img

Hanya Kerikil di Atas Rel?

img

ilustrasi oleh viaggio treno

Oleh: Sholikhin Abu Izzudin (Relawan Literasi PKS Jateng)

Sebutir kerikil di atas ril, tetaplah bermanfaat untuk sebuah perjalanan yang panjang.

Ubah cara pandang. Jangan membenturkan bila terjadi perbedaan namun kita mensinergikan titik temu kesamaan.

Mari kita Duduk bersama orang tua, orang terdekat kita lalu berbagi ide dan gagasan kemudian membangun komitmen bersama untuk meraihnya.

Seperti ketika bersalaman, tangan yang berbeda bisa bersatu padu saling merengkuh, mengumpulkan kekuatan, bukan saling mendorong atau menarik untuk menjatuhkan.

Tarbiyah mengajarkan ta’aruf, tafahum, takaful sebagai jalan menegakkan rukun ukhuwah.

Umar bin Khathab berbeda dengan Abu Bakar ash-Shiddiq dengan perbedaan yang sangat mencolok. Namun keduanya memiliki kesamaan yang sangat besar, mencintai Allah, mencintai Rasulullah, dan merindu surga. Kerap sekali mereka berlomba dalam rangka meraih puncak surga. Namun ukhuwah tetap dijaga.

Apa yang membuat Umar begitu percaya kepada kekuatan Abu Bakar, padahal dia telah mengetahui kabar dari Rasulullah saw, “Allah meletakkan kebenara di lidah dan hati Umar.”

Jawabnya adalah tsiqah, sikap saling percaya.
Abu Bakar juga mengakui kebenaran Umar saat mengusulkan para tawanan Badar agar dihukum sebagaimana pendapat Umar, “Tidak ada yang selamat dari adzab Allah kecuali pendapat Umar.”

Ketika pandangan mayoritas sahabat berpihak kepada Umar untuk tidak memerangi orang yang menolak membayar zakat dan Abu Bakar tetap bersikukuh untuk memerangi mereka, akhirnya Umar mengambil pendapat Abu Bakar. “Apakah akan kubiarkan agama ini akan berkurang padahal aku masih hidup? Sungguh aku akan memerangi orang-orang yang memisahkan zakat dari shalat.”

Umar yakin dan percaya kepada kebenaran Abu Bakar, “Demi Allah, tidak lain yang kulihat kecuali Dia telah melapangkan hati Abu Bakar untuk berperang, maka akupun tahu bahwa itu adalah kebenaran.”

Itulah tsiqah yang dibangun dari pemahaman, dijalani dengan keikhlasan, diamalkan dengan kesungguhan. Khalid bin Walid yang merasakan dampak luar biasa dari perbedaan dua sahabat mulia, Abu Bakar dan Umar. Khalid melihat ketegasan sikap-sikap Abu Bakar dalam menentukan prioritas.

Dalam kesederhanaannya, Umar dicintai rakyat sehingga mereka yang cenderung kepada kemewahan masih melirik-lirik peluang pemimpin yang kondusif.

Maka ketika Abu Bakar ash-Shiddiq wafat, Khalid bin Walid berucap, “Segala puji bagi Allah yang telah mewafatkannya, padahal dia lebih kucintai daripada Umar dan segala puji bagi Allah yang telah mengangkat Umar jadi khalifah, padahal dia tidak lebih kucintai daripada Abu Bakar.”

Itulah tsiqoh. Menyelaraskan hati agar Allah meridhai. Tsiqoh adalah sikap manusia normal yang menyadari keterbatasannya masing-masing, kata Syaikh Tarbiyah KH Rahmat Abdullah, lalu saling menyetor saham kepercayaan sebagai modal bersama untuk kemudian menikmati kemenangan bersama.

Kita hanyalah ibarat sebutir kerikil yang tak berharga akan terangkat nilainya karena berada dalam sebuah bangunan istana atau rumah sehingga memperindah.

Pesen saya :
Kita mau punya gawe besar untuk memenangkan dakwah di 2018 dan 2019 maka mari kita kumpulkan kerikil kerikil untuk membuat #REL_KERETA_DAKWAH atau minimal untuk #MELONTAR_JUMROH untuk menghalau para pengacau di #Rumah_Tarbiyah kita

Menangkan
1. #ROHADI1IDA dengan #CoblosKudungIjo di Karanganyar
2. #PakDirman2MbakIda untuk GUBERNUR JATENG agar #GantiSingAnyar #MuktiBareng
3. #HARTINI3BOWO untuk #KudusUnggulMumpuni