FEED RSS DPW PKS JAWA TENGAH http://pksjateng.or.id/rss Artikel - pksjateng.or.id Ahmadi: Anggota Dewan Harus Njawani dan Terus Berkomunikasi dengan Masyarakat http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2974/Ahmadi-Anggota-Dewan-Harus-Njawani-dan-Terus-Berkomunikasi-dengan-Masyarakat Thu, 05 Jan 2017 10:47:32 +0700 Artikel NAMANYA singkat, Ahmadi. Namun kiprahnya tak sesingkat namanya, banyak hal yang dilakukan pria yang kini duduk sebagai Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat… NAMANYA singkat, Ahmadi. Namun kiprahnya tak sesingkat namanya, banyak hal yang dilakukan pria yang kini duduk sebagai Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah ini dalam hal pengabdian kepada masyarakat, terutama di daerah pemilihannya di Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kota Salatiga dan Kabupaten Kendal.

Pribadi yang sekilas terlihat kalem, kadang dingin, namun murah senyum, serta kadang kocak, sebenarnya adalah sosok yang cukup berperan menyumbang kiprahnya untuk masyarakat. Pria Kelahiran Demak 28 Agustus 1975  ini memulai karir politik setelah mendapatkan amanah sebagai Sekretaris Umum Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Keadilan Kota Semarang pada 1998 sampai 1999.

Berkat kepiawaiannya dalam bermasyarakat, Ahmadi pun terpilih menjadi anggota DPRD Kota Semarang sejak tahun 2004, hingga mencapai puncaknya menjadi wakil ketua DPRD Kota Semarang periode 2009-2014.  Sukses di tingkat kota, karir dewan Ahmadi semakin meningkat setelah dirinya terpilih menjadi anggota DPRD Jateng mewakili daerah pemilihan I. Dirinya pun didaulat oleh Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) Jateng menjadi Wakil Ketua DPRD Jateng hingga sekarang.

Sukses menjadi wakil rakyat, tentu menjadi salah satu hal yang membahagiakan. Namun bagi Ahmadi, yang terpenting adalah selalu amanah dalam melayani masyarakat. Itu adalah kunci penting seorang pemimpin. "Sikap njawani kita tetap menjadi ciri yang harus kita bawa, kita harus mulai untuk membangun komunikasi dengan masyarakat sesuai dengan budaya masing-masing," katanya, beberapa waktu lalu.

Gelar Open House Rutin dan Inisiator Hari Aspirasi

Sebagai bentuk konkrit komunikasi dengan masyarakat, Ahmadi menjadi salah satu inisiator dari hari aspirasi yang dicanangkan oleh F-PKS Jateng pada Februari 2016 lalu. Ahmadi yang turut merancang program hari aspirasi tersebut berharap partai lain dapat membuat hal serupa.

Hingga saat ini, berkat salah satu upaya dari Ahmadi, F-PKS terus menggelar diskusi hari aspirasi yang digelar tiap hari senin di Gedung Berlian, DPRD Jateng.

“Aspirasi memang kita lakukan setiap hari, tidak hanya pada satu hari yang ditentukan, hanya dengan adanya hari ini seluruh dewan diingatkan kembali bahwa aspirasi merupakan pertanggungjawaban publik,” ujarnya.

Dirumahnya, di Kecamatan Mijen, Ahmadi pun meluncurkan agenda open house rutin sebulan sekali untuk mengikat tali silaturahmi dengan kader, simpatisan dan juga warga masyarakat. Acara ini di kemas dengan sebutan Djagongan yang digelar di rumahnya, di Wonolopo RT/RW 1/VII Kelurahan Wonolopo Kecamatan Mijen Kota Semarang.

 Acara Djagongan ini selain diisi dengan acara diskusi dan serap aspirasi, juga dilengkapi dengan acara tausiyah. Dia mengungkapkan adalah sebuah kewajiban untuk terus menjalin komunikasi dan silaturahmi dengan warga masyarakat apalagi kader dan simpatisan. Untuk itu, meskipun dengan jamuan sederhana, acara ini rutin dilaksanakan.

“Acara ini didasari atas perintah Allah yaitu untuk terus menyambung tali silaturahmi, selain itu juga untuk menambah ilmu agama, jadi dalam acara njagongan ini juga dilengkapi dengan tausiah,”paparnya.

Jadi Inisiator Pendidikan Gratis

Selain menjadi inisiator hari aspirasi DPRD Jateng, banyak sekali kiprah yang ditorehkan Ahmadi untuk masyarakat. Salah satunya menjadi inisiator pendidikan gratis Kota Semarang. Pada pemilihan umum tahun 2004, Ahmadi terpilih menjadi anggota legislatif DPRD Kota Semarang untuk periode 2004-2009.

Pada periode pertama Ahmadi menjabat sebagai wakil rakyat itu, ia mendapatkan amanah di komisi D, yang membidangi wilayah kesejahteraan rakyat (kesra). Banyak hal yang ia dapatkan selama periode pertama kiprahnya sebagai anggota dewan ini.

Satu hal yang tidak bisa dilupakan oleh pria yang sekarang berdomisili di Mijen, Semarang ini adalah ketika berhasil membuat kebijakan atau menggolkan kebijakan terkait pendidikan gratis sekolah swasta. “Pada saat itu, ia menganggap seharusnya tidak ada perbedaan perlakukan antara SD negeri dengan swasta sebagaimana amanat dari UU yang mengaturnya,”kenangnya.

Selain itu, Ahmadi juga pernah melakukan advokasi bantuan sosial kepada beberapa elemen masyarakat di Kota Semarang yang terkait dengan kesejahteraan rakyat. Advokasi tersebut diantaranya adalah advokasi terkait bantuan sosial kepada para pengajar TPQ, madrasah diniyah, dan juga modin.

“Saat itu, tingkat kesejahteraan para pengajar TPQ dan Diniyah tersebut jauh di bawah Upah Minimum Kota (UMK) Semarang. Hal inilah yang kemudian menjadi alasan untuk memperjuangkan kesejahteraan para pendidik tersebut,”jelasnya.

Hal yang menarik lainnya yang pernah dialami oleh Ahmadi adalah ketika dirinya 6 kali dipanggil oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tentu bukan sebagai tersangka, melainkan sebagai saksi kasus korupsi yang melibatkan pejabat di Wilayah Kota Semarang, termasuk yang terakhir adalah kasus Korupsi Walikota Semarang, Soemarmo.

Hal ini pun menjadi rekor tersendiri bagi Ahmadi, menjadi saksi terbanyak untuk kasus korupsi. Selain kasus yang menimpa Soemarmo, Ahmadi juga terlibat menjadi saksi di berbagai kasus yang menimpa beberapa aleg DPRD Kota Semarang dari fraksi lain.

Ikut Deklarasi Partai

Tahun 1998, saat Deklarasi Partai Keadilan, Ahmadi juga menjadi salah satu kader yang sepakat bahwa harus masuk merambah ke ranah partai. Ia pun menjadi salah satu peserta deklarasi di Gedung Berlian pada Agustus 1998.

“Setelah menyelesaikan studi di Politeknik, saya dihadapkan pada pilihan yang sungguh tidak mudah; memilih untuk mengembangkan karirnya di Jakarta dengan kerja, atau memilih tinggal di Semarang,”tandasnya.

Akhirnya dirinya pun memilih menetap di Semarang. Dia terpilih menjadi Sekretaris Umum DPD PKS Kota Semarang selama bertahun-tahun. Pada akhirnya, karena terlibat bertahun-tahun dalam berbagai aktivitas yang membutuhkan kerapian administrasi dalam, menjadikan Ahmadi pakar di dalamnya. Pada tahun 2000, dirinya kembali diberi amanah sebagai Wakil Sekretaris Umum DPW PKS Jawa Tengah. Menjelang periode tahun 2003 akhir, Ahmadi kembali menjadi sekretaris Umum DPD PKS Kota Semarang sampai tahun 2005.

Berbekal pengalamannya beberapa waktu menjadi Sekum DPD, ia pun akhirnya ‘naik pangkat’ menjadi sekretaris Umum DPW PKS Jateng sampai tahun 2006. Pada Tahun 2007, dia sempat mundur karena merasa belum siap untuk mengemban amanah berat sebagai seorang sekum. Akan tetapi, Ahmadi kembali mendapatkan amanah di DPW sebagai Koordinator Wilayah Jawa Tengah 1 yang meliputi Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Kendal dan Kota Salatiga.

Tahun 2010, lewat Musyawarah Wilayah DPW, Ahmadi kembali dipilih oleh majelis syuro sebagai Sekretaris Umum untuk periode 5 tahun, 2010-2015. Dan kali ini Ahmadi tidak bisa menolak amanah tersebut. Ia resmi menjadi Sekretaris Umum DPW PKS Jawa tengah atau menjadi wakil dari Ketua DPW PKS Jawa Tengah saat ini, Abdul Fikri Faqih. Saat ini, dirinya menjadi Wakil Ketua DPW PKS Jateng untuk periode 2016-2021.

 

Dapat dikatakan Ahmadi memiliki rekor baru di dalam kepartaian, yakni menjabat sebagai Sekretaris Umum terlama sepanjang sejarah, terhitung sejak Partai Keadilan (PK) berdiri tahun 1998 sampai tahun 2015, atau sekitar 17 tahun.

]]>
http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2974/Ahmadi-Anggota-Dewan-Harus-Njawani-dan-Terus-Berkomunikasi-dengan-Masyarakat
Teruntuk Ustadz Antoni, Fisikmu Boleh Pergi, Tapi Kau Tetap Hidup dalam Jiwa dan Pikiran Kami http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2960/Teruntuk-Ustadz-Antoni-Fisikmu-Boleh-Pergi-Tapi-Kau-Tetap-Hidup-dalam-Jiwa-dan-Pikiran-Kami Mon, 19 Dec 2016 00:12:02 +0700 Artikel SEMARANG, PKS Jateng Online – Sungguh sebuah kabar yang sangat mengejutkan, terutama bagi para pejuang dakwah di Jawa Tengah. Hari ini, di bulan… SEMARANG, PKS Jateng Online – Sungguh sebuah kabar yang sangat mengejutkan, terutama bagi para pejuang dakwah di Jawa Tengah. Hari ini, di bulan yang baik, bulan kelahiran Nabi yang dirindukan, satu pejuang telah pergi meninggalkan dunia yang fana. Namanya Antoni Dwi Arnanda, pria yang merupakan alumni jurusan ilmu kelautan, Fakultas Kelautan dan Ilmu Perikanan Universitas Diponegoro ini pada hari Ahad (18/12/2016) kembali ke hadirat Allah Azza Wa Jalla.

Kepergian pria kurus yang sudah lama malang melintang di dunia dakwah sejak 1998 ini tak pelak meninggalkan duka mendalam bagi segenap kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS), khususnya di Jawa Tengah. Banyak cerita menarik dan inspiratif dari sosok yang lahir di Temanggung ini. seperti yang dituturkan beberapa sahabat dan rekan dakwah Antoni.

Arief Eka Atmaja misalnya, pria yang juga humas Dewan Pengurus Daerah (DPD) PKS Kota Semarang ini mengenal Antoni sejak tahun 2003 saat kuliah di semarang.

“Beliau dikenal sebagai kader dengan hafalan quran diatas rata-rata, karena kemampuannya, ia sering di undang sebagai guru tahsin, karena bacaan yang nyaris sempurna, ia sering membantu untuk melakukan ruqiiah, sangat lekat pak Antoni dengan quran dan Ruqiah,”kenang Arief Eka melalui akun facebooknya.

Arief Eka pun mengaku bahwa saat berinteraksi intens saat menjadi binaannya pada tahun 2008, Antoni sangat perhatian, tausiahnya istimewa, tegas tapi tidak kaku.

“Saya kembali berinteraksi dengan beliau cukup intens saat saya menjadi karyawan di LSM yang ia bentuk, pak Antoni bagian dari sejarah hidup saya, beliaulah yang mengantar saya bertemu calon mertua saat itu, selamat jalan Ustad, semoga Allah memberikan tempat terbaik, kami menjadi saksi bahwa dirimu orang yang sholeh,”jelasnya.

Seorang murid Antoni lainnya, Rio Risnaldi juga mengenang perjalanan bersama pria yang mengemban amanah terakhirnya menjadi Sekretaris Bidang Pemenangan Pemilu dan Pemilukada (BP3) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Jateng ini.

“Engkau adalah hujan yang jatuh dan suburkan bumi, dan kami adalah rerumputan yang kini tumbuh dari saripati tetes airmu, engkau adalah teriknya mentari yang hangatkan pagi dan kami adalah bunga-bunga kecil yang saat itu mulai mekar menanti hangatnya sinarmu,”kenang Rio mengenang perjalanan dirinya dengan Antoni, melalui akun facebooknya.

Rio menyebut bahwa sosok Antoni adalah guru terbaik, penasehat dan sekaligus sahabat.

“Dan kami adalah murid-muridmu, wadah kosong yang selalu engkau tuang dengan ilmu, dan kini, walaupun hujan itu kembali turun, namun nyatanya kami menangis, karena hujan yang biasanya turun..tak akan kembali lagi, teriknya mentari berganti dengan awan mendung dipelupuk mata kami, kami menangis, namun kami tetap bersyukur, karena kami sempat mengenalmu, menerima dengan baik dan meneruskan semua yang engkau berikan, selamat jalan Pak Ustad Antoni Dwi Arnanda, semoga amal baik, amal sholeh dan amal dakwahmu menjadi peringan langkah engkau menuju surgaNya...Amiien,”paparnya.

Tak ketinggalan, dua sahabat terbaik semasa berdakwah di kampus Undip, Hadi Santoso (Wakil Ketua Komisi D DPRD Jateng) dan Riyono (Anggota Komisi B DPRD Jateng) juga sangat bersedih dengan kenyataan bahwa sahabat terbaik tersebut pergi.

“Antoni engkau tetap hidup dalam jiwa dan pikiran kami semua saudaramu di jalan dakwah ini. Kami semua bangga atas segala pengorbanan dan kesetiannmu bersama dakwah ini. Semoga kita bertemu di JannahNya,”demikian kata Riyono.

“7 semester aku bersamamu, dan sejak saat itu aku tahu engkau orang baik... Selamat jalan Saudaraku, Insya Alloh kita ketemu di Jannah-Nya,”Hadi Santoso menambahkan.

Sebagai informasi, Antoni adalah salah satu pengurus DPW PKS Jateng yang mengemban amanah di sekretaris BP3. Ditengah kesibukan dakwah untuk mempersiapkan pemenangan Pemilu di Jateng, Antoni mengidap penyakit Tuberkulosis (TBC atau TB) yang merupakan penyakit infeksi pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh bakteri.

Hingga akhirnya membuat Antoni harus dirawat di rumah sakit. Sempat kembali sehat dan beraktivitas kembali, Antoni harus beristirahat total. Mengalami kondisi tak sadar sejak Sabtu (18/12/2016), Antoni akhirnya meninggal dunia pada Ahad (19/12/2016) di paviliaun Garuda, Rumah Sakit DR Kariadi Semarang. Antoni dimakamkan di kampung halamannya di Dusun Krajan, Desa Salamsari Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung, Ahad (19/12/2016) malam WIB.

Pria yang selalu bersiap siaga, menyusun detil demi detil persiapan pemenangan PKS di Jateng itu kini telah kembali ke haribaa Illahi. Tak banyak mungkin yang mengetahuinya, dibalik keberhasilan pemenangan PKS di sejumlah daerah, disitulah sosok Antoni berperan. Tentu selain sejuta amal lain yang menjadi pemberat timbangan Antoni menuju ke jannah-Nya.

 

Meski fisiknya telah pergi, tak kan sia-sia perjuangannya. Menjadi Inspirasi bagi kami untuk selalu istiqomah di jalan ini. Selamat jalan Ustadz Antoni.

]]>
http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2960/Teruntuk-Ustadz-Antoni-Fisikmu-Boleh-Pergi-Tapi-Kau-Tetap-Hidup-dalam-Jiwa-dan-Pikiran-Kami
Hubungan PKS, Agus Mulyadi dan Nabilah JKT48 http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2944/Hubungan-PKS-Agus-Mulyadi-dan-Nabilah-JKT48 Sat, 03 Dec 2016 14:09:04 +0700 Artikel NAMA Agus Mulyadi dalam beberapa tahun terakhir menghiasi dunia persilatan media sosial. Selain profesinya adalah seorang redaktur di sebuah media online… NAMA Agus Mulyadi dalam beberapa tahun terakhir menghiasi dunia persilatan media sosial. Selain profesinya adalah seorang redaktur di sebuah media online yang berada di DI Yogyakarta, kisah memilukan nan menggemparkan seputar masa lalunya dengan Nabilah Ratna Ayu, seorang member Jakarta 48 barangkali menjadi cerita tersendiri.

Ya, menurut pria yang akrab disapa Gus Mul ini, Nabilah JKT48 menjadi titik balik kehidupan seorang Agus Mulyadi. Dari yang semula hanya penjaga warnet, kini menjadi sosok redaktur di sebuah media terkemuka di Indonesia, Gus Mul juga sering diundang stasiun televisi dan akhirnya menjadi pembicara di berbagai momentum kepenulisan dan teknologi informasi, seperti yang dilakukan Gus Mul saat menjadi narasumber dalam acara studium generale sekolah digital relawan kreatif Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah.

Balik lagi ke hubungan Nabilah JKT48 dengan Gus Mul, dikisahkan ternyata gara-gara fotonya dengan member JKT48 yang cute itulah yang membuat sosok Gus Mul mulai dikenang, dikenal dan diperebutkan. Tentu bukan foto dengan Nabilah dalam fakta yang sebenarnya, Gus Mul hanya mengedit foto dirinya dengan Nabilah JKT48 dengan aplikasi Adobe Photoshop. Siapa sangka, ternyata berkat editan fotonya itu, dirinya diminta para member JKT48 lain di Jogja, para teman-temannya yang menjadi ‘ultras' (baca: fans garis keras) JKT48 untuk mengedit fotonya dengan JKT48.

