img

Mas Muki "Jihad" Ojek

img

(Maret, 2014) Panas siang mulai menyengat dan matahari mulai tergelincir, Baliho partai dan caleg menambah panas suasana. Mencekam seakan terjadi perang. Ditambah ketidak adilan berita di media tv ataupun koran tentang partai dakwah ini, membuat suasana hati suram, gelisah, tetiba hilang nyali. Iya, sudah hampir satu tahun PKS di hajar di media masa, PKS di tempa badai.

Mas Muki melipat baju kerjanya, berganti baju jaket hitam kesayangannya. Setelah sejak pagi ia lelah bekerja sebagai karyawan swasta. Di waktu istirahat yang hanya 60 menit itu, ia memarkirkan motor supra x nya di pertigaan sarinah Banyumanik Semarang. Di pangkalan Ojek yang sudah sepi itu ia memarkir motornya. Iya betul, ia akan ngojek di waktu istirahat yang tidak lama ini.

Dengan sabar Mas Muki menunggu penumpang, dengan harap diwaktu sempit ini paling tidak ada satu penumpang yang bisa ia dapatkan. 10-15 menit berlalu belum ada tanda-tanda yang akan menjadi penglaris pertamanya. wajar saja, pangkalan ojek dilokasi ini memang sepi, sudah di tinggal ojek lainnya hanya meninggalkan satu ojek saja, di tambah Mas Muki diwaktu-waktu kosong seperti sekarang ini.

Setelah lama menunggu, akhirnya senyum Mas Muki mengembang, melihat seroang ibu-ibu berjalan sempoyongan menuju pangkalan ojeknya. "Mas ojek mas" pinta Ibu, "siap" Jawab Mas Muki Ramah. "Anter ke Gedawang ya mas" pinta ibu yang sepertinya kelelahan itu, "siap" jawab Mas Muki dengan ramah yang sama. Gedawang adalah kelurahan kurang lebih 2-3 km dari lokasi pangkalan itu. Namun jangan di bayangkan jalanan datar bak lintasan balap motor, menuju gedawang jalan naik turun sehingga terkesan jauh.

Selama perjalanan, Mas Muki tidak banyak bicara, ia fokus berkendara agar sampai di lokasi dengan salamat. Mas Muki pun juga tidak ingin sok akrap dengan sang ibu, tidak membuka obrolan dengan pertanyaan-pertanyaan basa-basi, layaknya dua orang yang baru kenal.

Sesampainya di lokasi, ibu-ibu ini merasa lega sampai dirumahnya, terlihat dari wajahnya yang cerah dan sumringah. "Berapa mas, jadinya" Tanya ibu itu, sepertinya ibu ini akan memberikan "berapapun" yang akan di sebut Mas Muki. Ibu ini pun sudah mulai membuka dompet. Namun, Mas muki dengan senyum khas yang sangat ramah menjawab, "Gratis bu, saya hanya minta doa dan dukungannya, pilih PKS di pemilu besok". Mata ibu itu tiba-tiba kosong, badan kaku, entah salut, kagum atau atau apa yang ada dipikirannya, sang ibu menjawab, "Iya mas, saya bantu menangkan PKS".

Inilah cara mas Muki memberikan waktunya untuk PKS. Beliau tidak satu dua kali melakukan seperti ini, di waktu senggang kerja, atau di hari libur diwaktu kampanye. Semua demi kemenangan partai dakwah. Dengan cara sederhana inilah ia berjihad.

Dari dulu sampai sekarang ia tetaplah sama, kehidupan tidak berubah. Ia sekarang bergabung dengan salah satu ojek online untuk menyambung kehidupannya setelah tidak lagi bekerja sebagai karyawan. Namun ia tidak menuntut apapun atas apa yang ia kerjakan. hanyalah Lillahirobi.....

Saya yakin diantara kader PKS sendiri, sangat jarang yang mengenal mas Muki, karena ia bukan pejabat partai, bukan pejabat publik, bukan anggota dewan, atau bukan orang penting di PKS. Tapi kita harus ingat, PKS masih bisa berdiri hingga sekarang karena kerja-kerja kecil mereka yang tak terlihat.