img

Kenanganku bersama Tari Dolalak dan PKS Purworejo. 

img

Pertunjukan budaya diangkat oleh PKS sebagai upaya dakwah kultural

 
Akhir pekan lalu aku sempatkan pulang ke tanah kelahiranku, Purworejo. Kota dimana aku menghabiskan masa kecilku. Hari itu aku ajak istri dan satu anak ku yang masih bayi. Dalam perjalanan kami melewati DPD PKS Purworejo. Karena mampir ke rumah saudara yang tinggal tak jauh dari PKS Purworejo. Bangunan sederhananya mengingatkanku saat aku dan sepupuku sering mampir ke kantor PKS Purworejo. 
 
Setiap sudut bangunan PKS Purworejo menyimpan banyak kisah. Ada satu kisah yang masih lekat di benakku. Kisah tentang perhelatan Tari Dolalak di dekat kantor PKS Purworejo. Suatu hari, aku dan sepupu akan bermain ke sungai. Aku menghampiri sepupuku itu namun tak ku temukan. Jika tidak dirumah, biasanya dia bermain ke teras depan kantor PKS Purworejo. Aku melihat keramaian di kantor PKS Purworejo. Ternyata di dekat kantor PKS Purworejo sedang diadakan perhelatan Tari Dolalak. Banyak orang yang berbondong-bondong kesana. 
 
Aku menikmati tari itu meski aku belum tau seperti apa Tari Dolalak. Setelah Tari usai diadakan, aku bertanya pada seorang bapak yang mengenakan kaos bertuliskan PKS Purworejo yang sedari tadi  duduk di sampingku. Bapak itu mulai bercerita.. 
 
Ternyata Tari Dolalak adalah tari tradisional khas Purworejo. Tari ini adalah peninggalan zaman Belanda. Ditarikan oleh beberapa penari pria dan wanita. Penari kali ini adalah para simpatisan PKS Purworejo. “Dulu serdadu Belanda suka berpesta dan berdansa. Nah orang pribumi meniru gerakan mereka dan berkembang menjadi sebuah tarian tradisional” Pungkas bapak berkaos PKS Purworejo tadi.  Bapak itu mengajakku duduk di teras kantor PKS Purworejo, kami melanjutkan obrolan kami. Dulu tari Dolalak digelar saat ada hajatan, sunatan, syukuran dan lain-lain. Tari ini biasa digelar semalam suntuk. 
 
Seiiring berkembangnya jaman, tari ini mulai meninggalkan budaya Belanda. Terbukti dengan pengiring musik, gerak tarian dan juga kostum penari. PKS Purworejo sangat menjunjung tinggi budaya lokal. Hari itu ada yang ijin meminjam  teras depan kantor PKS Purworejo untuk perhelatan tari. 
 
“Dek, ayo main” teriak sepupu ku memecah obrolan kami. Aku pun berpamitan pada bapak dengan  kaos bertuliskan PKS Purworejo. Sangking asyiknya mendengarkan cerita si bapak. Aku lupa menanyakan nama beliau. Jadi aku selalu mengingatnya dengan sebutan Bapak Berkaos PKS Purworejo. Kisah itu menjadi kenanganku bersama Tari Dolalak dan PKS Purworejo. 
 
Kisah ini pula yang membuatku jatuh hati dengan PKS Purworejo. Selain mendukung kegiatan agama, PKS Purworejo juga mendukung kegiatan seni budaya. Karena budaya dan seni tak terpisahkan dengan Indonesia. Saat merantau di kota lain, aku terus bertukar kabar dengan teman-teman PKS Purworejo. 
 
Aah.. Tak terasa aku telah meninggalkan kantor PKS Purworejo dan sudah sampai dirumah sepupuku. Sekarang dia juga menjadi simpatisan PKS Purworejo yang setia membantu kegiatan PKS Purworejo.