“Saya ndak tahu, yang bodoh saya apa teman saya, yang jelas begitu saya perlihatkan foto saya dengan Nabilah, dia langsung percaya, dan akhirnya malah meminta untuk meng-editkan foto-foto dirinya dan teman-temannya bareng JKT48,”kata Agus saat mengisahkan perjalanan menyejarah dirinya kepada puluhan relawan kreatif PKS Jateng, Sabtu (3/12/2016) di Semarang.

Perlu diketahui bahwa hasil editan foto Gus Mul sangat sempurna, bahkan bisa dikatakan 99 persen mirip dengan foto aslinya. Bahkan mungkin pakar telematika sekelas Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo pun sulit untuk menyatakan foto karya Gus Mul adalah foto editan. Sehingga, berkat sikil (baca: ketrampilan) tersebutlah, pria lajang berjenggot panjang penulis buku “Diplomat Kenangan” ini mulai berfikir kapitalistik, hedonistik dan materialistik (panganan opo kuwi).

Jasa edit foto dari berbagai kalangan pun langsung diterima Gus Mul, bak cendawan di musim hujan, mengalir deras, sederas air mata saat berpisah dengan sang mantan. Dalam waktu sebulan, ratusan orderan jasa edit foto ini diterima pria yang kini sama usianya dengan Nabi Muhammad saat menikah dengan Siti Khadijah. Hingga akhirnya, suatu peristiwa menyentuh dirinya membuat dia merasa profesi jasa edit foto tersebut harus diakhiri.

“Saya dikomplain oleh suami seorang artis FTV yang kebetulan saya ngefans sama artis tersebut, untuk tidak mengedit foto istrinya, dan akhirnya permintaan maaf diterima dengan syarat menyanyikan lagu D’Bagindas (Bertahan satu cinta) saat di telepon itu, akhirnya ternyata diketahui yang menelepon adalah penyiar Prambors,”ungkapnya.

Gus Mul merenung, dan meyakinkan dirinya bahwa profesi yang dia jalani tersebut tidak baik. Ada beberapa alasan, diantaranya menurut Gus Mul adalah soal pelanggaran hak cipta. Sejak itu, pemilik blog agusmulyadi.web.id ini memutuskan berhenti jadi tukang edit foto. Semenjak itu, dirinya menuliskan berbagai kisah menariknya dalam blog tersebut.“Hingga akhirnya ada beberapa penerbit menawarkan untuk menerbitkan buku-buku dari tulisan saya di blog itu, saat ini sudah ada tiga buku, tahun depan rencana buku keempat,”tandasnya.

Pelajaran Moral dari Gus Mul

Perjalanan waktu sejarah sosok Gus Mul berlanjut. Fans berat Manchester United  ini akhirnya bekerja menjadi redaktur sebuah media terkemuka di Jogja, hingga saat ini. Hal itu terjadi setelah Gus Mul bikin tulisan yang mengalir, cemeklik dan mbrebes mili di blog pribadinya, terus ada penerbit yang tertarik, dan bikin tiga buku. Sehingga dirinya dilirik oleh Mojok.co untuk jadi salah satu redakturnya, hingga saat ini.

Karena dirinya sekarang resmi menjadi tokoh muda masa kini yang identik dengan kekocakan dan kesantunan dalam bersocmed, Gus Mul pun menyampaikan beberapa pelajaran moral kepada generasi gawai, terutama para relawan kreatif PKS Jateng, yang ternyata banyak yang bergelar shareholic (baca: tukang share).

Pelajaran pertama, kata Gus Mul, adalah jika ingin menjadi pegiat media sosial, jangan asal share, apalagi berita-berita yang hoax dengan cara cerdas memilih sumber berita. Hal ini menurut Gus Mul harus dilakukan mengingat banyak sekali sumber informasi, terutama online yang tidak mengedapankan akurasi.

Pelajaran moral kedua, kata Gus Mul, jika jadi pembuat konten, bikin konten yang menarik, tapi dari sisi judul dibuat biasa saja. “Saya pribadi cenderung agak sebel dengan media online yang bikin judul bombastis dan cemeklik, tapi isinya bohong, lebih baik baca juduk koran lampu hijau, meski judulnya panjang, tapi sesuai dengan isi,”jelasnya.

Pelajaran moral ketiga, dia berharap jangan menjadi bagian dari huru-hara informasi dengan cerdas mengelola informasi yang masuk ke dunia internet. “Yang kita share adalah yang kita pertanggungjawabkan, sehingga harus share hal-hal yang bisa dipertanggungjawabkan, terutama terkait konten,”pungkas Gus Mul.

Pelajaran moral terakhir, ternyata tidak disampaikan Gus Mul secara tersurat, namun secara tersirat, sosok Gus Mul adalah sosok inspiratif. Dari penjaga warnet dengan bayaran Rp 30 ribu per hari, kini jadi redaktur media dengan karya-karya ringan namun inspiratif. Dari jasa tukang edit foto, kini menjadi motivator super dan praktisi media sosial yang banyak mengisi sana dan mengisi sini, hanya saja, apakah sudah ada yang mengisi ruang hatinya? Wallahu ‘alam bi showwab, hanya Allah SWT dan Gus Mul yang tahu.

By the way, terimakasih atas ilmunya Gus Mul yang diberikan kepada para relawan kreatif PKS Jateng. Semoga Gus Mul diberikan kesehatan, kelancaran, rezeki yang berlimpah, sehingga semakin banyak berbagi inspirasi untuk semua.

Untuk relawan kreatif PKS, mari terus menginspirasi.

 

 

 

]]>
http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2944/Hubungan-PKS-Agus-Mulyadi-dan-Nabilah-JKT48
Ada Dusta Diantara Kita #1 http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2942/Ada-Dusta-Diantara-Kita-1 Thu, 01 Dec 2016 08:57:36 +0700 Artikel Oleh M FauziRelawan Literasi PKS PKS Jateng Online - Suatu ketika di Masjid Asy Syifa RSUP dr. Kariadi itu bisa dikatakan sebagai khutbah jumat yang paling… Oleh M Fauzi
Relawan Literasi PKS

PKS Jateng Online - Suatu ketika di Masjid Asy Syifa RSUP dr. Kariadi itu bisa dikatakan sebagai khutbah jumat yang paling berkesan sepanjang yang pernah saya ikuti. Bukan hanya materi khutbahnya yang sangat bagus, tetapi cara penyampaiannya yang sangat apik dan menyentuh. Yang disampaikan adalah betapa indahnya kehidupan ini seandainya tak ada dusta.

Kami (para sahabat nabi) tidak mengerti arti dusta sampai munculnya fitnah, begitulah salah satu yang khatib sampaikan. Mulanya, menyampaikan hadis Rasulullah itu tinggal disampaikan saja, sampai munculnya fitnah, sehingga setiap disampaikan suatu hadis, harus ditanyakan sanad-sanadnya, jika sanadnya terpercaya, hadis itu baru bisa diterima, dan jika tidak maka hadis itu ditolak.

Betapa indahnya kehidupan ini seandainya tak ada dusta. Tak ada prasangka, tak ada curiga. Tak perlu ada pengawasan. Kehidupan ini akan mengalir dengan sangat nyaman.

***

Era kemajuan teknologi membuat kehidupan dunia maya banyak menggeser peran dunia nyata. Padahal penduduk dunia maya bukanlah manusia-manusia berwujud fisik yang kasat mata, tetapi para akuntan. Dari sinilah muncul bencana informasi.

Pernah terjadi di sebuah grup, ada yang menshare sebuah link berita, Pemprov DKI mulai memberi vaksin kanker serviks kepada anak SD. Tetapi informasi tersebut disertai black campaign terhadap pihak tertentu. Pemberian vaksin tersebut dianggap sebagai upaya untuk menekan populasi bangsa Indonesia, bla bla bla.

Kemudian ada klarifikasi dari salah seorang anggota grup yang profesinya memang terkait dengan medis, bahwa pemberian vaksin HPV sudah menjadi program IDAI (Ikatan Dokterr Anak Indonesia) sejak tahun 2010. Mengapa diberikan pada anak usia SD? Karena kalau diberikan pada usia emak-emak, minimal sekali manfaatnya. Efek samping menopause dini itu merupakan hoax saja. Dana juga bukan dari Pemprov DKI, tapi dari Kemenkes. Karena dana terbatas, DKI menjadi yang pertama.

Begitu banyak informasi bertebaran di dunia maya, sementara kebanyakan para pengguna media sosial adalah kalangan awam informasi yang belum tentu bisa mencerna informasi yang didapat, apalagi informasi tersebut sepintas kelihatannya menarik.

Beberapa waktu lalu ada informasi yang sempat menjadi viral, dialog antara AA Gym dengan Panglima TNI sebelum dilangsungkannya ILC di TVONE, yang kemudian diklarifikasi bahwa itu tidak benar. Ada lagi tentang berita yang awalnya berasal dari sumber resmi, tentang imam masjid New York, Shamsi Ali yang mengutip pernyataan seorang pemimpin gereja di AS, tetapi di Indonesia, berita itu kemudian banyak turunannya, bahkan cukup liar, hingga beliau harus mengklarifikasi bahwa itu tidak benar. Ada pula informasi yang mengatasnamakan ustadz Bachtiar Nashir, berupa ajakan untuk mengepung istana, dan diklarifikasi beliau bahwa itu tidak benar.

Carut marutnya penyampaian hadis pada masa salaf nyatanya membawa hikmah, kehati-hatian dari umat ini dalam menjaga keaslian hadis-hadis Rasulullah, sehingga otentitas agama ini tetap terjaga hingga generasi-generasi selanjutnya. Kesulitan besar untuk mengurai carut marutnya permasalahan tersebut juga melahirkan tokoh-tokoh besar ahli hadis yang dikenal dalam sejarah, seperti Imam Bukhari dan Muslim.

Maka, carut marutnya era informasi ini juga membutuhkan peran serupa, dalam tantangan yang berbeda, agar melahirkan peran-peran hebat dari upaya mencegah bencana informasi yang mengancam kehidupan umat manusia ini.

]]>
http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2942/Ada-Dusta-Diantara-Kita-1
Antara Foto dan Kumpulan Kertas Pemimpin http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2855/Antara-Foto-dan-Kumpulan-Kertas-Pemimpin Tue, 11 Oct 2016 06:55:44 +0700 Artikel Oleh: Eko Jun Seorang pelajar mungkin saja memiliki banyak foto yang menarik selama dia bersekolah. Misalnya foto dengan kostum tertentu saat karnaval,… Oleh: Eko Jun

Seorang pelajar mungkin saja memiliki banyak foto yang menarik selama dia bersekolah. Misalnya foto dengan kostum tertentu saat karnaval, menjadi duta atau mengikuti lomba tertentu. Dengan sedikit narasi yang didramatisir, akan tercipta imej dalam benak kita bahwa dia adalah seorang pelajar yang hebat dan serba “wah”. Namun, ukuran paling shahih untuk menilai prestasinya adalah di buku raport. Disana tertera dengan jelas dan terukur tentang capaian prestasi akademik maupun non akademik. Bisa jadi foto - foto itu memang menggambarkan nilai raportnya, bisa jadi pula foto - foto itu bertolak belakang dengan nilai raportnya.

Seorang manajer mungkin saja memiliki banyak foto yang menarik selama dia menjabat. Entah memberikan sambutan, berinteraksi dengan karyawan maupun saat memberikan santunan melalui program Comdev / CSR. Dengan sedikit narasi yang mendayu - dayu, akan terbentuk imej dalam pikiran kita bahwa dia adalah seorang manajer yang hebat dan handal. Namun, ukuran paling shahih untuk menilai prestasinya adalah di laporan keuangan. Disana terdokumentasikan secara detil tentang laporan arus kas, perubahan modal, neraca dll. Boleh jadi, foto - foto itu memang sebangun dengan laporan keuangan perusahaan, bisa jadi foto - foto itu hanya kamuflase untuk memoles citranya.

Seorang kandidat petahana mungkin saja memiliki banyak foto menarik selama dia berkuasa. Mungkin kunjungan ke pejabat negara dan tokoh nasional, mengunjungi pasar, memberikan santunan, mengunjungi korban bencana, sidak pelayanan publik dll. Dengan gubahan narasi oleh konsultan dan tim suksesnya, akan terbangun imej dalam persepsi kita bahwa dia adalah seorang kandidat yang bertanggung jawab, merakyat, berdedikasi tinggi dll. Namun ukuran paling shahih untuk menilai prestasi sekaligus mengevaluasi kapasitas kepemimpinannya adalah APBD & LKPJ Bupati. Dikuatkan lagi dengan laporan audit dari BPK. Disana tergambar jelas tentang PAD, konsistensi dalam menjalankan kebijakan negara, manajemen pengeloaan aset daerah dll. Bisa jadi, foto - foto itu menguatkan citra dan capaian prestasinya, bisa jadi foto - foto itu dipergunakan untuk menutup sisi lemahnya sebagai pemimpin.

Dokumen APBD & LKPJ itu bisa diakses publik. Ada pansus dari anggota dewan yang menilai LKPJ Bupati. Pendapat fraksi disampaian tertulis dan dibacakan secara langsung oleh jubir masing - masing fraksi. Sidang paripurna dihadiri oleh anggota dewan dan jajaran SKPD. Saat sidang, direkam baik suara maupun visualnya. Termasuk bagaimana kandidat petahana bereaksi di dalam sidang pun terekam dengan jelas. Inilah alat ukur yang paling valid dalam menilai capaian prestasi dan kinerja kandidat petahana. Dari sini, kita bisa menganalisis atas foto - foto kandidat petahana apakah sebangun dan senafas dengan kinerjanya, atau sekedar upaya memoles citra, memicu simpati dan mendongkrak suara.

Khatimah

Momentum pilkada adalah sarana untuk mengevaluasi kinerja seorang pemimpin, khususnya kandidat petahana. Agar rakyat bisa menilai dengan benar, mereka memang harus mendapat asupan informasi yang valid dan berharga, bukan propaganda dan pencitraan dari tim sukses dan pendukungnya. Semoga, rentang waktu 4 bulan kedepan bisa menjadi sarana pembelajaran politik yang baik, yang mampu membuka mata dan pikiran kita semua atas kondisi yang sebenarnya. Bukan malah menjadi sarana yang membutakan mata dan menulikan telinga. Mari kita berlomba mencari solusi terbaik bagi kemajuan daerah kita masing - masing. Selamat menjadi pemilih yang cerdas dan bertanggung jawab.

]]>
http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2855/Antara-Foto-dan-Kumpulan-Kertas-Pemimpin
Dirman, Haram Menyerah Bagi Tentara http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2847/Dirman-Haram-Menyerah-Bagi-Tentara Wed, 05 Oct 2016 12:18:26 +0700 Artikel Pak Dirman seorang Jenderal berwatak keras dalam memegang teguh prinsipnya. Kadangkala Pak Dirman tidak kenal kompromi dengan segala keputusan-keputusan… Pak Dirman seorang Jenderal berwatak keras dalam memegang teguh prinsipnya. Kadangkala Pak Dirman tidak kenal kompromi dengan segala keputusan-keputusan yang telah dipilihnya. Termasuk, ketika Pak Dirman harus hijrah dari Yogyakarta pasca Agresi Militer 1. Kala itu Pak Dirman bernafas menggunakan satu paru-paru tersebab penyakit TBC yang dideritanya.
.
.
Panglima Besar sudah terikat sumpah: haram menyerah bagi tentara. Karena ikrar inilah ia menolak ajakan Presiden Soekarno untuk berdiam di Yogyakarta. Ia memimpin gerilya selama delapan bulan dengan ditandu, ia keluar masuk hutan.
.
.
Panglima Besar jebolan Hizbul Wathan kepanduan Muhammadiyah itu adalah pemimpin yang shalih. Dalam keterbatasannya, ia tak luput tunaikan sunnah dhuha. Pak Dirman tak ditempa dengan pendidikan tinggi militer, Ia hanyalah jebolan PETA bentukan jepang. Namun, ia memiliki kecerdasan taktik yang membuat musuh kelimpungan menghendus arah gerak gerilyanya.
.
.
Serangan Umum Yogyakarta adalah ide briliannya di tengah kekosongan pemimpin negeri ini. Soekarno dan Hatta sudah terlanjur diasingkan saat Agresi Militer 1. Berawal dari secarik surat untuk Sri Sultan Hamengkubuwono IX, ide itu dicanangkan. Pak Harto ditunjuk sebagai eksekutornya.
.
.
SU Yogyakarta meraih gilang gemilang kemenangan. Gairah perwakilan Indonesia di PBB menggeliat. Mata dunia kembali tertuju pada Indonesia, bahwa republik ini masih ada. 
.
.
Pak Dirman, mantan guru, dan peletak dasar kultur TNI yang ironisnya dulu sempat berkata, "Saya cacat, tak layak masuk tentara." Pak Dirman ingin mengajarkan kepada kita betapa keterbatasan bukan halangan untuk berkorban secara maksimal dengan kemampuan dan semangat yang dimiliki. Pak Dirman meneladankan kepada militer di negeri kita, bahwa menjadi aparatur keamanan negara bukan alasan untuk lepaskan keshalihan pada masing-masing diri.
.
.
Dirgahayu ke-71 Tentara Nasional Indonesia

]]>
http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2847/Dirman-Haram-Menyerah-Bagi-Tentara
Tas Kamal Fauzi dan Dinginnya Gunung Lawu http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2846/Tas-Kamal-Fauzi-dan-Dinginnya-Gunung-Lawu Wed, 05 Oct 2016 08:32:05 +0700 Artikel Karanganyar, PKS Jateng Online - Taman Hutan Raya KGPAA Mangkunegoro ramai dan penuh dengan gelora semangat membara, pasalnya lokasi yang berada di kaki… Karanganyar, PKS Jateng Online - Taman Hutan Raya KGPAA Mangkunegoro ramai dan penuh dengan gelora semangat membara, pasalnya lokasi yang berada di kaki gunung Lawu Karanganyar itu menjadi tempat Kemah Bakti Nusantara (KBN) 2 Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah. Saat fajar menyingsing dari balik bukit yang membelakangi area berkumpul, Tampak dari kejauhan sosok laki - laki yang begitu familiar dikalangan kader PKS Jawa Tengah.

