. He..he...kurang sambel kacang,saos dan kecap. Bahagia dalam tiap kondisi. Meski akhirnya beberapa tumbang karena sakit maagh.

Pun ketika akhirnya kegiatan La Tansa hanya di lapangan dari pagi sampai dengan sore. Hujan deras mengguyur dari siang mungkin menjadi sebab dibatalkannya beberapa kegiatan. Padahal bisa jadi peserta hadir dengan berbagai ekspektasi,membayangkan kegiatan yang lebih menantang adrenalin. Belajar bahwa memang tidak semua sesuai harapan, berdamai dengan kondisi dan tidak mengucapkan sesuatu yang melemahkan tekad,merusak niat,baik tekad dan niat sendiri maupun tekad dan niat orang lain. Seorang ummahat berujar *Aku sudah bahagia hanya dengan bernyanyi dan berteriak bersama.*

Tentu masih banyak lagi hikmah dari kegiatan La Tansa ini. Memang benar adanya taujih Ustadz Kamal,salah satu kenikmatan adalah berkumpul dan berhimpun dalam barisan orang-orang yang berikhtiar menjadi sholih sholihah. Darinya kita saling mengokohkan dan menguatkan,satu sama lain.