Beliau adalah KH Kamal Fauzi, laki - laki yang kini tengah memimpin PKS di Jawa Tengah, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Jateng. Ia berjalan santai menuju instrukur KBN 2 PKS Jateng sembari menyapa beberapa orang yang menghampirinya.

Laki - laki yang sudah pantas memiliki cucu itu tidak hanya datang untuk memantau atau membuka acara KBN 2 PKS Jateng saja, akan tetapi juga mendaftarkan diri untuk mengikuti acara tersebut dan menjadi relawan PKS Jateng.

Seperti kader PKS lainnya, Kamal memenuhi setiap kewajiban yang diberikan instruktur Kemah. Apakah itu peralatan yang dibawa, administrasi, dan aktivitas selama kegiatan sebagaimana peserta lainnya.

Hujan dan dinginnya angin yang berhembus diantara dedaunan pohon hutan serta pohon ilalang tak menyurutkan langkah kakinya untuk mengikuti setiap agenda yang diselenggarakan Instruktur. Padahal Kondisi fisik beliau yang sudah tidak muda lagi dan memiliki penyakit Asma yang ketika dingin menyerang akan mempengaruhi tubuh.

"Tatkala beliau berjalan mendaki , harus berhenti sejenak kemudian melanjutkan perjalanan. Berhenti lagi, untuk mengumpulkan kekuatan, Kemudian baru melanjutkan perjalanan lagi." terang Aji Suryo, Ketua DPD PKS Pekalongan yang ikut dalam acara KBN 2 PKS Jateng dengan penuh haru.

KH Kamal Fauzi Memberikan Arahan dalam KBN 2 PKS Jateng

Aji menceritakan bahwa selama dalam perjalanan menyusuri hutan Gunung Lawu, dirinya tidak meminta bantuan berlebihan selain berhenti sejenak untuk mengistiratkan diri dan kemudian melangkahkan kaki kembali untuk membelah hutan yang dingin dengan jalan yang berlumut.

Ketika beberapa kader yang lain meminta bantuan untuk membawakan tasnya kepada yang peserta lainnya, Kamal tidak meminta peserta lain untuk membawakan tasnya walaupun dirinya adalah orang no. 1 di PKS Jawa Tengah.

"AllahuAkbar, Semoga kesehatan Allah limpahkan untuk KH Kamal. Waktu itu ada yang meminta tas beliau untuk di bawakan, beliau tidak mau. Beliau tetap membawa sendiri, dan mengatakan 'Tidak usah, saya masih kuat. Bismillah'. Subhanallah. Beliau terus maju sampai akhir." Cerita Aji dengan mata yang berkaca - kaca.

Kamal menyelesaikan perjalan turun naik tebing Gunung Lawu dengan di guyur hujan deras. Dengan segala keterbatasan fisik dan kemampuannya walau beliau sakit asma, beliau selesiakan agenda dengan tanpa keluhan.

Aji teringat pesan KH Kamal disela - sela aktivitas KBN 2 PKS Jateng, Shalat itu jika dikerjakan dengan khusyu akan membeikan pengaruh. Agenda KBN 2 juga, jika kita lakukan dengan segenap potensi akan memberikan pengaruh positif pada diri kita. Nabi adalah sosok yang kuat, usia 40 belum perang, usia 50 belum jihad, dan baru bertarung di usia 54 tahun sampai sebelum wafatnya.

"Beliau bercerita, bahwa KH Kamal sudah ikut agenda semacam KBN sejak tahun 1991, bahkan dulu (Kata beliau) setahun bisa diadakan sebanyak 2 kali. Dan ternyata beliau baru absen satu kali sampai sekarang. Subhanallah. Dan kalau kita mau berkaca, Astaghfirullah." tutur Aji dengan rasa malu dan haru.

KH Kamal Fauzi Mendapatkan Jagung untuk sarapan dan makan siang

Kamal Mengikuti setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh instruktur KBN 2 PKS Jateng, mulai dari datang ba'da Subuh pada hari jum'at 30 September 2016, Materi, Susur Hutan, hingga acara selesai.

Agenda rutin yang diselenggarakan oleh Bidang Kepanduan dan Olahraga ini adalah salah satu acara yang berbalut dengan fisik dan bela negara. Kamal mengikutinya dengan suka rela dan mengikuti apa yang disampaikan oleh instruktur.

Ketika yang peserta yang lain makan dengan Jagung untuk mengganjal perut, Kamal juga mendapatkan yang sama dan suka rela menikmatinya sebagai pengganti sarapan dan makan siang. Ketika istirahat, sebagaimana peserta yang lainnya, Ia bersandar dengan tanah dan rerumputan serta beratapkan langit dan berteman tenangnya Hutan Kaki Gunung Lawu.

KH Kamal Fauzi Bercengkrama Dengan Hadi Santoso (Kabid Humas PKS Jateng) Paska Susur Hutan Lawu

]]>
http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2846/Tas-Kamal-Fauzi-dan-Dinginnya-Gunung-Lawu
Semua Ada Waktunya #3 http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2840/Semua-Ada-Waktunya-3 Wed, 28 Sep 2016 13:02:29 +0700 Artikel Oleh Eko Jun   Pada fase pertama, rasulullah menekankan strategi defensif dengan meminimalisir konflik terbuka dan perintah untuk bersabar. Pada… Oleh Eko Jun

 

Pada fase pertama, rasulullah menekankan strategi defensif dengan meminimalisir konflik terbuka dan perintah untuk bersabar. Pada fase kedua, rasulullah menggariskan strategi ekspansif dengan mengibarkan bendera perlawanan dan tindakan pengamanan untuk mempertahankan basis teritorial. Fase selanjutnya adalah ...

Ketiga, Fase Ofensif

Pada fase ketiga, izzul islam wal muslimin dijalankan secara paripurna. Diantara penyebabnya adalah Madinah telah bebas dari pengaruh yahudi dan bangsa Quraisy sudah “menyerah” dalam upayanya untuk menaklukkan Madinah. Jika titik cut off fase kedua adalah peristiwa hijrah, maka titik cut off fase ketiga adalah pasca perang khandaq. Sebagaimana sabda rasul usai berakhirnya perang khandaq “Sekarang, gantian kita yang akan menyerang mereka”.

Penting bagi qiyadah untuk memperhatikan situasi dan kondisi dalam menentukan cut off suatu marhalah dakwah. Ketika suatu marhalah dakwah yang baru sudah ditetapkan, otomatis strategi dan style-nya berbeda. Dalam proses pemilukada, kita harus punya rancangan yang jelas kapan mendukung dan kapan mengusung, kapan berkoalisi dan kapan berkompetisi. Entah dengan firasat, kajian maupun survei lalu muncul statemen politik “Sekarang, saatnya kita mengusung kader sendiri”. Saat ini, relatif hanya PDI-P yang memiliki pola ini, dimana mereka bebas memutuskan siapa yang akan diusung dan semua partai seolah “dipaksa” menunggu kabar dari Bu Mega dalam merumuskan langkah selanjutnya. Dalam beberapa kasus, Gerindra juga memiliki otonomi yang cukup besar dalam penentuan kandidat.

Sayap Diplomasi

Pada fase ofensif ini, rasulullah mensejajarkan diri sebagai pemain besar. Beliau membuat perjanjian dengan suku Quraisy dalam peristiwa sulhul hudaibiyah. Harus dipahami, suku Quraisy adalah suku yang paling terpandang di jazirah Arab. Hanya suku Quraisy saja yang mampu memobilisasi suku – suku lain dalam koalisi besar. Ancaman militer terbesar datang dari suku Quraisy, bukan dari suku yang lain. Membuat perjanjian damai dengan suku Quraisy adalah kemenangan besar besar yang akan mengantarkan pada Fathu Makkah. Wajar jika surat yang turun pasca ditekennya sulhul hudaibiyah adalah surat Al Fath.

Saat ini, kita masih berada dikalangan partai kelas menengah. Titik cut off dari partai kelas menengah ke partai besar dimulai saat kita memiliki daya tawar yang tinggi dikalangan partai besar. Bukan hanya sebagai pelengkap koalisi, tapi benar – benar sebagai mitra koalisi yang memiliki pengaruh untuk menentukan pasangan kandidat dan merubah peta politik. Ini adalah kondisi pendahuluan untuk menapak jalan sebagai pemain besar. Terlebih jika partai – partai besar sudah memandang kita sebagai lawan kompetisi yang serius, berarti kita memang sudah menjadi pemain besar. Tandanya sederhana, yakni memiliki magnet besar bagi partai dan lain dan mereka menunggu diajak berkoalisi oleh kita.

Hal lain juga ditunjukkan saat mengirimkan surat – surat dakwah kepada para pemimpin dunia. Dalam manhaj haraki, kita mengenalnya sebagai fase internasionalisasi dakwah (intisyarul islam fil ardhi). Kali ini rasulullah memposisikan dirinya bukan lagi sebatas pemimpin Madinah, tapi juga pemimpin jazirah Arab yang sejajar kedudukannya dengan pemimpin kerajaan – kerajaan besar dunia saat itu.

Umumnya, hubungan antar negara dilakukan oleh kepala negara baik dalam konteks bilateral, regional maupun multilateral. Pola yang sama juga bisa terjadi pada level yang lebih rendah, yakni antar daerah dan provinsi. Dalam hal ini, sebuah gerakan dakwah telah berhasil menempatkan kadernya sebagai kepala presiden, gubernur, bupati/walikota. Namun hubungan internasional juga bisa dilakukan oleh aktor non negara, seperti ormas, parpol, NGO, MNC dll. diluar negeri, wajar ketua parpol dari suatu negara bertemu dengan kepala negara dari negara lain dan/atau sebaliknya.

Sayap Advokasi

Pembelaan terhadap terhadap komunitas muslim mencapai puncaknya. Kesimpulan ini kita ambil dari beberapa kasus, diantaranya peristiwa bai’atur ridwan. Rasulullah keluar Madinah bersama 1.400 orang dengan maksud berumrah. Lalu terjadilah beberapa rangkaian peristiwa yang membuat Utsman ditawan oleh suku Quraisy. Demi membebaskan Utsman, seluruh yang hadir berbai’at, siap berperang menyerbu Makkah. Jika kita renungkan, situasinya sungguh sangat heroik. Ukhuwahnya sangat tinggi karena siap berperang demi membebaskan 1 orang saja. Nyalinya sangat besar karena siap menyerbu basis musuh meski tidak membawa senjata.

Kasus lain terjadi pada perang Mu’tah. Rasulullah mengirim utusan untuk menyampaikan surat dakwah kepada Raja Bushra. Sesampainya di Muktah, utusan itu dibunuh. Padahal dalam aturan internasional, seorang kurir tidak boleh dibunuh. Untuk membalasnya, rasulullah mengirim 3.000 pasukan ke Mu’tah.  Hal yang kurang lebih sama juga terjadi pada perang Tabuk. Rasulullah berangkat bersama dengan 10.000 pasukan, dimana salah satu alasannya adalah untuk menuntut balas atas terbunuhnya Ja’far bin Abu Thalib yang gugur di perang Mu’tah.

Negara besar dan kuat akan memberikan perlindungan ekstra kepada warga negaranya. Terusik sedikit, berarti menyulut perang frontal. Dalam sejarah, kita tahu Raja Kubilai Khan mengirim pasukan besar ke Jawa untuk menghukum Kertangara, Raja Singosari yang melukai (memotong telinga) Meng Chi (utusan mongol). Sedangkan Jenghis Khan mengirim pasukan yang sangat besar hingga menghancurkan daulah Dani Abbasiyah di Baghdad, hanya karena beberapa pedagang Mongol dibunuh oleh Daulah Khawarismi. Saat ini, praktis hanya Amerika yang mampu melakukan hal seperti ini.

Penentuan pasangan kandidat dalam arena pemilukada tidak selalu dalam kondisi ideal. Kadang ada kandidat yang diusung demi membela kehormatan partainya. Mungkin karena partainya dilecehkan, mungkin karena partainya merasa dikhianati oleh calon kandidat dll. Jika kondisi demikian terjadi, mereka akan mengumumkan perang bubat dengan menginstrksikan seluruh kader dan simpatisannya untuk bertempur habis – habisan. Dibeberapa daerah, kita sudah mampu melakukan hal ini. Namun secara umum, hanya partai besar dan mapan saja yang bisa berperilaku demikian.

Khatimah

Betul, semua ada saatnya. Ada masanya kita defensif, ada masanya kita ekapansif dan adapula masanya kita ofensif. Pandai – pandainya kita membaca situasi dan meningkatkan kapasitas organisasi agar kita bisa naik kelas, dari partai menengah menjadi partai besar. Saat itulah kita bisa menjalankan fungsi partai dengan efektif, yakni melahirkan para pemimpin berkualitas dari rahim kita sendiri. Wallahu a’lam.

]]>
http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2840/Semua-Ada-Waktunya-3
Semua Ada Waktunya #2 http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2835/Semua-Ada-Waktunya-2 Mon, 26 Sep 2016 15:19:53 +0700 Artikel Oleh Eko Jun Jika fase pertama penegakkan izzul islam wal muslimin adalah fase defensif yang penuh dengan seruan untuk bersabar. Maka selanjutnya adalah,… Oleh Eko Jun


Jika fase pertama penegakkan izzul islam wal muslimin adalah fase defensif yang penuh dengan seruan untuk bersabar. Maka selanjutnya adalah, ...

Kedua, Fase Ekspansif
Rasulullah sudah berhijrah ke Madinah serta memiliki pengikut yang siap membelanya baik dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Hanya saja, kaum muslimin bukanlah “Single Majority” di Madinah. Jumlah mereka malah hanya sepertiga, karena harus berbagi tempat dengan komunitas Yahudi dan kaum Paganis. Untuk membangun tertib sosial, mereka membuat perjanjian dengan suku lain berdasarkan basis geografis, bukan berdasarkan agama. Kita mengenalnya sebagai Piagam Madinah.

Berbekal modal sosial yang dimilikinya, kaum muslimin bergerak untuk mempertahankan eksistensinya. Baik dari agresi militer eksternal maupun makar musuh dalam selimut. Perang Badar, Uhud hingga Khandaq dilalui meski dengan kondisi tertatih dan kepayahan. Demikian juga dengan pengiriman ekspedisi militer kecil untuk melenyapkan gangguan. Mereka sukses mengkonversi kekuatan dan sumber daya internal untuk gerak ekspansi dakwah. Sebagiannya berhasil, sebagiannya kurang berhasil.

Pergerakan dakwah pada fase ini ditandai dengan pertumbuhan kader dan basis pendukung yang cukup besar, namun belum menjadi pemain utama. Statusnya berada dikalangan partai menengah, yakni sudah lepas dari strata partai gurem tapi belum bisa masuk menjadi partai besar. Kapasitas memenangkan kontestasi politik baik pada ajang Pemilukada maupun Pilpres bergantung sejauh mana kita mampu meramu modal sosial masyarakat dan mengkonversinya menjadi energi positif.

Sejumlah eksperimen politik pun dilakukan, baik dengan model spekulasi maupun perencanaan matang. Beberapanya berbuah kemenangan sebagaimana kasus di Jawa Barat dan Sumatra Utara, beberapanya harus menanggung kondisi kepayahan sebagaimana kasus di Kota Semarang dan Surakarta.

Menghadapi gerak dakwah yang berbeda, Al Qur’an turun untuk memandu jalan, menerangkan hakikat dan menyingkap tabir. Alhasil, para shahabat senantiasa yakin dan melangkah dengan pasti. Inilah salah satu ruang kosong pada pergerakan dakwah kita. Menghadapi gerak dakwah diera keterbukaan, tidak banyak para pemikir yang mendampingi dan memandu jalan, baik dengan ceramah maupun tulisan. Alhasil, banyak kegamangan dan keraguan melanda kader. Prasangka dan debat menjadi santapan, ketimbang ilmu dan pencerahan. Padahal dari luar, mereka juga menghadapai serangan pemikiran yang dahsyat dari kamar sebelah.

Dalam hal advokasi terhadap masyarakat muslim, sifatnya masih tebang pilih. Jika bisa diatasi dengan sumber daya internal, maka izzah islam akan ditegakkan. Misalnya pada kasus perang Bani Qainuqa. Dimana ada satu muslimah yang dilecehkan kehormatannya dan ada satu orang islam yang terbunuh, maka segera dilakukan mobilisasi umum untuk mengepung dan mengusir mereka dari Madinah.

Namun saat 70 orang ahli qur’an mati syahid pada tragedi Bi’r Ma’unah, rasulullah hanya mendoakan melalui qunut nazilah. Tidak ada mobilisasi bersenjata, ekspedisi militer maupun pemberangkatan sariyah untuk menuntut balas. Jadi, proses pembelaan terhadap komunitas muslim belum terjadi secara sempurna. Berbeda halnya dengan kondisi pada fase ketiga (fase ofensif, tulisan seri ketiga kelak).

Jika yang dicalonkan untuk maju berasal dari kalangan kader internal, maka pembelaan dan pemenangan akan dilakukan habis – habisan. Ada seruan mobilisasi umum untuk ta’awun, baik kepada kader, simpatisan maupun pihak eksternal. Namun jika kandidat yang diusung berasal dari kalangan eksternal, kapasitas energi pemenangannya maksimal berkisar 75%.

Demikian pula jika pemilukada dilaksanakan di daerah lain. Proses ta’awun dakwah antar sesama daerah memang terjadi, namun pembelaan belum bisa dilakukan secara totalitas. Dimaklumi saja, karena kondisi satu sama lain memang sama – sama belum mapan. Mobilisasi kader dari daerah luar untuk menunjang pemenangan pemilukada, baik sebagai anggota tim sukses, konsultan politik maupun tim pengamanan dilakukan secara terbatas.

Pada fase ekspansif ini, kita harus banyak berhitung dan mengkalkulasi faktor – faktor penyebab datangnya kemenangan. Meski sumber daya masih terbatas, namun dengan sedikit kreatifitas, keuletan dan kerja keras, kemenangan masih bisa diraih. Jika kesempatan terbuka, harus dimaksimalkan dan dikonversi menjadi gerak ekspansi dakwah kepada seluruh lapisan kader.

Kita harus berkaca pada komunitas muslim di Madinah, dengan jumlahnya yang hanya sepertiga tapi mampu melakukan banyak lompatan dan gerak ekspansi dakwah. Bukankah di Indonesia, jumlah ummat islamnya justru mayoritas? Bukankah hal itu bisa menjadi modal sosial yang bagus dan tempat pijakan yang kuat untuk meraih kemenangan?

]]>
http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2835/Semua-Ada-Waktunya-2
Semua Ada Waktunya #1 http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2833/Semua-Ada-Waktunya-1 Sun, 25 Sep 2016 07:45:16 +0700 Artikel Oleh Eko Jun Diantara perkara yang sering mengemuka saat ajang pemilukada adalah ucapan dari Umar bin Khathab ra “Ya Rasulullah, bukankah kita… Oleh Eko Jun


Diantara perkara yang sering mengemuka saat ajang pemilukada adalah ucapan dari Umar bin Khathab ra “Ya Rasulullah, bukankah kita orang islam? Bukankah kita berada diatas kebenaran? Bukankah musuh kita berada diatas kebatilan? Mengapa kita memberikan kehinaan kepada agama kita?”.

Terjemahan kontekstualnya dalam ajang pemilukada kira – kira senada dengan ungkapan “Mengapa kita tidak mengusung kader terbaik kita untuk maju sebagai kepala daerah? Mengapa kita malah bergabung dalam koalisi untuk mendukung calon yang bermasalah (baik secara kapasitas, akhlak maupun reputasi) ?”.

Jika kita membuka kitab sirah nabawiyah, kita akan mendapati ungkapan Umar bin Khathab ra tersebut dalam dua kondisi. Pertama, saat dia baru masuk islam. Umat islam masih sedikit, lemah dan bergerak secara siriyah. Umar yang penuh kekuatan dan izzah berontak dengan kondisi itu dan mengungkapkan isi hatinya agar umat islam bergerak terbuka serta bangkit melawan kedzaliman kaum quraisy.

Kedua, saat sulhul hudaibiyah. Kondisinya berkebalikan, dimana umat islam sudah kuat, jumlahnya besar dan siap berperang demi menuntut balas atas ditawannya Utsman bin Affan. Lalu tiba – tiba ada perundingan damai tetapi dengan syarat – syarat yang tidak menguntungkan bagi umat Islam. Sekali lagi, Umar bin Khathab ra mendidih darahnya sehingga terucapkan lagi perkataan yang sama kepada rasulullah.

Saat kita melakukan musyarakah politik dengan partai dan kandidat pasangan calon, sangat mungkin kondisinya tidak ideal. Ada calon yang ingin kita dukung tapi menutup pintu komunikasi, ada partai yang ingin didukung penuh tanpa harus mengetahui siapa bakal calon yang akan diusungnya, ada calon yang siap berkomunikasi dan bersepakat atas beberapa agenda dakwah yang kita sodorkan namun figurnya memiliki resistensi yang tinggi. Mengetahui situasinya cukup rumit, sebagian kader lalu mengungkapkan isi hatinya “Mengapa kita mencalonkan kader terbaik kita saja untuk berlaga di arena pemilukada?”


Semua Ada Waktunya

Dalam melakukan suatu rekayasa sosial, para perencana dan arsitek pergerakan memang harus pandai – pandai menggabungkan antara idealita dengan realita. Mereka harus bisa berfikir secara global, tapi bertindak secara lokal. Mereka harus berharap hal yang terbaik, tapi bersiap untuk hal yang terburuk. Salah dalam berhitung, maka gerak dakwah akan macet, mundur bahkan bisa bubar.

Diantara kisah dakwah para nabi, dakwahnya Nabi Muhammad adalah yang paling sukses. Nabi Ibrahim tidak berhasil mengislamkan kaumnya, malah dia dibakar. Nabi Musa memang berhasil menghancurkan Fir’aun dan membawa Bani israil keluar dari Mesir, tapi beliau tidak berhasil membawa kaumnya ke “tanah yang dijanjikan”. Meski dibantu oleh kaum hawariyun, ternyata Nabi Isa juga terancam hingga harus dibawa ke langit. Betul, Nabi Muhammad lah yang paling sukses. Pada tahun ketiga kenabian, beliau berkhutbah dibukit shafa seorang diri mengawali fase jahriyatud dakwah dan didustakan oleh kaumnya. Namun pada tahun kesepuluh hijriyah, saat haji wada’ beliau berkhutbah diikuti oleh 130 ribu shahabat yang membenarkan risalahnya.

Perjalanan dakwah Nabi Muhammad harus diterjemahkan, ditafsirkan dan dikontekstualisasikan sesuai kondisi “kekinian dan kedisinian” oleh para arsitek pergerakan. Gagal menafsirkan, gagal pula dalam berkesimpulan dan mengambil sikap. Sebuah kesalahan besar apabila gerakan dakwah kita masih berada pada kondisi fase Makkah, tapi memaksakan diri mengambil pola pergerakan fase Madinah. Demikian pula sebaliknya.

Dalam menegakkan izzul islam wal muslimin, setidaknya kita melihat 3 fase kebijakan rasulullah.

Pertama, Fase Bersabar

Memang ada individu kuat dan berpengaruh yang bergabung seperti Hamzah, Umar, Ustman, Sa’ad dll, namun secara umum umat islam masih lemah. Mereka tidak bisa memberikan pembelaan yang memadai kepada seluruh anggotanya. Meskipun pembelaan secara sporadis dan individu dibolehkan, sebagaimana yang dilakukan oleh Sa’ad bin Abu Waqash, Abu Bakar, Umar dll. Namun kebijakan umumnya adalah bersabar. Karena itu, diantara ciri ayat Makkiyah adalah perintah “fashbir”. Betul, fashbir shabran jamiila.

Sumayyah mati syahid dan rasulullah hanya bisa menghibur Amar bin Yasir untuk bersabar. Demikian pula saat banyak kaum mustadh’afin datang mengeluhkan nasibnya. Pada tahun kelima, rasulullah malah menyerukan agar sebagian kaum muslimin berhijrah ke Habasyah. Tentu saja banyak alasan dan hikmah, tetapi salah satu sebabnya dikarenakan umat islam belum bisa memberikan pembelaan yang semestinya kepada kaum muslimin yang dianiaya oleh Quraisy.

Frase “jihad”sebenarya sudah turun pada era Makkiyah, namun masih dimaknai defensif. Jihad dalam arti offensif baru turun saat era Madinah. Pernahkan kita merenung, apa jadinya jika saat itu rasulullah memerintahkan untuk angkat senjata? Dengan jumlah yang sedikit dan kondisi lemah, mereka akan mudah dibabat habis oleh kaum Quraisy. Selanjutnya, kisahnya mungkin akan mirip dengan kisah dakwah Nabi Ibrahim. Yakni belum punya kekuatan memadai, tapi berani menantang kaumnya dengan menghancurkan berhala seorang diri. Akhirnya beliau dibakar dan diusir dari negerinya dan selesailah gerak dakwah dinegerinya. Pada kasus dakwah rasulullah, berhala disekeliling Ka’bah dihancurkan pada saat Fathu Makkah.

Mari kita menimang dan merenung, bagaimana posisi kekuatn dakwah kita didaerah sendiri. Yang bersimpati dan memuji mungkin banyak, tapi yang siap bergerak dan berkorban seperti prajurit bisa jadi tidak banyak. Kader baru mulai tumbuh, sebagiannya memang para aghniya yang tajir, tapi mayoritasnya jelas masih berstatus sebagai gharimin. Kita belum memiliki figur – figur seperti Utsman bin Affan atau Abdurrahman bin Auf yang mampu membiayai pasukan perang sebagaimana partai lain memiliki konglomerat untuk membiayai perhelatan pemilu dan pemilukada.

Jika kondisinya masih seperti ini, maka mencalonkan presiden dan/atau kepala daerah dari calon internal jelas bukan langkah yang bijaksana. Karena konsekuensinya sangat jelas, dimana kader akan diperas dan dibebani dengan biaya operasional dan pemenangan yang sangat besar. Sedangkan mereka yang bersimpati dan mendorong kita tampil berlaga ke arena, sangat sedikit yang tergerak ikut menyumbang. Jumlahnya pun tidak seberapa.

Secara umum, fase pertama adalah fase bersabar. Belum saatnya kita mengambil opsi perang dengan mencalonkan kandidat internal. Jika kandidat eksternal yang kita dukung memiliki sejumlah kebaikan, bersyukurlah dengan syukur yang banyak. Tetapi jika ternyata memiliki sejumlah catatan, bersabarlah atas segala cacian, hujatan dan makian yang datang bertubi - tubi. Fashbir shabran jamiila.


[Bersambung ...]

]]>
http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2833/Semua-Ada-Waktunya-1
Seni Memilih Pemimpin #4 http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2815/Seni-Memilih-Pemimpin-4 Sun, 18 Sep 2016 10:48:22 +0700 Artikel Siapakah pemimpin pilihan rasulullah (panglima perang, ketua regu, pemimpin delegasi, penjaga kota dll) yang sempat menimbulkan kontroversi dikalangan… Siapakah pemimpin pilihan rasulullah (panglima perang, ketua regu, pemimpin delegasi, penjaga kota dll) yang sempat menimbulkan kontroversi dikalangan shahabat? Beliau adalah sosok shahabat yang dijuluki Al Hibb bin Al Hibb, yakni :

Keempat, Usamah bin Zaid

Usamah adalah anak dari Zaid bin Haritsah. Zaid bin Haritsah adalah mantan budak nabi yang naik pangkat menjadi panglima perang. Beliau sudah menunjukkan kelasnya dalam banyak ekspedisi militer dengan catatan gemilang. Hingga akhirnya mati syahid sebagai jendral pertama pada perang Mu’tah. Jelang wafat, rasulullah melakukan mobilisasi umum untuk kembali berperang melawan pasukan Romawi di Syam. Kontroversi muncul saat Usamah bin Zaid ditunjuk sebagai panglima perangnya. Apa gerangan yang memancing kontroversi seorang Usamah bin Zaid?

Faktor Usia

Saat itu, usianya baru 18 tahun menurut pendapat yang masyhur. Perlu diketahui bahwa batasan seseorang dibolehkan mengikuti perang didalam Islam adalah usia 16 tahun. Pada saat terjadi perang Badar, Abdullah bin Umar sebenarnya ingin mengikuti, tetapi tidak diperkenankan karena belum cukup umur. Pada saat perang Uhud, Abdullah bin Umar baru diperbolehkan untuk mengikutinya. Saat itu usianya 16 tahun.

Dengan usia yang masih muda, Usamah bin Zaid pantasnya memang menjadi prajurit biasa. Terlebih yang dipimpinnya adalah generasi assabiqunal awwalun, baik dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Jauhnya medan dan jam terbang yang masih minim turut menjadi pertimbangan. Disaat rumor penolakan semakin kencang, rasulullah pun berseru “Jika kalian ragu, mengapa kalian tidak ragu dengan kepemimpinan ayahnya? Jika ayahnya pantas jadi pemimpin, maka anaknya juga pantas jadi pemimpin. Jika ayahnya adalah orang yang ku cintai, maka anaknya juga orang yang ku cintai”.

Terkadang, ada anak - anak muda yang memiliki bakat dan potensi untuk menjadi orang besar. Disini generasi tua harus aktif mendorong dan mengkaryakan dengan berbagai macam penugasan, agar kapasitasnya terasah dan pengalamannya meningkat. Jika ada keraguan (baca : penolakan), maka generasi tua harus memberikan support, baik legitimasi maupun pembelaan. Karena tujuan besar dibalik penugasan itu agar muncul bintang - bintang baru dan bibit - bibit unggul yang kelak akan menggantikan generasi tua.

Dalam situasi normal, kepemimpinan pasti dipegang oleh generasi tua. Kepemimpinan yang dipegang oleh anak muda bisa saja terjadi, namun bukan dari proses jenjang karir yang normal. Jalannya beragam, bisa penunjukkan langsung, bisa karena wasiat dan bisa pula melalui jalur kudeta. PR bagi generasi tua adalah bagaimana menumbuhkan jiwa - jiwa kepemimpinan pada generasi muda. Agar saatnya harus naik ke panggung, statusnya bukan pemimpin karbitan yang masih hijau, awam dan lugu.

Faktor Pribadi

Kendati dikenal sebagai pemuda yang shaleh, namun Usamah bin Zaid juga pernah melakukan kesalahan fatal di medan jihad. Yakni membunuh musuh yang mengucapkan kalimat syahadat. Kesalahan ini sama persis dengan kesalahan yang dilakukan oleh Khalid bin Walid. Respon dari rasulullah pun sama, yakni mengingkari secara terang - terangan dihadapan para shahabat. Harus dipahami bahwa mengingakaran suatu perbuatan secara terang - terangan oleh rasulullah itu menjadi sanksi sosial yang sangat berat bagi para shahabat.

Selain itu, seolah terasa ada aroma balas dendam didalamnya. Karena dahulu ayahnya (yakni Zaid bin Haritsah) gugur melawan Romawi di perang Mu’tah. Meski kaum muslimin meraih kemenangan saat perang Mu’tah, tapi Romawi masih bercokol di Syam. Berhubung misi yang diemban ayahnya belum tuntas, maka kali ini anaknya yang maju. Sedikit banyak, hal ini berpengaruh secara psikologis. Mungkin karena itulah, rasulullah membela Usamah bin Zaid dengan cara menghubung - hubungkannya kepada ayahnya, yakni Zaid bin Haritsah.

Terhadap masalah ayah dan anak, kita mendapatkan gambaran yang kurang lebih sama yakni pada saat Fathu Makkah. Sa’ad bin Ubadah sebagai salah satu pemegang panji berkata bahwa “Hari ini adalah hari pembantaian. Hari ini Ka’bah akan dihalalkan”. Saat Abu Sufyan menyampaikan hal itu kepada rasulullah, maka beliau mengoreksi ucapan Sa’ad bin Ubadah serta mencabut panji yang dipegangnya, lalu diberikan kepada anaknya, yakni Qais bin Sa’ad. 

Namun berbeda halnya dengan Umar bin Khathab, beliau dikenal sangat anti nepotisme. Kala menjabat sebagai Amirul Mukmini, tidak ada anggota keluarganya yang diperkenankan untuk berbisnis. Jika ada anggota keluarganya yang melanggar ketentuan syariat, maka hukumannya digandakan. Terakhir, saat menunjuk 6 shahabat sebagai ahli syura, dia tidak mengikut sertakan Abdullah bin Umar sebagai anggotanya. Abdullah bin Umar hanya diperintahkan sebagai pencatat, namun tidak memiliki hak bicara dan  suara.

Kami menyampaikan hal ini agar kita bisa bersikap bijaksana ditengah realita politik yang kompleks. Menunjuk anak untuk meneruskan perjuangan orang tuanya, itu ada contohnya dari rasulullah. Memagari keluarga agar tidak terlibat dalam urusan bernegara, itu juga ada contohnya dari umar. Tinggal mana yang lebih maslahat untuk dipilih, tentu disesuaikan dengan konteks lokal. Mengingat dalam tradisi politik di Indonesia, tumbuh subur praktek KKN dan dinasti politik. Mulai dari Bani Soekarno, Bani Soeharto, Bani Gus Dur hingga Bani SBY. Jika kita telaah lebih lanjut ke daerah, maka jejaring hubungan kekeluargaan seperti ini akan semakin luas. Pandai - pandainya kita membaca situasi serta menimbang maslahat dan madharatnya.

Faktor Kondisi Mutakhir

Meski sudah ditetapkan oleh rasulullah serta melakukan mobilisasi awal, namun pasukan tersebut urung berangkat ke Syam. Karena tersiar kabar rasulullah wafat, terjadi perdebatan panjang di Saqifah, banyak suku yang murtad dll. Pendek kata, situasinya cukup mengkhawatirkan apabila pasukan tersebut tetap berangkat. Bisa jadi, Madinah akan diserang oleh suku dari luar. Jikapun tetap memberangkatkan, maka opsi mengemuka agar panglima perangnya diganti. Namun, Abu Bakar tetap bergeming sambil berkata kepada Umar “Rasulullah telah mengangkatnya. Apakah sekarang engkau akan menyuruhku untuk memecatnya?” 

Dengan ketegasan Abu Bakar ini, berangkatlah pasukan Usamah bin Zaid ke Syam. Mereka pulang dengan membawa kemenangan dan harta rampasan perang. Bukan cuma itu, suku - suku yang memberontak juga akhirnya tidak berani menyerang Madinah. Ekspedisi Usamah bin Zaid sendiri bukan dimaksudkan untuk mengusir Romawi dari Syam, tapi hanya melenyapkan gangguan mereka saja. Sedangkan pengusiran pasukan Romawi dari Syam terjadi pada perang Yarmuk, dibawah komando Khalid bin Walid, dimasa kepemimpinan Avu Bakar.

Faktor kondisi mutakhir sebenarnya layak dijadikan pertimbangan. Terutama pada detik - detik terakhir ditutupnya pendaftaran calon kepala daerah oleh KPUD. Detik demi detik, situasinya bisa sangat dinamis. Tiba - tiba ada calon baru yang muncul, ada isu dan berita yang dihembuskan, ada manuver dari personal maupun institusi. Boleh saja kita menyesuaikan diri dengan perkembangan mutakhir, namun jangan sampai membuat rencana yang disusun sekian lama jadi berantakan. Bahwa kita bergerak memang berdasarkan mekanisme dan prosedur yang baku, bukan digerakkan oleh isu dan manuver yang senantiasa berubah. Berpeganglah dengan wasiat dari Allah “Fa idza ‘azamta fatawakkal ‘alallah. Innallaaha yuhibbul mutawakkiliin”

]]>
http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2815/Seni-Memilih-Pemimpin-4
Seni Memilih Pemimpin #3 http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2812/Seni-Memilih-Pemimpin-3 Thu, 15 Sep 2016 14:53:42 +0700 Artikel Oleh Eko Jun   Siapakah pemimpin pilihan rasulullah (panglima perang, ketua regu, pemimpin rombongan, penguasa kota dll) yang pernah menimbulkan… Oleh Eko Jun

 

Siapakah pemimpin pilihan rasulullah (panglima perang, ketua regu, pemimpin rombongan, penguasa kota dll) yang pernah menimbulkan kontroversi? Mungkin seseorang yang tidak antum duga, yakni :

Ketiga, Ali bin Abu Thalib

Mengalir dalam diri Ali bin Abu Thalib darah pejuang dan pendekar sejati. Sejak kecil, beliau membeikan pembelaan kepada Muhammad, pamannya. Sepanjang kisah hidupnya, tidak pernah sekalipun kita.mendapati Ali bin Abu Thalib kalah berduel melawan jawara pihak musuh di medan laga. Sejak perang badar hingga perang shiffin. Tidak pernah beliau absen dalam setiap pertempuran, kecuali pada saat perang tabuk. 

Betul, kala itu rasulullah memerintahkan Ali bin Abu Thalib untuk “berdiam” di Madinah dan mengurusi kaum muslimin. Ali begitu kecewa dengan tugas ini, hingga beliau berkata “Ya rasulullah, mengapa engkau meninggalkanku disini bersama wanita dan anak - anak?”. Dengan bijaksana, rasulullah menjawab “Sesungguhnya kedudukanmu disisiku seperti Harun disamping Musa. Hanya saja tidak ada lagi nabi sesudahku”. Ada beberapa pelajaran berharga yang bisa kita renungkan, diantaranya :

Pertama, Unjuk Kontribusi

Perang tabuk dilakukan dalam situasi sulit. Suhu udara sangat panas, tanaman mulai berbuah, jaraknya sangat jauh dan situasi ekonomi sedang krisis. Karena itu, persiapan menjelang perang tabuk menjadi sarana unjuk kontribusi para shahabat. Mulai dari Utsman bin Affan yang menyumbang sangat besar, hingga para faqir miskin yang sampai menangis karena tidak memiliki sesuatu untuk disumbangkan.

Disini kita memahami betapa kecewanya Ali saat diperintahkan untuk tinggal di Madinah. Selama ini shahabat yang sering dipasrahi kota Madinah selama rasulullah berjihad adalah Abdullah bin Umi Maktum, yang usianya sudah tua dan matanya buta. Sedang Ali, bahkan dalam kondisi sakitpun tetap ikut maju berperang sebagaimana yang terjadi saat perang Khaibar. Semangatnya pasti menggebu - gebu untuk ikut berkontribusi dalam perang tabuk. Namun, dia memilih untuk taat dan menjalankan tugas dari baginda nabi.

Boleh jadi, kita memiliki banyak keunggulan dan ingin berkontribusi dalam arena pemilu dan pemilukada. Namun, qiyadah malah memutuskan untuk “menyimpan” potensi kita sehingga tidak ikut berlaga menjadi kandidat caleg atau kepala daerah. Tidak perlu kecewa, berkecil hati, ber-mufaraqah ria atau menghimpun kekuatan untuk melakukan bughat. Karena Ali bin Abu Thalib yang jauh lebih baik dari kita juga pernah mendapatkan tugas yang sama. Mari kita ucapkan kalimat yang bernada positif “Berjuanglah dengan optimal disana. Urusan disini, biar kami yang menangani”.

Kedua, Kiprah Penjaga Gawang

Dalam permainan sepakbola, bintangnya selalu striker. Mereka bisa berbuat banyak kesalahan, namun tetap dipuja. Lain dengan penjaga gawang, sekali berbuat kesalahan gawangnya bisa kebobolan. Ali diibaratkan sebagai nabi Harun disisi Musa. Maksudnya, Nabi Harun memang dipasrahi urusan Bani Israil kala Musa bermunajat dibukit Thursina selama 40 hari. Saat itu, ada Samiri yang menyesatkan Bani Israil dengan membuat patung lembu dari emas yang bisa bersuara. Karena tidak ingin kaumnya semakin terpecah, Nabi Harun tidak banyak bertindak untuk.mengatasi hal itu. Bisa dibilang, Nabi Harun kurang sukses melaksanakan amanah dari Nabi Musa.

Mungkin karena situasinya juga rumit, maka rasulullah lebih memilih Ali bin Abu Thalib ketimbang Abdullah bin Umi Maktum untuk menjadi penjaga gawang di Madinah. Saat itu pergerakan kaum munafik sudah sangat keras, mulai dari memprovokasi kaum muslimin untuk memboikot seruan jihad, membuat makar dirumah orang yahudi hingga mendirikan masjid dhirar. Sedangkan mobilisasi perang tabuk memberangkatkan lebih dari 30 ribu shahabat ahli jihad. Situasi kritis seperti ini jelas tidak bisa dipasrahkan pada Abdullah bin Umi Maktum. Dan ternyata, Ali bin Abu Thalib mampu menjaga Madinah dari makar kaum munafik sehingga suasananya tetap kondusif. Bisa dibilang, Ali bin Abu Thalib sukses melaksanakan amanah dari Nabi Muhammad saw.

Mungkin kita agak bingung juga, mengapa rasulullah sering memasrahkan urusan kota Madinah kepada Abdulah bin Umi Maktum. Bukankah dia itu sudah tua, renta dan buta? Bisa jadi karena situasi Madinah cukup aman, sehingga Abdullah bin Umi Maktum sekalipun bisa mengurusinya. Bisa jadi karena Abdullah bin Umi Maktum memiliki tempat istimewa dihati rasulullah sehingga diberi tugas itu. Harus kita pahami, semenjak turun surat ‘Abasa, rasulullah memang memperlakukan Abdullah bin Umi Maktum dengan sangat mulia. Namun yang pasti, situasi demikian tidak terjadi jelang perang tabuk. Sehingga Madinah dipasrahkan kepada prajurit pilihan dan panglima besar, bukan lagi kepada sosok yang tua dan lemah.

Jika dengan segala potensi besar yang kita miliki (kapasitas, integritas dan isi tas) ternyata kita hanya ditugasi qiyadah sebagai “penjaga gawang” dalam arena pemilukada, tidak usah berkecil hati. Disana juga banyak tugas mulia yang bisa dilakukan. Mulai dari upaya pelemahan, perang pemikiran hingga provokasi, baik dari pihak internal maupun eksternal. Mari kita ikuti kisah sukses Ali bin Abu Thalib menjaga Madinah. Sadarilah, tidak semua harus menjadi striker, tidak semua harus maju menjadi kandidat kepala daerah.

Demikian pula dengan posisi kita sebagai anggota jama’ah. Tidak perlu menambah kerumitan dengan menggalang kekuatan, baik untuk menentang keputusan qiyadah maupun memunculkan calon lain yang akan memecah kekuatan. Mungkin karena kita melihat banyak sosok seperti Ali bin Abu Thalib yang semestinya bisa berlaga tapi malah disimpan sebagai penjaga gawang. Ada banyak PR yang perlu dikerjakan, ada banyak tugas yang harus ditangani. Jika satu pos sudah ada prajurit yang ditugasi, mari beralih mencari pos lain yang masih kosong.

Ketiga, Rotasi Pemain

Agar bisa menjadi pemimpin yang baik, seorang bos harus berangkat dari bawah. Dia merasakan dan memahami dinamika kerja bawahannya. Sehingga saat berada dipuncak, dia sangat menguasai masalah, mampu memberikan arahan yang baik serta tidak bisa dibohongi dengan laporan Asal Bapak Senang (ABS). Karena itu, seorang prajurit yang dikaryakan dibanyak tempat pada dasarnya sedang dibina agar menguasai banyak masalah. 

Ali bin Abu Thalib jelas akrab dengan kuda dan pedang. Dengan tugas ini, mungkin Ali bin Abu Thalib juga tengah dibina agar memahami kondisi wanita, anak - anak, kaum mustadh’afin dan kaum munafik yang tengah ditinggal di Madinah. Sebagai bekal masa kepemimpinannya kelak yang penuh dengan fitnah, intrik dan gejolak. Sebagai sosok yang memimpin dimasa konflik, Ali bin Abu Thalib sebenarnya cukup berhasil. Dia berhasil menjaga keadilannya, berhasil merumuskan ilmu - ilmu baru dan bahkan hampir berhasil mengalahkan musuh. Andai bukan karena manuver kaum khawarij yang menentang peristiwa tahkim.

Boleh jadi, kita sering diberi tugas dari qiyadah yang kurang sesuai dengan bakat dan minat. Kita merasa kurang optimal, kurang nyaman, energi dan potensi kurang tersalurkan dll. Pahamilah, kadang itu terjadi juga karena kebutuhan dilapangan. Qiyadah pun tahu kita akan lebih optimal ditempat lain, tapi ada beberapa potensi kita yang sangat dibutuhkan diposisi itu dan tidak dimiliki oleh kader lainnya. Dalam situasi kritis, mau tidak mau prajurit hebat seperti Ali sekalipun akan ditugasi menjadi penjaga gawang, bukan striker. Mari kita nikmati peran itu sebagai sarana pembelajaran sekaligus terapi atas kejenuhan terhadap rutinitas yang monoton.

[Lanjut di Artikel Selanjutnya .. ] 

]]>
http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2812/Seni-Memilih-Pemimpin-3
Seni Memilih Pemimpin #2 http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2811/Seni-Memilih-Pemimpin-2 Tue, 13 Sep 2016 14:50:22 +0700 Artikel Oleh Eko Jun   Siapa lagi pemimpin pilihan rasulullah (panglima perang, ketua regu, pemimpin delegasi, pemegang urusan kota dll) yang sempat… Oleh Eko Jun

 

Siapa lagi pemimpin pilihan rasulullah (panglima perang, ketua regu, pemimpin delegasi, pemegang urusan kota dll) yang sempat memancing kontroversi dikalangan generasi shahabat?

Kedua, Amr Bin Ash

Sulit memungkiri bahwa Amr bin Ash ra memiliki kapasitas sebagai diplomat ulung dan ahli strategi yang jenius. Sejarah membuktikan kiprahnya, baik sebelum maupun sesudah masuk islam. Sebelum masuk islam, dia menjadi salah satu dari dua orang yang diutus suku Quraisy untuk membujuk Kaisar An Najasy agar mengembalikan (istilah sekarang, mendeportasi) pengikut Muhammad yang berhijrah (istilah sekarang, mencari perlindungan dan suaka politik) ke Habasyah. Posisi ini saja sudah menunjukkan siapa Amr bin Ash, karena utusan suatu kaum pastilah orang terpandang, terpercaya sekaligus ahli strategi dan negosiator hebat yang dimiliki oleh kaum tersebut.

Setelah masuk Islam, dia juga membuktikan kapasitasnya. Dibawah komandonya, Mesir berhasil ditaklukkan di era kepemimpinan Amirul Mukminin Umar bin Khathab ra. Dia sekaligus diangkat menjadi gubernur Mesir oleh Umar. Pada peristiwa perang Shiffin, dia pula yang mengusulkan agar pasukan Mu’awiyah mengangkat Al Qur’an dengan tombaknya, sebagai seruan untuk bertahkim. Sehingga pasukan Ali yang sudah diatas angin akhirnya goncang dan terpecah. Selanjutnya, kita sudah sama - sama tahu bagaimana ceritanya.

Meski rekam jejak kurang bersahabat terhadap dakwah islam, namun rasulullah tetap mengakui bakat dan kapasitasnya. Meski belum lama masuk islam, rasulullah malah memberinya tugas sebagai ketua regu dalam ekspedisi militer ke Dzatus Salasil. Padahal didalam pasukan yang dipimpinnya itu, ada sosok yang sangat utama yakni Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar dan Umar sendiri pernah diposisikan sebagai komandan dalam ekspedisi militer sebelumnya. 

Sudah mulai terbayang situasinya kan? Ada jendral senior yang menjadi prajurit biasa, sedang pemimpinnya adalah kopral kemarin sore dengan rekam jejak yang unfriendly. Jika kondisi yang sama terjadi dimasa sekarang (meski dengan konteks yang berbeda), kira - kira gejolak seperti apa yang ditimbulkannya?

Sudah begitu, Amr bin Ash juga melakukan ijtihad yang agak nyleneh, baik untuk urusan pribadi maupun pasukannya. Kala itu udaranya sangat dingin, namun Amr bin Ash malah memerintahkan pasukannya agar mematikan api yang digunakan untuk menghangatkan badan. Spontan Umar mengadukan hal itu kepada Abu Bakar, namun ditenangkan dan diingatkan bahwa “Rasulullah memerintahkan kita taat kepada Amr bin Ash yang diangkat sebagai komandan”. Saat dikonfirmasi, Amr bin Ash menjelaskan bahwa ia takut pergerakan pasukannya terdeteksi oleh musuh jika mereka menyalakan api.

Lalu pada saat tim ekspedisi militer dalam perjalanan kembali ke Madinah, rupanya Amr bin Ash mimpi basah. Namun dia mencukupkan diri dengan bertayamum dan tidak mandi junub, dengan alasan udara yang sangat dingin. Dia segera masuk ke barisan untuk melaksanakan shalat berjama’ah. Harus kita pahami bahwa semangat religiusitas para shahabat itu sangat tinggi. Melihat ijtihad pribadi yang aneh dari komandan perang yang belum lama masuk islam, tentu saja menyulut kegoncangan. Meski demikian, ternyata rasulullah menerima ijtihad pribadinya Amr bin Ash.

Pelajarannya cukup berat untuk kita renungkan. Mungkin ada ketua yang usianya masih muda, ilmunya tidak seberapa, lalu membuat keputusan dan kebijakan yang runyam, baik dalam urusan pribadi maupun jama’ahnya. Termasuk keputusan dalam urusan berkoalisi dengan partai mana atau mendukung kandidat tertentu dalam ajang perhelatan pemilukada. Apa yang akan kita lakukan? Apakah akan tetap sam’an wa tha’atan atau malah ber-mufaraqah ria secara berjama’ah?

Melihat kasus yang ada, pilihan untuk taat kepada pemimpin tetap menjadi pilihan yang terbaik, lepas dari hasilnya kalah atau menang. Kesatuan dan soliditas jama’ah tetap menjadi barang mahal yang akan diperhitungkan oleh kawan dan lawan (baca, mitra koalisi dan lawan politik), baik dimasa sekarang maupun mendatang. Sedikit riak tentu saja ditoleransi sebagai bagian dari dinamika berjama’ah, namun jangan sampai kita menjadi orang yang membuka pintu fitnah dan perpecahan ditengah situasi kritis. 

Belajarlah kepada Abu Bakar yang memilih untuk taat meski kedudukan dan keutamaannya jauh melebihi komandan yang memimpinnya saat itu. Belajarlah krpada Umar yang memilih untuk menghentikan gejolak pribadinya, meski kapasitas ijtihadnya jauh diatas ketua regunya. Mari kita belajar kepada mereka, generasi terbaik yang telah dipilih Allah untuk menemani rasulullah berdakwah dan berjuang menegakkan islam.

[Lanjut di Artikel Selanjutnya .. ] 

]]>
http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2811/Seni-Memilih-Pemimpin-2
Seni Memilih Pemimpin #1 http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2796/Seni-Memilih-Pemimpin-1 Sun, 11 Sep 2016 09:35:43 +0700 Artikel Oleh Eko Jun Hari – hari ini adalah masa kritis, dimana DPP Partai Politik akan mengeluarkan rekomendasi kepada para kandidat yang akan maju… Oleh Eko Jun

Hari – hari ini adalah masa kritis, dimana DPP Partai Politik akan mengeluarkan rekomendasi kepada para kandidat yang akan maju berlaga di ajang Pemilukada 2017. Ada rekomendasi yang disambut dengan positif dan penuh optimisme, adapula yang direspon dengan negatif dan aura pesimisme.

Kali ini, mari sejenak kita membuka lembaran sirah nabawiyah. Bahwa nabi memiliki otoritas mutlak (istilah sekarang, hak prerogatif) untuk menentukan siapa yang akan diangkat menjadi pemimpin (panglima perang, pemimpin rombongan, ketua delegasi, penguasa kota dll), semua shahabat sudah memahaminya. Namun pada beberapa kasus, pilihan nabi juga mengundang kontroversi dikalangan shahabat.

Jika pilihan itu jatuh kepada sosok yang memiliki keutamaan, tentu para shahabat akan bulat menerimanya. Sebagaimana pilihan Nabi kepada Ali bin Abu Thalib ra pada saat perang Khaibar. Paling banter, para shahabat sedikit merasa iri dalam hatinya (dalam konteks yang baik), mengapa bukan dirinya yang jadi pilihan nabi. Namun ternyata, memang ada beberapa pilihan nabi memang sedikit memancing kontroversi. Diantaranya :

Pertama, Khalid bin Walid

Khalid bin Walid memiliki masa lalu sebagai musuh Islam. Dialah yang secara langsung membuat pasukan Islam kocar kacir di medan Uhud. Yakni saat melancarkan serangan untuk menguasai bukit yang ditinggalkan pasukan pemanah. Namun, hidayah menyapa dan Khalid bin Walid pun masuk islam.

Kepemimpinannya mulai bersinar pada perang Mu’tah, yakni saat ketiga jendral yang mendapatkan mandat dari rasulullah mati syahid. Setelah itu, rasulullah mulai memberi kepercayaan kepadanya untuk menjabat sebagai panglima perang. Ternyata, Khalid bin Walid bertindak melebihi batas, yakni saat dia tetap menebas musuh padahal sudah mengucapkan kalimat syahadat. Rasulullah pun mengumumkan pengingkaran secara terbuka atas tindakan Khalid tersebut.

Buntut peristiwa itu berlanjut, dimana Khalid bin Walid akhirnya berselisih dengan Abdurrahman bin ‘Auf. Padahal Abdurrahman bin ‘Auf adalah shahabat senior yang memiliki banyak keutamaan, termasuk golongan assabiqunal awwalun dan kelak akan ditetapkan oleh Umar menjadi anggota ahli syura. Hingga akhirnya, nabi menasehat Khalid agar tidak mencela Abdurrahman bin ‘Auf, “Laa tasubbuu ahadan min ashaabii, Fainna ahadukum lau anfaqa mitsla uhudin dzahabaa, maa adraka mudda ahadihim, walaa nashiifah”.

Dengan catatan kelamnya dimasa lalu saat masih jahiliyah serta kontroversi yang dibuatnya setelah masuk Islam, ternyata rasulullah masih memberikan kepercayaan sebagai panglima. Pada saat mobilisasi pasukan beikutnya, jabatan sebagai panglima perang kembali dipercayakan kepada Khalid bin Walid. Dan sinar kebintangannya pun semakin lama semakin terang, hingga akhirnya dia dijuluki sebagai “Saifullah Al Maslul”.

Diantara pelajaran penting bagi kita adalah pemahaman bahwa untuk menjadi baik, seseorang perlu berproses. Kesalahan atau bahkan permusuhan dimasa lalu harus dikubur demi kepentingan yang lebih besar. Lapang dada dan husnudzan harus kita kedepankan ketimbang ego dan dendam pribadi. 

Kita tentu mengharapkan datangnya The White Knight yang masa lalunya bersih, namun bukan berarti kita menolak The Dark Knight. Hormati dan dukunglah keinginannya untuk menjadi orang baik serta rasakan perjuangannya yang berat saat memutuskan untuk berhijrah, minal jahiliyah ilal islam, minal ma’shiyyah ilath tha’at.

Apakah mereka akan cepat berubah atau malah lambat beradaptasi, bergantung bagaimana cara kita merespon dan menciptakan pengkondisian. Jika terapinya tepat dan dosisnya pas, sangat mungkin akan menjadi vitamin dosis tinggi baginya untuk meraih prestasi puncak dimasa depan. Sebagaimana halnya dengan kasus yang terjadi pada Khalid bin Walid.

[Lanjut di Artikel Selanjutnya .. ] 

]]>
http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2796/Seni-Memilih-Pemimpin-1
Tadzkiroh Hari Arafah http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2792/Tadzkiroh-Hari-Arafah Sun, 11 Sep 2016 08:02:00 +0700 Artikel Oleh KH Musyaffa Ahmad Rahim LcHari ini adalah hari Arafah, Arafah 9 Dzul Hijjah 1437 H Apa yang hendak kita lakukan pada hari ini?   Untuk diingat… Oleh KH Musyaffa Ahmad Rahim Lc

Hari ini adalah hari Arafah, Arafah 9 Dzul Hijjah 1437 H

Apa yang hendak kita lakukan pada hari ini?

 

Untuk diingat …

Malam yang dikenal dengan Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, tidaklah kita ketahui kapan persisnya terjadi..

Berbeda dengan hari Arafah. Kita telah mengetahui jauh hari sebelumnya: kapan persisnya. Jika pada Lailatul Qadar yang turun adalah para malaikat. Maka ketahuilah bahwa pada hari Arafah Allah SWT lah yang akan turun.

Saking mulianya hari Arafah ini, para salaf menabung seluruh keperluan (hajat) khas mereka, juga keperluan (hajat) umat secara umum, ditabung untuk dibuka pada hari Arafah ini. Yang demikian ini mereka lakukan, mengingat betapa besar nan agung kemurahan Allah SWT pada hari Arafah ini.

Juga, betapa Allah SWT akan meng-ijabah segala macam do’a yang dipanjatkan oleh para hamba-Nya pada hari Arafah ini. Betapa banyaknya keinginan dan cita-cita aka terwujud pada hari Arafah ini!

Betapa banyaknya harapan akan terwujud pada hari Arafah ini!

Betapa banyaknya do’a akan terkabul pada hari Arafah yang penuh berkah ini.


Oleh karena itu …

Jika memungkinkan bagimu untuk berkhalwat, menyendiri, minimal pada sore hari Arafah. Dengan berdzikir, berdo’a, beristighfar dan membaca Al-Qur’an. Maka lakukanlah.

Minimal pada sore hari Arafah, mulai dari selesai shalat Ashar, sampai maghrib. Dorong dan ajak orang-orang di sekelilingmu untuk melakukannya.

Jangan lupa pula untuk berpuasa di hari Arafah ini, sebab Rasulullah SAW bersabda:

«... صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ ...» (رواه مسلم [1162]).

Berpuasa pada hari Arafah, saya mempunyai dugaan (keyakinan) kepada Allah SWT bahwa ia menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang. (HR Muslim [1162]).

Rasulullah SAW juga bersabda:

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبْلِيْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ (رواه الترمذي [3585]، وحسنه الألباني)

Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah, dan sebaik-baik ucapkan yang aku dan para nabi sebelumku lakukan adalah ucapan: La ilaha illaLlah, wahdahu la syarika lah, lahul mulku, walahul hamdu, wahuwa ‘ala kulli syai-in qadir (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Dia Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya lah seluruh kerajaan, dan milik-Nya lah seluruh pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu). (HR At-Tirmidzi [3585] dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

Terkait dengan terkabulnya do’a pada hari Arafah, seorang shalih berkata: “demi Allah, aku tidak berdo’a dengan suatu do’a pada hari Arafah, dan belum sampai genap satu tahun, kecuali apa yang aku pinta telah aku saksikan sebagai kenyataan seterang terbitnya fajar. Oleh karena itu, perbaiki lah do’a untuk diri kalian, orang tua kalian, istri (suami) kalian, anak-anak kalian dan kerabat kalian.

Jangan lupa juga do’a untuk saudara-saudara kalian yang sedang berjihad untuk mendapatkan hak-hak mereka, di Palestina, di Syuria dan di belahan bumi lainnya. Beri hak do’a kalian untuk kaum yang tertindas dan lemah, dari seluruh dunia Islam. Jangan pula lupakan kaum muslimin yang tertekan, terintimidasi, terkerangkeng dalam jeruji tahanan orang-orang zhalim. 

Siapa tahu, do’a dari seorang waliyullah (dan antum lah yang dimaksud), baik lelaki ataupun perempuan, do’a itulah yang akan mengubah sejarah umat Islam dengan kemenangan, kegembiraan, rasa aman dan tamkin … dengan seijin Allah SWT. Berdo’alah dengan penuh kekhusyu’an dan keyakinan (kemantapan) yang sempurna kepada Allah SWT bahwa akan diijabah.

Dan akan semakin kuat lagi peluang terkabulnya jika do’a itu didahului oleh sedekah dan infak fi sabilillah serta berbagai amal shalih lainnya.

Dan orang yang benar-benar merugi, adalah mereka yang pada hari Arafah ini tidak mendapatkan apa-apa dikarenakan kelalaiannya.

Imam Al-Ghazali berkata: “Sesungguhnya, jika Allah SWT mencintai seseorang, maka Allah SWT akan mempergunakannya di waktu-waktu fadhilah (utama) dengan amal-amal yang fadhilah (utama) pula, dan pertanda bahwa seseorang tidak disukai Allah SWT adalah bahwa orang itu mengisi waktu-waktu utama dengan amal-amal yang buruk!!”. (Ihya’ Ulumiddin [1/188]).

Semoga Allah SWT senantiasa berikan kepada kita kekuatan, taufik dan hidayah untuk mengisi waktu-waktu utama dengan amal terbaik, serta menjauhkan kita dari perbuatan buruk, amin.

]]>
http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2792/Tadzkiroh-Hari-Arafah
Adab - Adab Hari Raya [Risalah Farid Nuâman Hasan] http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2791/Adab-Adab-Hari-Raya-Risalah-Farid-Numan-Hasan Sat, 10 Sep 2016 10:54:32 +0700 Artikel Risalah ini merupakan ringkasan dari risalah yang disusun oleh Ustadz Farid Nu’man Hasan mengenai Adab dan Sunnah Berhari Raya. Berhari raya… Risalah ini merupakan ringkasan dari risalah yang disusun oleh Ustadz Farid Nu’man Hasan mengenai Adab dan Sunnah Berhari Raya.

Berhari raya bagi seorang muslim bukan sekedar berbahagia dan bersenang-senang. Tetapi, justru momen untuk semakin menguatkan hubungan dengan Allah Ta’ala, namun sayangnya hal ini sudah banyak dilupakan banyak umat Islam. Mereka lebih fokus pada simbolitas semata, seperti berbaju baru, makan-makan, dan  menghabiskan uang.

Oleh karenanya, ada baiknya kita mengetahui adab-adab apa saja yang mesti kita lakukan ketika berhari raya, yang dengannya berhari raya menjadi bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala.

Adab-adab Hari Raya

1. Mandi Sebelum Shalat ‘Id

Ibnul Qayyim dalam Za’dul Maad mengatakan, Nabi mandi pada dua hari raya, telah terdapat hadits shahih tentang itu, dan ada pula dua hadits dhaif: pertama, hadits Ibnu Abbas, dari riwayat Jabarah Mughallis, dan hadits Al Fakih bin Sa’ad, dari riwayat Yusuf bin Khalid As Samtiy. Tetapi telah shahih dari Ibnu Umar –yang memiliki sikap begitu keras mengikuti sunnah- bahwa beliau mandi pada hari  raya sebelum keluar rumah.

2. Memakai Pakaian Terbaik dan Minyak Wangi

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, bahwa: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kami pada dua hari raya untuk memakai pakaian terbaik yang kami punya, dan memakai wangi-wangian yang terbaik yang  kami punya, dan berkurban dengan hewan yang paling mahal yang kami punya. (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak, hasan)

Nafi’ menceritakan tentang Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu saat hari raya: “Beliau shalat subuh berjamaah bersama imam,  lalu dia pulang untuk mandi sebagaimana mandi janabah, lalu dia berpakaian yang terbaik, dan memakai wangi-wangian yang terbaik yang dia miliki, lalu dia keluar menuju lapangan tempat shalat lalu duduk sampai datangnya imam, lalu ketika imam datang dia shalat bersamanya, setelah itu dia menuju masjid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan shalat dua rakaat, lalu pulang ke rumahnya.”

3. Tidak Makan Dulu Sebelum Shalat Idul Adh-ha dan Makan Dulu Sebelum Shalat ‘Idul Fitri, 

“Pada saat Idul Fitri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah berangkat untuk shalat sebelum makan beberapa kurma.” Murajja bin Raja berkata, berkata kepadaku ‘Ubaidullah, katanya: berkata kepadaku Anas, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Beliau memakannya berjumlah ganjil.” (HR. Bukhari No. 953)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah, mengutip dari Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah, mengatakan, “Kami tidak ketahui adanya perselisihan pendapat tentang sunahnya  mendahulukan makan pada hari ‘Idul Fithri.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah keluar pada hari Idul Fitri sampai dia makan dulu, dan janganlah makan ketika hari Idul Adha sampai dia shalat dulu.” (HR. At Tirmidzi No. 542, Ibnu Majah No. 1756, Ibnu Hibban No. 2812, Ahmad No. 22984, shahih)

4. Melaksanakan Shalat ‘Id di Lapangan

Shalat hari raya di lapangan adalah sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena Beliau tidak pernah shalat Id, kecuali di lapangan (mushalla). Namun, jika ada halangan seperti hujan, lapangan yang berlumpur atau becek, tidak mengapa dilakukan di dalam masjid. Dikecualikan bagi penduduk Mekkah, shalat ‘Id di Masjidil Haram adalah lebih utama.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata, “Shalat Id boleh dilakukan di dalam masjid, tetapi melakukannya di mushalla (lapangan) yang berada di luar adalah lebih utama, hal ini selama tidak ada ‘udzur seperti hujan dan semisalnya, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat dua hari raya di lapangan, tidak pernah Beliau shalat di masjidnya kecuali sekali karena adanya hujan.”

Dari Abu Hurairah, “Bahwasanya mereka ditimpa hujan pada hari raya, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat ‘Id bersama mereka di masjid. (HR. Abu Daud)

5. Dianjurkan Kaum Wanita dan Anak-anak Hadir di Lapangan

Mereka dianjurkan untuk keluar karena memang ini adalah hari raya mesti disambut dengan suka cita.  Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan: “Dianjurkan keluarnya anak-anak dan kaum wanita pada dua hari raya menuju lapangan, tanpa ada perbedaan, baik itu gadis, dewasa, pemudi, tua renta, dan juga wnaita haid.”

Ummu ‘Athiyah Radhiallahu ‘Anha berkata: “Kami diperintahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengeluarkan anak-anak gadis, wanita haid, wanita yang dipingit, pada hari Idul Fitri dan idul Adha. Ada pun wanita haid, mereka terpisah dari tempat shalat. Agar mereka bisa menghadiri kebaikan dan doa kaum muslimin. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, salah seorang kami tidak memiliki jilbab.” Beliau menajwab: “Hendaknya saudarinya memakaikan jilbabnya untuknya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dan ini lafaznya Imam Muslim)

]]>
http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2791/Adab-Adab-Hari-Raya-Risalah-Farid-Numan-Hasan
Irwan Prayitno: Arifinto, Disangsi, Dia Ikhlas dan Tetap Aktif Membantu http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2789/Irwan-Prayitno-Arifinto-Disangsi-Dia-Ikhlas-dan-Tetap-Aktif-Membantu Sat, 10 Sep 2016 10:04:09 +0700 Artikel Oleh Irwan Prayitno ... اÙÙÙا ÙÙÙÙÙÙ ÙÙاÙÙÙا… Oleh Irwan Prayitno

... اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ.. آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن

Saya merasakan duka mendalam. Tak terasa barusan turun dari pesawat menetes airmata ketika membuka grup ini. Beruntun pesan masuk Innalillahi......

Betapa tidak....Arifinto yang semenjak dulu,  jamaah hanya 10 orang, saya pun sudah bersamanya. 

Begitu banyak kenangan suka duka dakwah khususnya untuk Sumbar. Bahkan dengan mobil pribadi beliau dalam perjalanan dakwah di tahun 90an mengalami kecelakaan di Sungai Dareh Darmasraya. Mobilnya hancur tak terpakai lagi. Kecelakaan di subuh hari itu ada Ust Yasin dan Muzamil. Semuanya masuk rumah sakit.

Pengorbanan beliau subhanallah... tak bisa dihitung apalagi dibanding kader saat ini (maaf). Beliau berdakwah dengan uang sendiri walau hidupnya pun susah. Apalagi di tahun 90an tsb, belum ada ikhwah yg jadi anggota dewan, kepala daerah dan pejabat publik.

Banyak lagi kenangan dakwah beliau di Sumbar. Karena beliau orang Baso Agam yang juga selalu pulang kampung untuk dakwah.

Secara pribadi, semua buku2 saya.... dialah yang mencetak. Di saat awal usaha percetakan, saya pula yang belikan mesin percetakan dan sudah diikhkaskan.

Arifinto termasuk kader dakwah yang jarang ditemui saat ini. Diberi sangsi oleh Jamaahpun, dia terima dengan ikhlas dan tetap aktif membantu Jamaah. Hal ini mengingatkan sahabat Nabi di perang Tabuk yang kemudian menerima sangsi karena tidak ikutnya perang Tabuk.

Banyak suka duka dakwah selama puluhan tahun lamanya. Tak mungkin digoreskan dalam kata2. Ikhwah di Sumbar pastilah punya pengalaman2 tersendiri. 

Semasa dakwah ini menjadi partai, Arifinto yang sering dipanggil 'papi' adalah anggota 'permanen' di MPP. Belasan tahun bersama saya di MPP. Orang yang selalu jadi rujukan bahkan jadi kamus berjalan terhadap persoalan AD ART partai dan jamaah. Memang luar biasa menguasainya. Rasanya kader lain tak hafal satu persatu ayat dan pasal di AD ART kecuali beliau.

Mari kita contoh keikhlasan beliau berdakwah yang mana sepanjang hidupnya, baik pikiran, perasaan dan waktunya untuk dakwah. 

Saat ini beliau sudah pergi, orang yang selalu memanggil nama saya dengan panggilan 'da Ir' dimanapun berada. Panggilan ini adalah panggilan mesra istri saya. Tapi itulah wujud keakraban beliau dengan saya.

 

Berduka Kembali

Hertanto.... ya Allah ... ternyata juga sudah dipanggil Allah. Hertanto ini binaan saya langsung dan juga saya yang menyalaminya ke dalam jamaah. Saya pula dengan istri  yang menjodohkan. Dulu, memang muntarobi yg minta nikah, lapor saja dan dijodohkan dengan binaan istri. Beliau ikhlas berdakwah melalui kafaahnya yaitu ekonomi. Jatuh bangun dan dialah kader yang mengawali dakwah ekonomi di kalangan ikhwah.

Penyakit yang dideritanya tahunan inilah yang kemudian dipanggil Allah.

Dua sahabat saya sudah pergi menemui Allah. Semoga mereka berdua dimasukkan dalam surgaNya. Amin...

Kita yang ditinggalnya. Mari terus tingkatkan dakwah kita sesibuk apapun sebagai persiapan menuju kehidupan akhirat.

]]>
http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2789/Irwan-Prayitno-Arifinto-Disangsi-Dia-Ikhlas-dan-Tetap-Aktif-Membantu
Sarana Pendidikan Yang Tak Tergantikan http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2780/Sarana-Pendidikan-Yang-Tak-Tergantikan Mon, 05 Sep 2016 07:29:51 +0700 Artikel Oleh Sholkhin Abu Izzuddin   Mengenangkan nasib perjuangan Sahabat dan saudara seiman Kami meninggalkan kemewahan Kami pergi untuk berjuang BEKAL… Oleh Sholkhin Abu Izzuddin

 

Mengenangkan nasib perjuangan

Sahabat dan saudara seiman

Kami meninggalkan kemewahan

Kami pergi untuk berjuang

BEKAL TAQWA DAN NASI SAMBEL TERI

Bismillah. Berbekal taqwa dan nasi sambel teri kami mulai perjalanan ini. Perjalanan untuk melakoni saran tarbiyah yang tidak tergantikan: mukhoyam. Kami meninggalkan kemewahan. Kami letakkan semua atribut yang melekat sebagai guru, ustadz, pejabat publik, wakil rakyat, motivator, professional, dokter spesialis, hingga tukang serba bisa untuk menyahut panggilan iman sebagai relawan. Rela kami tinggalkan seluruh kesibukan lain yang melekat sehari-hari sebagai apapun untuk berbaris dalam peluit gerak dan menyambut sirine darurat yang meraung-raung. Kami relakan semua kenikmatan mewah fasilitas sehari-hari demi mendidik kebersihan hati dengan kebeningan ukhuwah, mencerdaskan pemikiran dengan wawasan kebangsaan nasional bahkan konstelasi kehidupan dan melatih kepedulian empati dengan keberanian meminimalkan sarapan sebutir telur, memasak bersama beras dan mie instan, serta menyeruput air alami tanpa takut kesakitan apalagi kematian karena yakin Allah yang menjadi tujuan.

Saudaraku, Kemah Bakti Nusantara (KBN) sebagai penyelaras istilah mukhoyam yang lebih membumi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai menjadi medan perjuangan yang meletihkan kesabaran dengan kenikmatan iman. Kemah adalah berkumpulnya sekian banyak hati, jiwa, dan raga dalam satu nafas kepedulian berkhidmat untuk rakyat. Kemah bakti bukan sekadar kemah tawa haha-hihi yang menghabiskan energi namun sebuah jalan bagi kesiapan diri membantu negeri dari berbagai bencana yang melanda.

Kami pergi untuk berjuang dan  kami belajar di tengah keterbatasan kami sematkan semangat juang di tengah egoisme kehidupan yang makin tak tertahankan. Tertatih dengan kaki pincang saudara kami berangkat dari Banyumas sendirian demia mengikuti sebuah kebersamaan iman. Perjalanan ini sekaligus mengingatkan pada semangat sahabat Amru bin Jamuh radhiyallahu ‘anhu yang cacat kakinya namun ingin benar-benar menginjakkannya di surga yang dirindukan. Berjalan di malam gelap naik ojek dari Magelang ke lokasi perkemahan di Bumi Sobleman menyusuri peta jalan terasa sekali ruh perjuangan para pahlawan negeri ini dalam membebaskan diri dari penjajahan. “Sebelum engkau menaklukkan gunung yang tinggi, taklukkan terlebih dahulu dirimu sendiri.” Begitu nasihat buat para pendaki agar selalu bersandar kepada Allah Rabbul ‘Izzati.

Dari arah timur kami susuri medan “pra-perkemahan” di rute Boyolali-Selo-Ketep-Sobleman berpacu langkah dan bersimpangan arah penuh deg-degan yang menghilangkan kantuk di jalan. Sebuah latihan mental tersendiri karena perjalanan ini disopiri seorang wakil bupati dengan penuh keberanian iman untuk menepatkan waktu kehadiran meski bukan predikat hadiah dan keteladanan yang kami perebutkan, namun sebuah bakti dari janji-janji yang kami ucapkan.

Subuh menjelang, di masjid terdekat dari “home stay full air conditioner alami” yang tak bisa diturunkan suhunya kecuali dengan sarung berukut atau sleeping bag yang rapat, karena udara yang masuk melalui atap seng yang terlepas mengkap-mengkap. Kami melangkah ke masjid dari kamar yang melimpah air tanpa cahaya lampu kecuali senter yang dibawa. Subuh yang menggetarkan dan terasa nikmat.

Usai subuh kami sarapan dengan bawaan nasi sambel teri dan telur rebus sekadarnya namun terasa nikmat sebab nasi ini sebagai bekal penuh kerelaan disamping bekal taqwa yang kami usahakan semampunya. Alhamdulillah bawaan nasi sebagai solusi bahwa relawan harus siaga setia bakti bukan mengharap bekal makanan dari panitia namun benar-benar mempersiapkan diri dengan apa yang akan terjadi. Kenyataan di lapangan “sarapan pagi” yang disediakan hanyalah sebutir telur rebus antara dhuha dan dhuhur, bukan nasi padang atau sego pecel plus lauk telur dadar apalagi hidangan full gizi yang dinanti. Prinsip relawan pertama: mandiri mengantisipasi apapun yang terjadi.

TAKBIR KEMERDEKAAN

Dengarlah ayah dengarlah ibu

Relakan kami pergi berjuang

Di bawah naungan panji Islam

Hingga dinul Islam cemerlang

Usai upacara pembukaan resmi yang tidak dimulai dengan acara sarapan kecuali bekal makanan yang dibawa secara mandiri, kami digembleng Wawasan Kebangsaan, Patriotisme dan Bela Negara oleh Bapak Mudjtahidin Danramil Kecamatan Sawangan. Sebuah gemblengan yang benar-benar penting untuk mengembalikan makna perjuangan dan kemerdekaan agar jiwa-jiwa relawan tak kenal menyerah sebelum mencetak. Ada tiga pesan penting beliau untuk membentuk jiwa relawan: pertama, jangan mengeluh apapun yang terjadi; kedua, jangan ada pengkhianatan di antara kita; ketika, NKRI Harga Mati.

Beliau dengan semangat membara juga menyampaikan tiga Jimat Jenderal Soediraman dalam setiap perjuangannya yakni menjaga niat ikhlas, selalu menjaga wudhu, dan senantiasa menjaga shalat tepat waktu. Pesan guru bangsa dan jenderal fenomemal ini mengingatkan kita pada sosok Bilal bin Rabah yang takbir adzannya menggema, sandal terompahnya sudah terdengan di surge, dan kedisiplinannya diakui Umar bin Khatthab sehinga diangkat sebagai “Pemimpin Kita.” Jimat Jenderal Soedirman ini memaduka makna takbir kemerdekaan dalam perjuangan membebaskan dari penjajahan dan mengisi kemerdekaan dengan amal unggulan. Tiga pekikan takbir kemenangan dan satu pekikan takbir merdeka. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Merdeka!

Setelah berbekal semangat juang dan wawasan kebangsaan yang membakar jiwa-jiwa relawan usia di atas empat puluh tahun,kami digembleng dengan patriotisme baris berbaris dari Rombongan Instruktur Polsek Sawangan agar membentuk pasukan relawan yang bershaf-shaf rapi bagaikan bangunan yang tersusun secara kokoh.

Filosofi barisan sesungguhnya adalah siap-siaga, berhitung mulai sebagai upaya muhasabah menghitung diri apa yang sudah kita perbuat untuk negeri ini dan Islam yang kita cintai. “Tanyakan apa yang sudah kau berikan untuk bangsa ini bukan bertanya tentang apa yang sudah bangsamu berikan padamu.” Dalam Islam ada nasihat “hidup-hidupilah dakwah Islam bukan mencari hidup dari dakwah Islam.”

Berikutnya maju jalan “mujahadah” penuh kesungguhan dalam setiap medan perjuangan dengan spirit kemah super. Surgakan peranmu sebagai apapun. Surgakan perkataanmu untuk memotivasi dan meraih ridha ilahi. Surgakan perasaanmu tanpa ada keluhan dalam pedih perihnya perjuangan. Surgakan perhatianmu dengan ukhuwah sepenuh hati memberikan yang terbaik alias itsar mendahulukan kepentingan sesama.

Langkah ketiga adalah istirahat di tempat, alias istirahat di surga Insya Allah.Inilah spirit agar husnul khatimah Happy Ending full baROkah atau HERO agar setiap relawan dimanapun ditempatkan menyiapkan amal unggulannya masing-masing karena itulah surga di dunia penuh bahagia untuk meraih surga abadi sejati yang dinanti.

BUGAR UNTUK KARYA BESAR

Jangan kembali pulang

Sebelum kita menang

Walau mayat terkapar di medan juang

Itulah mujahid berjuang

 

Jika spirit juang sudah digembleng, kekokohan barisan sudah dilatihkan, maka kebugaran jiwa raga digerakkan dengan senam PKS Nusantara. Dari Lereng Merbabu di Lembah Sobleman Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang, 248 relawan dipandu gerak harmoni oleh Cak Narto dan Mas Teguh agar terbangun fisik yang bugar demi menghasilkan karya yang besar. Gerak senam ceria bercita rasa nusantara benar-benar melenturkan fisik-fisik sepuh yang awalnya kaki dan mudah linu menjadi segar bugar bersemangat muda belia layaknya anak SMA yang lagi Baper dan Caper.

Olahraga sebagai kebutuhan untuk menjadi “Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.” Benar-benar terasa bahwa kebugaran sangat dibutuhkan oleh para relawan disamping sebagai hiburan inspiratif maupun gerak memotivasi kesadaran bahwa sehat itu mahal dan tidak sehat jauh lebih mahal. Karena sudah tua-tua, maka para relawan ini bergerak sekenanya tidak harus sama persis namun yang penting semangatnya. Itulah makna “hikmatusy syuyukh wa hamasatusy syabab” sikap bijak para sesepuh dalam semangat membara para muda.

Senam PKS Nusantara ini begitu besar manfaatnya bagi perjalanan relawan agar tidak mudah patah dan menyerah di setiap langkah. Usia bukan lagi halangan dalam perjuangan, karena Mbah Hadi Sastro berusia 63 tahun ternyata tak kalah semangat dengan para muda belia. Ini mengingatkan kita pada Abu Hurairah sang ahlus sufah yang masuk Islam di usia 60 tahun dan meriwayatkan 5374 hadits.  

Perjuangan memerlukan kemandirian tanpa membebani orang lain dan kebersamaan untuk mencapai tujuan perjuangan diantaranya dengan masak-memasak dengan alat dan bahan seadanya namun mencukupi semua anggota. Inilah pendidikan perkemahan yang tidak tergantikan berupa membumikan nilai-nilai ukhuwah secara nyata serta meraup maknah keberkahan dalam kebersamaan berjamaah. Beras yang sedikit dengan empat mie instan, 4 butir telur, dan empat lembar ikan asin ternyata bisa dimasak dan mencukupi kebutuhan satu regu yang berjumlah 11 orang. Bukan soal banyak sedikitnya makanan namun keberkahan.

Dimulai dengan pembagian peran untuk menuntaskan tugas sehingga siaga setia bakti benar-benar terwujud di sini. Ketua regu sang tukang serba bisa memimpin team. Motivator membagi peran dan menyalakan kompor kehiduan. Seorang dokter spesialis avasin menanak nasi, anggota dewan memasak mie instan, para pengusaha dan professional menyediakan berbagai sarana yang diperlukan. Setelah siap dan matang disantap nikmat dengan lauk tawadhuk dan bumbu keikhlasan. Akhirnya sang ustadz al-hafidz menyediakan diri menjadi juru bersih perangkat masak sehingga semua kembali kembali bersih dan tertata rapi.

Terimakasih Ya Allah, Engkau anugerahkan jiwa-jiwa Rabbani yang berhati bersih untuk berperan apapun dengan ketulusan dan keikhlasan. Ya Allah terimalah amal sederhana kami dengan rahmat, ridha dan barakah dari sisi-Mu.

 

POS PENDAKIAN KESABARAN

Jumat, 2 September 2016. Setelah mendapatkan curahan materi inspiratif dari seorang instruktur perkemahan yang sudah malang melintang di berbagai belahan dunia dan pengalaman kehidupan tentang wawasan nasional dan global, seluruh relawan disiagakan untuk istirahat sejenak sembari berjaga dengan menghidupkan malam serta bersiaga menyahut panggilan tugas menembus hutan di tengah malam.

Jam 02.00 dinihari pasukan dibangunkan dengan raungan sirine dari lelap istirahat sejenak untuk berbaris dan bergerak melalukan pendakian awal. Tema besar adalah kesabaran. Dalam kegelapan hanya dengan membawa senter, mantel ponco, matras alas tidur, korek api, jaket atau sleeping bag, pisau survival, dan garam. para relawan menapaki setapak pendakian di lereng merbabu yang licin oleh air hujan dengan penuh kesabaran. Dengan selalu menyebut asma Allah kami melangkah agar dikuatkan pijakan kaki di saat kantuk menyerang dan tidak terhuyung jatuh ke dalam jurang.

Dua orang relawan dengan tiga kaki alias kruk bergerak mantap tanpa keluhan. Perjalanan ini mengingatkan kita pada sebuah perjalanan hijrah Nabi di malam gelap dalam ancaman sergapan musuh.Fakku roqobah, ayat yang diterjemahkan pada diri Abu Bakar seorang sahabat Nabi yang rela menapaki jalan mendaki lagi sukar.

Sungguh memoar ini mencatatkan banyak sekali makna bagi para relawan yang telah mengikatkan hatinya dalam berkhidmat untuk rakyat. Ada makna berat namun nikmat, sebab seberat apapun pendakian akan terasa nikmat jika ridha Allah yang menjadi tujuan. Allahu ghayatuna.

Ada makna kesabaran dalam ketaatan, sabar menjauhi maksiat hati,lisan, dan pikiran, sabar dalam menerima musibah sehingga masih ada ruang peduli pada sesama mengikis egois dari kamus kehidupannya. Minuman yang sebotol untuk bersama sebagai bukti mendahulukan sahabatnya. Berhenti sejenak agar tetap kompak dan tak terpisahkan barisan adalah cara mewujudkan ukhuwah.

Ada nikmat kantuk yang Allah berikan dalam tetesan air hujan dan sergapan rasa dingin saat kaki dilangkahkan ditambahkan tiupan angin yang menerpakan kantuk tak tertahankan. Sehingga kepada Allah pijakan kaki ini dimohonkan agar dikuatkan. Ya Hayyu Ya Qayyuum itulah doa-doa yang dilantunkan.

Jelang shubuh sampai di pos pertama untuk menanti saat adzan dikumandangkan dari penjuru kampung di pinggiran hutan. Para relawan membelah gelap malam lantunan Qur’an dan mendirikan shalat malam. Suara kokok ayam begitu nyaring terdengar seindah nasihat Luqmanul Hakim, “Wahai anakku, janganlah kamu menjadi lebih lemah dari seekor ayam jantan, karena ia telah berkokok pada waktu pagi hari sedangkan kamu pada waktu itu masih terbaring di atas tempat tidurmu.”

Hingga pagi terang benderang ujian bagi relawan semakin gamblang yakni kesabaran dan ketabahan untuk benar-benar ribath (berjaga-jaga) dalam setiap situasi dan kondisi. Karena sudah dikunci oleh Danramil untuk tidak mengeluh maka waktu usai shubuh digunakan untuk mengisi ruh dengan bacaan Qur’an dan mencari makan apa yang bisa dimakan di sekitar tempat berteduh. Tanpa makanan dan hanya sedikit bekal air minum yang pas-pasan sebagai relawan harus pintar mengisi waktu agar tidak jenuh dan bosan. Karena solo survival, maka setiap relawan mesti mandiri dan tetap berpikir positif.

Saat itulah kami menemukan inspirasi bahwa menjadi relawan benar-benar harus melepaskan semua pikiran buruk. Tiada makanan menjadi keberuntungan dan kegembiraan agar tidak banyak buang air besar. Darimana mau membuang atau mengeluarkan karena nggak ada yang dimasukkan, dan itu disyukuri sebagai anugerah agar berbahagia. Taka da minuman berarti agar tidak sering buang air kecil sehingga bisa tetap focus dan konsentrasi. Tak ada sarana komunikasi berupa handphone disyukuri agar ketika telah merelakan hati di jalan ini mesti harus berkonsentrasi. Bahkan ketika kemah bakti tidak ada ada acara game beraneka ragam menyadari bahwa inilah saat berbakti untuk negeri bukan lagi untuk bermain-main. Inilah kemah yang sesungguhnya. Inilah potret kehidupan yang sesungguhnya.

Menjadi relawan berarti harus benar-benar ridha, bukan sekadar rela. Ridha dengan ketentuan Allah dan berpikir kreatif untuk menemukan jalan dan menghadirkan solusi. Sehingga yang dipikirkan adalah memberikan yang terbaik.

 

POS KEDUA MENULISKAN AMAL UNGGULAN

Hari Sabtu, 3 September 2016. Di Pos kedua adalah pos yang benar-benar menjadi ujian kehidupan relawan. Tidur di seberang jalan pinggiran hutan yang sewaktu-waktu ada yang melintas. Daripada terlintas keburukan, maka saat menempati pos dua dengan waktu yang tidak jelas sampai kapan saat itulah saat tepat untuk mendesain amal unggulan. Para relawan mulai mengisi waktunya dengan lantunan quran sehingga ada yang hendak menuntaskan sampai lima juz Al-Qur’an. Meski tidak harus laporan namun amal harus terus ditunaikan karena kematian mempunyai tiga sifat. Mati itu pasti maka kita harus bersiap diri. Mati itu ghaib maka jangan pernah bermain kemaksiatan. Mati itu tiba-tiba sehingga kapanpun datangnya sambutlah dengan amal mulia.

Di pos dua mesti bertahan hidup mencari makan apa yang bisa dimakan. Alhamdulillah seorang relawan menemukan buah seperti bunga yang kecil meski sepet rasanya namun tetap penting untuk bertahan hidup. Ada yang mencicipi bonggol rumput gajah dan nikmat. Bila bonggol bamboo alias rebung saja nikmat maka bonggol rumput gajah tak kalah nikmat. Ini menjadi inspirasi untuk membuat industry kreatif kuliner dari rumput gajah.

Prinsip penting di pos dua agar bisa bertahan hidup adalah kreatif yakni kere tapi aktif, atau berprestasi di tengah keterbatasan adalah sebuah kepahlawanan dalam bentuk yang lain. Relawan hidup sebagai panggilan jiwa sehingga kapanpun tugas memanggilnya dirinya senantiasa siaga. Lagunya dilantunkan oleh Ustadz Hakim, Sunnah Berjuang.

Berjuang menempah susah
Menanggung derita menongkah fitnah
Itulah gelombang hidup samudera duka
Seorang mujahid membela tauhid

Dipisah dia berkelana
Dibelenggu dia uzlah menagih mihnah
Namun jiwa tetap mara memburu cinta
Membara demi Allah dan rasulNya

Berjuang tak pernah senang
Ombak derita tiada henti 
Tenang resah silih berganti
Inilah sunnah orang berjuang

 

Malamnya bagai rahib merintis sayu
Dihiris dosa air mata
Siangnya bagaikan singa dirimba
Memerah keringat mencurah tenaga

Berjuang memang pahit
Kerana syurga itu manis
Bukan sedikit mahar yang perlu dibayar
Bukan sedikit pedih yang ditagih

Berjuang ertinya terkorban
Rela terhina kerna kebenaran
Antara dua jadi pilihan
Dunia yang fana...atau syurga

 

POS KETIGA BADAI DI TENGAH HUJAN

Berjalan di deras hujan

melangkah di terik mentari

Berulang terhenti

berhenti menoleh untuk cinta


Menerjang penuh luka

jalan-jalan berduri

Tak perduli lagi

setelah menoleh untuk cinta

Seperti lagunya SAS, Episode Jingga. Barangkali ini wujud nyata setiap relawan, berjalan di deras hujan itu yang paling berat. Untuk tetap teguh dan kukuh di jalan yang penuh onak duri mesti menyiapkan diri ketegaran dalam iman. Tidak cengeng karena lambaian cinta, meski harus diyakinkan juga : pergi karena kerja (di jalan Allah), dan pulang karena cinta. Sebab relawan bukanlah pencari bayaran namun mereka adalah pencari ganjaran. Nggak usah ragu meski “pulang malu, nggak pulang rindu.” Begitulah dunia relawan sejati, bakti kami adalah bukti kami.

Sabtu, 3 September 2016, jelang maghrib harus berjalan dan terus berjalan. Sampailah di pos ketiga. Pos pertahanan. Pos yang memungkinkan adanya sumber-sumber makanan sebelum adanya sumber air kehidupan. Di pos ini setiap relawan layaknya para pejuang harus survive yakni mencari makanan yang bisa dimakan untuk bekal dan pertahanan hidup. Mereka bergerak di semak-semak mencari makanan.

Alhamdulillah kami mendapatkan jagung lima buah, ketela lima buah, dan wortel enam buah. Untuk menegakkan punggung yang mulai terhuyung, makanan tersebut disantap seadanya dalam keadaan mentah dan nikmat sekali rasanya mengalahkan rasa di restoran termahal. Mengapa? Karena lapar. Teringat sebuah nasihat, “Makanlah di saat kamu lapar dan berhentilah sebelum kenyang.” Karena tidak kenyang maka nikmatnya begitu terasa. Alhamdulillah Ya Allah.

Untuk persediaan Alhamdulillah mendapatkan kembali 7 jagung untuk konsumsi makan malam jelang pagi agar bisa terus bertahan sampai esok. Seperti Nabi yang makanan hari itu dimakan untuk hari itu. Beliau tidak pernah menyimpan makanan berhari-hari karena keimanan dan ketawakalan beliau agar janji dari Allah. Allah yang memberi rezeki, bukan jabatannya, karirnya atau atasannya. Inilah tauhid rububiyah bagi relawan agar yakin akan jaminan rezeki dari Allah.

Usai shalat maghrib terjadilah hujan deras yang benar-benar deras sehingga harus bertahan dalam bivak agar bisa bernafas. Hujan tidak segera reda dan untuk menembus pos berikutnya tidak memungkinkan karena kabut yang pekat maka relawan memutar jalan untuk mencari kehidupan dan melanjutkan perjalanan.

Inilah ujian yang besar. Semangat mencari jalan keluar kadang menuai ketersesatan jalan. Semangat boleh dan ketelitian serta kecermatan adalah keniscayaan. Karena tersesat jalan maka harus memutar haluan. Inilah hikmah kehidupan. Rela mengakui kesalahan dan memperbaiki arah agar selamat.

Dalam gelap cahaya sekecil apapun sangat berharga. Melangkah itu penting namun melihat cahaya itu jauh lebih penting agar tidak salah langkah. Banyak pelajaran penting di sini yakni menahan diri untuk tidak mengeluh. Tidak menyalahkan yang sudah melangkah. Tidak menyalahkan yang didepan. Tidak menyalahkan cahaya. Tidak terlalu menyalahkan diri. Namun terus menata kembali langkah agar Allah menyelamatkan.

Alhamdulillah setelah berbagai rute dan episode dijalani, ada banyak kenikmatan yang penting untuk disyukuri. Banyak hati yang begitu bersandar kepada Allah Rabbul ‘Izzati sehingga Allah kokohkan pijakan kaki. Menjadi relawan bukan sekadar kuatnya fisik, banyaknya materi, pintarnya akal, namun kebersihan hati yang harus dimiliki.

Saudara, perkemahan inilah sebuah tarbiyah yang tidak tergantikan. Inilah sebuah pelajaran kehidupan yang sesungguhnya. Ini bukan permainan karena resikonya adalah kematian. Inilah jalan kami.

Terimakasih atas kebersamaan dalam Kemah Bakti Nusantara di Sobleman baik kepada anggota regu maupun seluruh relawan. Mohon maaf atas segala kekhilafan dan kekurangan dalam tulisan ini. Mari terus saling menguatkan dan mendoakan agar Allah kuatkan kita dalam mewakafkan hidup kita di jalan-Nya. 

]]>
http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2780/Sarana-Pendidikan-Yang-Tak-Tergantikan
BERQURBAN, BERBAGI NIKMAT http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2759/BERQURBAN-BERBAGI-NIKMAT Wed, 24 Aug 2016 16:54:29 +0700 Artikel Oleh Ibalh Marilah sejenak kita memotret perjalanan Nabi Ibrahim 'alaihis salam. Sosok yang melakukan pengorbanan dengan rasa tulus dan taat demi perintah… Oleh Ibalh

Marilah sejenak kita memotret perjalanan Nabi Ibrahim 'alaihis salam. Sosok yang melakukan pengorbanan dengan rasa tulus dan taat demi perintah Tuhan-Nya. Saat belum tertumpah seluruh rasa rindu terhadap putra yang dicintai, Nabi Ibrahim diperintahkan Allah untuk mengorbankan putranya itu.

Sedikit kita menoleh ke belakang, Nabi Ibrahim As diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih putranya, Ismail As, tiba-tiba datanglah iblis yang meminta Ibrahim agar mengurungkan niatnya. Ibrahim mengetahui bahwa upaya yang dilakukan iblis itu bertujuan agar dirinya tergoda dan tidak menaati perintah Allah SWT.

Lantas Ibrahim mengambil tujuh buah batu dan melemparkannya kepada iblis. Inilah yang dinamakan Jumrah Ula (pertama). Tidak berhasil menggoda Ibrahim, iblis dalam wujud aslinya lantas membujuk Siti Hajar agar segera melarang Ibrahim yang bermaksud menyembelih putranya tersayang, Nabi Ismail.

Namun Siti Hajar juga menolak dan melemparinya dengan batu ke arah iblis. Lokasi ini sekarang merupakan tempat melontar Jumrah Wustha (pertengahan). Iblis beralih menggoda Nabi Ismail As yang dianggap masih rapuh keimanannya. 

Namun sebaliknya, justru dari awal Ismail memiliki pendirian yang teguh dan meyakini bahwa perintah (penyembelihan dirinya) itu langsung dari Allah SWT. Maka, Ismail pun mengambil batu dan melemparkannya pada iblis. Inilah yang dimaksud dengan Jumrah Aqabah.

Pengorbanan sekaligus Kisah nabi ibrahim as telah memberikan pelajaran berharga untuk kita semua. Adapun beberapa pelajaran berharga yang dapat kita petik.

Pertama,

Jika Hari Raya Idul Fitri merupakan suatu manifestasi dari rasa gembira setelah sebulan penuh menjalani latihan pengendalian diri dan perang melawan hawa nafsu. Sedangkan Hari Raya Idul Adha adalah wujud dari keimanan dan ketakwaan serta kepatuhan terhadap Sang Khaliq, Allah SWT.

Kedua,

Memperlihatkan ketaatan seorang hamba yang sempurna kepada Allah Yang Maha Agung. Makna hakiki dari ibadah kurban yang diwajibkan kepada seorang muslim yang memiliki kemampuan adalah ‘kerelaan berkurban’ sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim As, Nabi Ismail As dan Siti Hajar.

Ketiga,  

Menunaikan kewajiban bersyukur kepada Allah SWT, berupa nikmat tebusan. Di mana Allah SWT sudah menjadikan orang yang menyembelih binatang ternak termasuk orang yang bersedekah dari nikmat-Nya, bukan termasuk orang-orang fakir yang berhak menerima sodaqah. Dan tidak diragukan lagi ini merupakan nikmat yang besar. Seperti yang ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya yang artinya:

“Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang begitu banyak. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan sembelihlah kurban. Sesungguhnya orang yang membencimulah yang terputus.” (QS Al-Kautsar : 1-3).

Keempat,

Ibadah kurban juga akan menimbulkan kesadaran dalam pengorbanan materi, kesadaran akan pentingnya kesetiakawanan sosial sebagai upaya menumbuhkan integritas sosial masyarakat.

Kelima,  

Makna yang tersirat dalam berkurban itu ialah berkurban (berinfak fi sabilillah) yaitu berinfak di jalan Allah SWT, seperti menolong fakir miskin, anak yatim, membantu orang yang sedang ditimpa musibah dan lain sebagainya.

]]>
http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2759/BERQURBAN-BERBAGI-NIKMAT
Memuliakan Nusantara http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2756/Memuliakan-Nusantara Sat, 20 Aug 2016 09:16:27 +0700 Artikel Oleh Eko Jun Bagian bumi mana yang paling dicintai Allah. Tanpa ragu, kita semua akan menjawab “Makkah”. Dalilnya mudah saja, yakni… Oleh Eko Jun

Bagian bumi mana yang paling dicintai Allah. Tanpa ragu, kita semua akan menjawab “Makkah”. Dalilnya mudah saja, yakni ucapan rasulullah saw saat hijrah ke Madinah. Saat sampai dibatas kota Makkah, beliau menoleh ke belakang sambil berkata “Sungguh aku tahu bahwa engkau adalah bagian bumi yang paling dicintai Allah. Jika bukan karena kaumku mengusirku, niscaya aku tidak akan pernah meninggalkanmu”.

Pertanyaannya, bagaimana caranya agar bagian bumi yang lain (termasuk Indonesia) juga bisa menjadi bumi yang juga dicintai Allah? Mungkin paparan berikut ini bisa menjadi jawabannya, yakni :

Pertama, Memuliakan Penduduknya

Faktor penduduk disuatu daerah bisa menjadi sebab datangnya cinta Allah. Jika Allah cinta, maka guyuran nikmat dan keberkahan akan dicurahkan baik dari langit, bumi dan lautnya. Sebaliknya jika Allah benci, maka azab dan bencana akan datang dari darat, laut dan udara. Allah ta’ala berfirman “Walau anna ahlal quraa aamanuu wattaqau, lafatahnaa ‘alaihim barakaatim minas sama-i wal ardhi, walaakin kadzdzabuu fa akhadznaahum bimaa kaanuu yaksibuun”.

Jika penduduk suatu daerah melaksanakan kewajiban agamanya dengan baik serta berhias dengan akhlak yang mulia, niscaya bisa mendatangkan kecintaan Allah. Bukankah dalam banyak ayat, Allah ta’ala menyebutkan sifat - sifat tertentu yang mendatangkan kecintaan dan pembelaan dari-Nya. Misalnya, Allah bersama dengan orang yang sabar, Allah cinta orang yang berbuat baik, Allah cinta orang yang bertaubat dan membersihkan diri dst. Berhias dengan akhlak - akhlak tersebut bisa menjadi sebab tercurahnya cinta Allah. Namun jika penduduk suatu negeri menyandang sifat - sifat yang buruk, maka bisa menjadi sebab dicabutnya nikmat dan keberkahan.

Tugas para pemimpin dan pelaku perbaikan adalah membawa penduduknya agar memiliki sifat mulia. Bisa dengan memberikan contoh keteladanan, bisa dengan dakwah dan ilmu, bisa dengan membuat peraturan tertentu, bisa dengan memberikan insentif dan hukuman. Segala cara bisa dilakukan, baik dengan rekayasa kultural maupun rekayasa struktural. Disini kapasitas seorang pemimpin dan penyeru perbaikan diuji, agar proses kultural dan struktural bisa berjalan seiring sejalan. Proses kembalinya jilbab dan simbol - simbol agama ke ranah publik di Turki bisa menjadi success story yang layak diduplikasi ditempat lain.

Dalam sejarah, kita tahu bahwa diantara prestasi besar yang dicapai oleh Khalifah Umar bin Abdul Azis adalah mampu mengubah isi pembicaraan penduduknya. Obrolan yang ringan, lepas dan alami adalah parameter yang shahih untuk mendeteksi akhlak dan pola pikir seseorang, tanpa rekayasa. Jika hal ini mau direkonstruksi, mungkin menjadi tugas kita untuk mengubah percakapan dimedia sosial dengan status yang bermutu, berkelas dan bercitarasa tinggi. Bukan sekedar update status makan ini, pakai baju itu, tamasya kemana dll.

Kedua, Memuliakan Tempatnya

Apa tempat yang paling kita cintai, ingin kita kunjungi dan selalu ada dalam kenangan apabila berada disuatu negeri? Jawabannya bisa beragam, mungkin tempat wisata, tempat belanja, tempat bermain, tempat hiburan dll. Ternyata rasulullah saw mengabarkan “Ahabbul bilaadi ilallah, masajiduhaa. Wabghadhul bilaadi ilallaah, aswaaquhaa”. Betul, Allah cinta masjid dan benci pasar. Para dai biasanya senang “mengkonfrontasikan” antara masjid dan pasar, khususnya diakhir ramadhan. Karena masjidnya jadi sepi dan sebagian jamaahnya berganti memakmurkan pasar. 

Masjid adalah tempat dimana seorang hamba beribadah, berdzikir, menimba ilmu, membicarakan urusan umat dll. Pendek kata, masjid adalah tempat dimana semua kemuliaan itu berasal, karena masjid menjadi tempat yang menautkan hati dan menghubungkan bumi dengan langit. Sebaliknya, pasar seringkali menjadi tempat yang melalaikan, berlomba mencari dunia, tempatnya makar dan tipu daya. Seringkali, pasar menjadi simbol yang membelah masyarakat berdasarkan ukuran keduniaan dan menjauhkan hati satu sama lainnya.

Secara harfiah, salah satu cara mengundang cinta Allah kepada sebuah negeri adalah dengan banyak mendirikan masjid sekaligus memakmurkannya. Namun, sebagian fungsi strategis masjid sebenarnya juga bisa kita lakukan diluar masjid. Misalnya, berbagi ilmu, hikmah dan nasihat. Selain dilakukan dengan majelis taklim dimasjid, bisapula dengan tabligh akbar dilapangan dan bahkan bisa pula dengan status dimedia sosial. Panggilan sholat memang dilakukan dengan adzan, tapi bisa kita kuatkan pula dengan status difacebook, group whatsapp dll. Pendek kata, semakin tersebar peran dan fungsi masjid diberbagai lini kehidupan sosial, maka dengan sendirinya tercipta masyarakat sosial berbasis masjid. 

Jelang kiamat, pasar dan masjid masih terus berlomba. Pasar semakin berdekatan dan bangunan masjid semakin mewah. Dan kedua fenomena itu sungguh terhampar nyata dihadapan kita. Pilihannya ada ditangan kita, tentang tempat mana yang akan kita muliakan dan makmurkan. Serta mana syiar yang akan kita sebarkan dan pancarluaskan keranah publik, apakah status nasehat atau malah status jualan.

Khatimah

Tempat dengan penduduk itu saling mempengaruhi satu sama lain. Karena Allah cinta dengan Makkah, maka Allah perintahkan Ibrahim mengirim Ismail kesana sejak kecil. Demikian pula karena ada Nabi Muhammad saw, kaum muhajirin dan kaum anshar didalamnya, maka kota Madinah diberkati dan dimuliakan.

Banyak sudah negeri ini melahirkan orang - orang shaleh. Ada yang menjadi ulama, pejuang, negarawan dll. Mungkin kita perlu sedikit merenung, sebagai apa kita harus berperan secara optimal agar negeri ini bisa mulia. Baik dalam pandangan manusia, terlebih disisi Allah.

]]>
http://pksjateng.or.id/rss/index.php/read/news/detail/2756/Memuliakan-Nusantara